Friday, July 29, 2016

Palu: Pasha, Kaledo, Sampah dan Panas

Ceritanya saya mengunjungi Palu Sulawesi Tengah untuk mengunjungi ponakan yang menikah di sekitaran pasar inpres jalan Jamur. Tiga puluh menit dari bandara Mutiara Sis Aljufri.

Setelah menginap dua hari ada hal yang selalu disebut-sebut masyarakat setempat baik di rumah atau diruang publik. Jika ada survei mungkin beberapa hal ini modusnya sering muncul: Kaledo, Pasha, sampah dan Panas.

Kaledo selalu disebut masyarakat sebagai makanan atau kuliner andalan masyarakat. Katanya, saya bilang katanya karena belum sempat menyicip makanan dari tulang sapi itu saya harus pulang. Gagal makan Kaledo. Terbuat dari bahan tulang, rempah-rempah dan yang paling utama adalah merasakan mengisap sumsum tulang sapi. Tak usah dilanjutkan nanti bikin iler.

Pasha. Orang di luar Palu saja tahu lebih-lebih masyarakat Palu. Sejak Pasha diangkat menjadi pejabat publik sebagai wakil walikota namanya tidak habis diperbincangkan termasuk kelakuan plus minusnya. Yang saya tahu Dia tinggal di citraland Palu. Itu saja. Belum ada informasi karya nyatanya. Karyanya belum sebagus suaranya. sedikit dimaklumi Dia hanya seorang wakil walikota. hanya sedikit power yang dimiliki

Sampah. Jamak di Indonesia, sampah menjadi persoalan besar. Di Palu sampah hampir memenuhi got, jalan dan fasilitas umum lainnya. Kayaknya sampah menjadi pekerjaan besar pemerintah Palu.
Panas. Palu memang panas terutama di kota. Dan memang panas. Saya sudah merasakannya. Bisa jadi karena kota Palu terletak di daerah pesisir atau mungkin karena sudah masuk musim kemarau. Entahlah.

Satu yang pasti kota Palu relatif aman dan bersahabat.

***
Dua hari bagi saya belum bisa menggambarkan seutuhnya pengalaman saya di Palu. Namanya pengalaman selalu bersifat subyektif. Dan subyektif selalu ada patahan
Share:

Saturday, July 9, 2016

Iwoi Mokula yang Memesona

Konawe daratan tidak hanya kaya sumber daya alam namun juga memiliki potensi wisata yang besar. ini terlihat dari beberapa obyek wisata yang dimiliki. Jika kita bergeser ke utara akan kita jumpai pemandangan yang menakjubkan. Beragam tempat wisata yang bisa menyegarkan kita akan kita jumpai seperti pulau Labengki, pantai Taipa, pemandian air panas dan beragam destinasi yang indah lainnya. 

Dan dikesempatan ini saya dan keluarga mengisi libur lebaran mengunjungi salah satu spot yang terkenal di Konawe Utara yaitu pemandian air panas Wawolesea yang nama lain disebut juga Iwoi Mokula yang kalau tidak salah berarti air panas. Lokasinya tidak jauh dari perkampungan masyarakat Bajo di Kecamatan Lasolo. 

Jarak tempuh dari kota Kendari kurang lebih 80 kilometer. dibutuhkan waktu 1,5-2 jam menggunakan kendaraan untuk sampai disini. Sebagian jalan menuju Konawe Utara masih dalam pengerasahan hanya sebagian sudah beraspal. Secara umum fasilitas jalan sudah memadai.

Gampang untuk mengetahui letak lokasi ini, tidak jauh dari kampung Bajo sekitar 500 meter akan nampak gerbang/gapura disebelah kanan bertulis Iwoi Mokula. Memasuki gerbang akan ada portal yang dijaga beberapa petugas karcis. biaya masuk di hari-hari tertentu sebesar Rp20.000/mobil. Sebelum hari raya atau hari libur (pengalaman saya) malah tidak bayar alias gratis dan tentu sepi pengunjung. namun di hari-hari libur akan sesak dengan pengunjung.

Catatan kritis untuk Iwoi Mokula. Belum ada perhatian khusus dari pemerintah daerah. Seyogyanya pemerintah daerah memberi perhatian dengan menambah sarana dan prasarana untuk menambah PAD di sektor pariwisata.

Syahda, tak banyak kata-kata yang bisa saya gambarkan Iwoi Mokula. Foto-foto ini mungkin mewakili.  

Terasering air panas


Lokasi pemandian dikelilingi pohon Pinus semakin mempercantik suasana

Airnya tampak kebiruan tapi awas airnya hangat



Foto: dokumentasi pribadi, 2016 

Share: