Friday, February 12, 2016

Beasiswa yang Tak Kunjung Tiba

keberhasilan adalah remah-remah kegagalan. 

Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya saat mencari beasiswa dan hanya sampai pada fase wawancara. Saya tidak tahu pencariannya berakhir sampai kapan.

***

Saat ini saya sedang mencari Beasiswa. dan entah sudah berapakali mendaftar dan beberapa kali juga gagal. jera? Tidak juga. capai? Sudah pasti. Semua itu adalah usaha dan penuh dengan pembelajaran. saya percaya dalam semua itu tersimpan pelajaran berharga.

Pengalaman wawancara Beasiswa Leiden-Dikti di Tahun 2014 di Yogyakarta. Banyak memberi pengalaman. Saya ingat waktu itu yang mewawancarai saya Professor David Henley, guru besar sejarah dari Leiden yang penelitiannya banyak tentang Indonesia. Yang satu bernama Professor Purwanto, guru besar Sejarah UGM. Yang satu saya lupa namanya. 

Singkat cerita, dalam wawancara yang hangat itu saya menjelaskan tema riset saya yang berkaitan dengan konflik pertambangan di Sulawesi Tenggara. di akhir wawancara saya disarankan untuk memperbaiki bahasa Inggris dan proposal. Hasilnya? sudah pasti tahu jawabannya. Ditolak sodara-sodara. 

Penolakan itu berkaitan dengan bahasa Inggris saya yang masih berantakan dan perbaikan proposal minor. saya berasumsi bahasa Inggris saya menjadi penyebab utama kegagalan itu. dari 5 orang yang diwawancarai. saya yang paling terakhir gagal. menurut Professor Henley topik saya menarik. namun Bahasa Inggris saya tidak menarik. dan disitulah petakanya. 

Gagal ke Leiden saya mencoba ke Australia. 

Tahun 2015 menjadi awal kebangkitan saya untuk mencari beasiswa (kembali) saya juga mendapat email dari asisten Prof. Henley untuk mencoba kembali. namun setelah email-emailan dengannya saya dinyatakan tidak layak. gagal lagi. 

Syahdan, pemerintah Indonesia mengenalkan beasiswa LPDP dan saya mencoba peruntungan. dengan modal korespondesi dengan Dr. Gregory Acciaioli, Antropolog UWA yang tulisannya saya baca di buku Kuasa Usaha. dari surel Dr. Aco (demikian Dia disapa) saya mendaftarkan diri ke LPDP. hasilnya? Saya hanya lolos wawancara. saya ingat waktu itu saya tidak sendiri diwawancrai dari kampus saya. ada Pak La Ode Wahiyuddin kolega saya di Fisip dan Ibu Ririn Syahriani dari Bahasa Inggris. dari ke-3 orang itu yang lolos hanya Ibu Ririn (selamat Bu Rin sudah mau ke Inggris).

Saya kembali gagal wawancara. padahal peluang untuk lolos beasiswa LPDP (saat itu) cukup mudah karena persyaratan yang tidak rigid. Berbeda sekarang (2015 ke atas) persyaratan semakin ketat. dan saran saya jangan hanya coba-coba tapi mantapkan diri (terutama bahasa inggris) sebelum mendaftar LPDP. karena hanya 2 kali kesempatan wawancara seumur hidup. dan Saya tinggal sekali sodara-sodara. 

Kelemahan saya ada di bahasa Inggris. walaupun sudah mengetahui kelemahan namun tidak ada usaha perbaikan juga. sangat menyesal ketika di Yogyakarta menempuh S2 saya tidak menyempatkan waktu untuk belajar Bahasa Inggris atau ke Pare. menyianyiakan waktu adalah penyesalan terbesar saya.

dan di tahun 2016 ini saya mencoba kembali dan kembali lagi mencari beasiswa. Jika sudah lelah berjuang untuk ke luar negeri. apa daya nasibku mungkin hanya cocok untuk ke IPB atau UI. dan dua kampus ini jadi pilihan saya di Indonesia.

Bersekolah tidak harus ke luar negeri bukan? (walau masih ada kegundahan saya kalo tidak sekolah keluar negeri tidak afdol hehehe)

Nasib adalah kesunyian masing-masing. saya teringat penggalan puisi Chairil Anwar.

Saya hanya berusaha dan berusaha. Allah pasti menyimpan mimpi terbaik saya dan itu akan terwujud. Insya Allah, karena Allah maha tahu usaha yang telah saya lakukan kemarin-kemarin belum maksimal. dan saatnya untuk berubah--jadi satria baja hitam. oh bukan. Jadi satria bergitar. itu bang Rhoma namanya. Bukan. Satria bagi Non (istri) dan Zahra (anak)
Share: