Friday, March 18, 2016

Terbitnya Jurnal Internasional Kami

Pembelajar yang terkeren. Saya ingin membagikan kebahagiaan. Kebahagiaan bolehlah dikatakan begitu karena jurnal internasional (walau masih ber-ISSN) namun sudah cukup bagi saya untuk berkata, HEBAT!. Jurnal internasional saya terbit di CISBUCS yang diterbitkan oleh FEB Fakultas Ekonomi Trisakti. Jurnal elektronik tersebut diketuai oleh Professor Tulus Tambunan. PhD (Bagi mahasiswa Ekonomi kualat jika tidak pernah membaca buku dan artikel beliau).

Dus, jurnal yang terbit itu saya tulis bersama kolega saya Ibu Ririn Syahriani--tidak ada hubungan keluarga dengan Princess Syahrini (anda sudah tahu maksud saya). tidak usah babibu langsung saja arahkan ke laptop dan nikmati jurnal kami. selamat membaca.

***



Abstract

Management of waste into alternative energy that blends environmental capital and social capital has conducted by Independent Community Energy Landfill (TPA) Puwatu District Kendari South East Sulawesi. In this community, waste can be managed properly because the cooperation between by local Government and community and mutual trust among the members.

The qualitative methods through case study approach this study is done that explore the data with study of literature/libraries, in-depth interviews, and focus group discussion (FGD) in TPA as partners in waste management activities into energy alternative.

The result shows that waste management into alternative energy has run well because of the structure is supported by good relation between government as facilitator and the members of community. Social capitals such as personal interaction, trust and powerful networking in this community make the program of waste management sustainable that producing methane brings benefit to community as expected, and has become a pilot project.

As recommendation, it is important to maintain the sustainability of waste management. Since the program leads to also maintaining social capitals of community;  increasing skill of life, increasing leadership capability, finance skill and networking. Therefore the establishment of independent energy can be reached and continued as the way of people empowerment. Here the government should support by making regulation which assure its sustainability without influenced by leaders changing.

Key words: social capital, landfill community, alternative energy

JEL codes: L44, L50, Q2
Share:

Thursday, March 10, 2016

Seni Berkuasa


Salah satu hal yang selalu menjadi perhatian masyarakat kita akhir-akhir ini adalah politik (baca:kekuasaan). sepanjang waktu istilah ini selalu melekat; tidak di rumah, di kampus, di warung kopi hingga ke lapak-lapak pasar. jika kita lebih intens mendengarkan pembicaraan orang-orang di tempat-tempat itu akan terasa perbicangan tidak jauh dari politik/kekuasaan. memilih siapa? Si Anu tidak punya kemampuan menjadi walikota, Si B hanya bermodal retorika, Si C aji mumpung karena bapaknya berkuasa. Selanjutnya Si D dan selanjutnya Si E, seterusnya dan seterusnya.

Kekuasaan memang tabiat manusia. karena manusia punya kehendak untuk berkuasa, will to power demikian Nietzsche pernah berkata. saking inginnya terus berkuasa manusia mencari cara untuk mempertahankannya bagaimana pun itu. 

Mempertahankan kekuasaan bukanlah hal baru dari manusia. sejak manusia lahir dan perjalanannya bertahan hingga ribuan tahun perebutan kekuasaan selalu mewarnai perjalanan sejarahnya. perjalanan sejarah kemudian silih berganti merebut tahta dan kekuasaan. selalu sampai kapan

Apakah kekuasaan semata-mata hanya mepertahankan diri atau menghilangkan yang lain? Saya pikir tidak. mari kita tengok masa lalu sebagai pelajaran. saya ingin mengutip kepemipinan raja Persia pertama Koresy Yang Agung yang dikagumi sebagai pejuang pertama hak asasi manusia. saya membaca kisahnya di majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008. 

Koresy yang Agung bukanlah satu-satunya penguasa yang menerapkan prinsip kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW sudah menerapkan pemerintahan yang berprikemanusiaan. kisah Piagam Madinah adalah salah satu contohnya. juga para nabi lainnya yang selalu menuntun kearah kebajikan. dan di abad modern ini sudah ada-sedikit-contoh pemimpin/penguasa yang menerapkan prinspi profetisme dalam memerintah.

Menjadi penguasa (baca: pemerintah) adalah seni merawat jiwa. Trias Kuncahyono dalam kolomnya di Kompas Minggu 21 Februari 2016 dengan menyitir Plato menjelaskan kepada kita bahwa politik/kekuasaan adalah seni merawat jiwa yang berkomitmen pada nilai-nilai kebajikan. 

Kenyataan bahwa arah politik/kekuasaan dewasa ini justru selalu menjauh dari nilai-nilai kebajikan. seolah-seolah dibawa kepada kehancuran nilai-nilai. bukan sebuah seni. jadinya, politik KKN, korupsi dan saling curiga merebak dalam hidup kita. 

Saya mengutip Firdausi, penyair Iran yang menulis Babad Shah-namah (kisah raja-raja) yang dikutip dalam majalah National Geographic tahun 2008 bahwa:

yang paling pantas memerintah/berkuasa adalah orang yang paling enggan memerintah/berkuasa yang lebih memilih mencurahkan waktunya untuk masalah utama manusia, yaitu khidmat kebijaksanaan, takdir jiwa manusia, dan kemisteriusan kehendak Tuhan. 
Demikianlah, kita akan berkuasa, entah dalam skala apa. Tapi kita mau jadi penguasa atau memerintah seperti apa? Itu adalah pilihan. 
Share:

Tuesday, March 1, 2016

Cahaya Terang dari Pedalaman Kalimantan


INI adalah kisah nyata yang diceritakan beberapa hari lalu oleh pengajar bahasa Inggris saya di kampus-Ibu Pamela demikian Dia disapa. Saya menceritakan ulang kisahnya tanpa memberitahunya lebih dahulu (semoga diijinkan Bu Pam). Ibu Pam menceritakan seseorang yang berasal dari keluarga tidak mampu di pedalaman Kalimantan namun lambat tapi pasti dengan ketekunan dan kecerdasannya orang itu mencapai keberhasilan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. From zero to hero. Ungkapan ini saya pikir cocok untuk menggambarkan perjuangan anak itu. 

Sengaja saya menceritakan ini kembali agar menjadi penyemangat bagi diri saya dan mungkin orang lain yang membaca kisah ini untuk tidak pernah berhenti atau patah semangat untuk terus berusaha menjadi berarti. Seperti kisah Alif dan kawan-kawannya dalam novel 5 Menara karya Anwar Fuadi. manteranya adalah Man jadda wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil.

***
Siapa yang mengira bahwa seorang bocah kecil dari Kalimantan dapat menjadi orang penting dalam pendidikan?. 

Di masa yang lalu seorang bocah kecil hidup di muara sungai Kalimantan. Sungai itu selalu meluap setiap hujan datang dan rumahnya selalu kebanjiran sehingga bocah kecil beserta keluarganya itu memutuskan untuk pindah ke pedalaman Kalimantan yang jauh dari hulu sungai.

Bocah yang malang itu sedih menginggalkan hulu sungai panjang itu. Namun dibalik kesedihan itu Dia juga senang karena disitulah kesempatannya untuk bersekolah. Maklum di tempat tinggalnya dahulu, di muara sungai sekolah menjadi barang langka.

Di masa-masa sekolah itu ia selalu belajar giat dan di tahun ke-4 bersekolah, Dia mendapatkan nilai excellent. Kita sudah mahfum bahwa predikat ‘excellent’ dapat dikategorikan anak cerdas. akhirnya beasiswa pun dalam genggamannya. Tapi ada ganjalan di depan mata karena di kampungnya tidak tersedia sekolah untuk kelas 4 SD ke atas.

Keinginannya untuk terus di bangku sekolah meluluhkan hati orang tuanya. Dia kemudian dikirim bersekolah ke kampung sebelah dan tinggal bersama sanak saudara orang tuanya. Tugasnya di rumah baru itu adalah membersihkan rumah sembari fokus melanjutkan sekolah. Di saat itu dia masih berumur 9 tahun. masih sangat belia. bekerja sambil bersekolah. berbeda dengan anak kebanyakan yang hanya fokus pada sekolah. bukan bekerja 

Orang dewasa merantau dan jauh dari orang tua itu sudah biasa. namun untuk ukuran bocah 9 tahun yang harus hidup di perantauan itu luar biasa. dan itulah yang dirasakan bocah itu. Ibu Pam mengisahkan kehidupan bocah itu dengan penuh keprihatinan. dan suasana kelas pun syahdu.

Setamat SD masalah kembali datang. Di kampung keluarga orang tuanya itu tidak tersedia sekolah SMP dan sederajat. sehingga bocah itu harus pindah lagi ke kampung selanjutnya. dan di saat itu Dia sudah berumur 12 tahun. 

Di masa-masa itu si bocah membagi waktu antara sekolah dan bekerja di rumah juga menjaga bayi dari keluarga orang tuanya. Di masa-masa sulit itu Dan masih mampu meraih prestasi yang sempurna tetap rangking di kelas. Dan memasuki bangku SMA, anda sudah bisa menebaknya. Lagi, bocah itu meraih kembali predikat excellent. luar biasa bagi orang yang kekurangan dan kesibukannya bekerja di rumah orang.

(kisah ini banyak kita jumpai di berbagai tempat di Indonesia. dalam kemiskinannya seseorang meraih kesuksesan dalam pendidikan).

**

Dia bukan lagi anak kecil. beranjak menuju dewasa membuatnya terus mempertahankan hidup dan bersekolah di kota. bersekolah di universitas membuatnya harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. kebanyakan mahasiswa yang membagi waktu antara bekerja dan kuliah rata-rata nilainya kurang memuaskan. namun lain dengan bocah (kini beranjak dewasa) itu. kemampuannya membagi waktu membuatnya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan akhirnya meraih beasiswa. setamat kuliah keinginannya menjadi guru di kampungnya di Kalimantan sangatlah besar namun fasilitas kurang mendukung. akhirnya untuk meningkatkan kapasitasnya Dia dikirim ke Jakarta untuk memperdalam ilmu pedagogic. ilmu mengajar.

Kuliah di kota besar sudah pasti mahal, beasiswa kadang tidak mencukupi. jadi anak muda dari Kalimantan itu harus memutar otak untuk membiayai kuliahnya. dari pekerjaan sambilannya ia menabung kemudian membeli sepeda. pekerjaanya adalah menjajakan pakaian di saat libur, yaitu di hari Minggu. Ia menjual pakaian dengan cara kontan. namun biasanya banyak pelanggan yang minta kredit. dan tetap bisa bertahan di kota besar. 

Akhir masa pelatihan guru di Jakarta. Ia mengambil sikap untuk kembali mengabdikan diri sebagai guru di kampung halamannya di Kalimantan. lambat tapi pasti dengan ketekunan dan dedikasinya Dia kemudian menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan.

Waktu berjalan. Berkat kesabaran, ketekunan dan juga dedikasinya pada dunia pendidikan yang mengantarkannya kepada puncak karir. Dia dikirim ke Australia menjadi atase di bidang Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia kedutaan RI.

Ibu Pam. bertemu sosok pejuang yang rendah hati itu di Canberra Australia. kisah hidupnya memang sangat inspiratif. Dia adalah cahaya terang dari pedalam Kalimantan

***

Bagi yang hidup di pelosok, di kampung-kampung bahkan di pedalaman yang tak terjangkau listrik. jangan menyerah akan hidup. bersungguh-sungguh dalam bersekolah itu baik dan akan membuka jalan karir kita ke depan. Bagi saya orang miskin obatnya adalah pendidikan. mereka harus disekolahkan untuk merubah hidup. kisah yang diceritakan Ibu Pam adalah salah satu contoh nyata.

Oh iya, hampir lupa. seseorang yang dikisahkan dalam cerita itu adalah sahabat Ibu Pam sendiri. Bocah yang kini menjadi orang berhasil itu bernama Pak Aria Jalil.
Share: