Wednesday, September 9, 2015

Saya di TV Lokal


TIDAK menyangka kegiatan yang saya inisiasi bersama rekan-rekan dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Kendari diliput TV Lokal. Walau berskala lokal namun topiknya menjadi permasalahan nasional: Anak Jalanan.

Syahdan, kegiatan yang menghadirkan anak jalanan di Kota Kendari itu diliput dan akhirnya masuk TV. saya senang karena upaya yang kami lakukan berjalan dengan baik dan semoga memberi arti bagi adik-adik yang menghabiskan waktu di jalan. untuk menyimak sila klik link dibawah ini:

http://www.sultra.tv/index.php?option=content&id=599&itemid=2
Share:

Monday, August 24, 2015

(Ber) Foto Dalam Segala Hal


JIKA dulu--maksud saya di tahun 90-an hingga 2000-an--(ber)foto menjadi hal yang sulit dilakukan, kini di era digital maka foto beserta suasana yang menyertainya bisa kita dapatkan di setiap etalase media sosial. foto berserakan dan berlimpah ruah. Kemajuan teknologi dan kemampuan daya beli orang-dari HP low entry sampai high level semua menyediakan kamera dan editor foto memungkinkan orang berfoto dimanapun dan kondisi apapun yang akhirnya bisa di edit sebelum di posting. 

Orang berlomba-lomba untuk menampilkan dirinya dalam foto saat bersantai bahkan saat menyantap makanan sekalipun. orang mendahulukan memotret dan memosting makanan daripada berdoa. Semakin banyak komentar dan komentas 'suka' semakin menjadikan foto dan diri menjadi kepuasan si pengunggah. alih-alih foto sebagai pemanis ruang kamar kita malah lebih suka foto disebar menjadi milik publik (like dan komentar). saya pun merasakan demikian dan tidak terbantahkan bahwa komentar dan like dalam foto yang saya upload menjadi daya tarik tersendiri.

Dari keseringan inipun (baca:berfoto) kita menjadikan itu sebagai sebuah gaya hidup; makan direstoran difoto, naik pesawat kelas bisnis difoto, traveling difoto bahkan setelah ibadah pun tak lupa menambil foto (semoga tidak riya hehehe). 

Apa yang kita lakukan adalah eksistensi, foto menunjukkan kelas kita. Bourdieu menyebutnya distingsi. selera budaya menentukan kelas sosial. musik dangdut dan jazz sebagai misal tentu membedakan kelas sosial penikmatnya. Demikian halnya foto, foto yang diupload di hp tertentu akan membedakan kelas sosial mana orang itu berada.

Selera berfoto meningkat seiring dengan minat orang akan fotografi. pihak pengembang HP cukup jeli melihat ini sebagai peluang dengan mencantolkan kamera dengan fitur editor seperti yang ada dalam dunia fotografi. dengan kemudahan ini menjadikan orang mengabadikan setiap moment dengan sebuah foto. foto sangat penting sebagai bagian dari sejarah, 

sejarah fotografi sendiri dimulai di awal tahun 1800an. seperti yang dikutip dalam petapixel: Photography has been a medium of limitless possibilities since it was originally invented in the early 1800s. The use of cameras has allowed us to capture historical moments and reshape the way we see ourselves and the world around us (http://petapixel.com/2015/05/23/20-first-photos-from-the-history-of-photography/)

dunia fotografi hanya sekedar dalam kegiatan resmi; acara negara, dan militer. Seiring perkembangan zaman, foto pun menjadi gaya hidup dan kita pun merayakan itu dengan berfoto dan mengunggah sebanyak mungkin. 

Pribahasa Tiongkok, satu foto bisa menjelaskan ribuan kata-kata. dan kini puluhan bahkan ratusan foto (yang diupload) belum cukup rasanya dengan kata-kata. 
Share:

Sunday, August 2, 2015

Thursday, June 25, 2015

Evaluasi Untuk Mahasiswa STIE 66 Kendari

Kurang lebih 16 kali pertemuan kelas Sosiologi Politik di kampus STIE 66 dilaksanakan dan untuk melihat kemampuan mahasiswa menyerap materi dibutuhkan evaluasi. Dan salah satu bentuk evaluasi proses belajar mengajar di kelas adalah mengerjakan soal-soal dari bahan kuliah yang telah diberikan:
  1. Demokrasi dan Islam dianggap sebagian besar ahli social dan politik tidak dapat berjalan baik sebagai bukti Negara-negara di Timur Tengah yang gagal menerapkan demokrasi sebagai sebuah system politik dan bernegara. Namun kondisi lain terjadi di Indonesia, Islam dan Demokrasi bisa seiring sejalan. Salah satu tesis Saiful Mujani dalam bukunya Islam Demokrat telah membuktikan bahwa Islam dan Demokrasi dalam saling mengisi. Menurut anda apa penyebab masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim bisa menerima demokrasi sebagai system politik?
  2. Sebutkan dan jelaskan contoh sederhana penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam keluarga anda
  3. Sebutkan dan jelaskan aspek penting dalam politik kebudayaan dan mengapa kebudayaan berhubungan erat dengan politik?
  4. Tesis Eka Suaib membahas fenomena politik identitas dalam pemilihan pejabat di Sulawesi Tenggara. Tesisnya menjelaskan bahwa pemilihan jabatan dalam birokrasi berdasarkan kesamaan suku. Bagaimana menurut anda tentang gejala politik Identitas yang berkembang di Indonesia?
  5. Anda telah menyimak kuliah umum Buya Syafii Maarif, apa yang menjadi catatan penting dalam kuliah umum tersebut?
Share:

Sunday, June 21, 2015

Presentasi Tanpa PPT Win Office

Presentasi tanpa PPT Office. apa bisa?

Jawabannya singkat. Bisa. Perkembangan presentasi sekarang ini mengajak user untuk mencoba cara lain tanpa harus terikat dalam satu platform. Dalam urusan presentasi, sebagian besar pengguna masih terikat dengan power point dari windows office. Namun sebenarnya banyak cara tanpa PPT, seperti kata pepatah: banyak jalan menuju Roma. Jalan itu bisa dipakai dengan menggunakan program presentasi platform lain seperti Pictoart dan masih banyak lainnya. 

saya mencoba program ini saat presentasi penelitian internal univ. Muhammadiyah Kendari dengan judul Modal Sosial Dalam Pengelolaan TPA Puwatu Kendari Sulawesi Tenggara tahun 2015. 

Hasilnya? tidak mengecewakan. saya seperti sedang membaca koran :)


----
Silahkan mencobanya sahabat. Selamat berpuasa.

Patta Hindi Azis
Share:

Friday, June 12, 2015

Infografis Rantai Pasok Beras Konawe Utara

Dibuat oleh : Patta Hindi Melalui Piktochart
Terlibat dalam suatu riset memang menyenangkan; pengalaman dan ilmu tentu saja bisa didapat secara bersamaan. Dan ini yang saya rasakan dalam keikutsertaan saya sebagai peneliti mengenai rantasi pasok beras di Konawe Utara. 

Latar belakang keilmuan saya memang menyimpang dari studi-rantai pasok--Yang tentu memerlukan latar belakang ekonomi. Tapi seperti ungkapan pepatah: ala bisa karena terbiasa, Ya, saya pun bisa beradaptasi dengan alur dan logika rantai pasok yang lebih banyak ke ekonomi (pembangunan). dan saya belajar banyak tentang perberasan di Indonesia terutama lagi di Sulawesi Tenggara. 

Dan salah satu peran saya adalah ikut menjadi penulis laporan akhir dibagian perberasan. dan Infografis yang saya buat bagi saya sudah mewakili alur rantai pasok beras di Konawe Utara. Silahkan dinikmati.

Satu hal bahwa infografis ternyata mempercantik laporan/hasil penelitian. Silahkan diamati karya saya (tentu dengan bantuan Piktoart) dan selebihnya kreasi pribadi. 

Salam sabtu, apakah sahabat pernah membuat infografis? kalo ya sudilah untuk berbagi

Share:

Saturday, May 23, 2015

Pusat Dunia

Untuk Zahra,

Dunia berubah dan kau pun ikut di dalamnya. perubahan dari hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun selalu ada perubahan di dirimu. itu bagus. dan kami senang melihatmu berkembang.

Anak kecil seperti dirimu adalah dunia. Ignas Kleden menyebutnya anak kecil sebagai pusat dunia sehingga sesuatu harus sesuai dengan keinginannya. demikian dirimu tak ada yang bisa menolak keinginanmu. dari Boneka di sebuah toko hingga mainan seluncuran di samping rumah semua untuk dirimu. rengekanmu, tangisanmu bahkan ibamu adalah keharusan yang tak bisa kami tolak.

Sikap self centered mu itu membuat kami tahu apa artinya menjadi orang tua. Ikhlas dan nurut apa yang kau inginkan adalah kewajiban yang harus ditunaikan. dari sini melepas ego butuh latihan. kau melatih kami untuk tabah. tabah mengikuti dirimu.

Teruslah tumbuh dan menjadi terang

Sore Di Kedai Za 21 Mei 2015

Share:

Saturday, April 4, 2015

Pilihan Hidup

Hari ini akhir pekan, jam sudah menunjuk pukul sembilan pagi, bertanggal lima april dua ribu lima belas. di sebuah ruangan tiga kali empat--saya, wakil dekan dan dekan duduk membahas hal yang penting--Saya diajak untuk bergabung menjadi salah staf fakultas di fisip unismuh kendari. Saya dipercaya menduduki jabatan kepala perpustakaan fakultas itu.

Saya amat senang karena saya akan ditempatkan pada ruangan yang amat saya sukai, tempat ratusan buku akan saya kelola dan itu sudah lama saya idamkan.

Saya tak mengiyakan. Orang akan berfikir jika diberikan amanat dan berakibat pada naiknya jumlah nominal maka pasti berfikir tak usah berlama-lama dan menyatakan "bersedia". Tapi saya tak melakukannya. Saya hanya menjawab diplomatis "berikan pada yang lebih tepat pak".

Saya melakukan ini dengan sebuah alasan tak peduli jumlah nominal yang ditawarkan (padahal saat ini saya masih selalu kekurangan). Saya memilih untuk tidak terlibat karena ada muatan politisnya. Saya diharuskan ikut dalam 'gerbong' mereka. Sesuatu yang tak akan pernah sesuai dengan idealisme saya. Saya tak anti politik, saya hanya tak suka dengan sistem yang ada di fakultas. Saya pun menarik diri.

Tak lama berselang saya pun pamit meninggalkan ruagan pimpinan.

Dalam amatan saya, kampus bagi mereka hanya dijadikan tempat mencari uang bukan untuk mencerdaskan manusia. Saya jadi takut ikut terlibat dalam permainan untuk memanfaatkan kampus sebagai 'mesin' pencetak uang. Suatu yang saya takutkan.

Fakta hari ini, Dosen atau intelektual kini semakin jauh dengan nilai akademik dan cenderung opurtunis. Banyak pengalaman mengajar di beberapa kampus dari Makassar hingga kendari semua hampir sama. Tempatnya saja yang berbeda.

Dosen hari ini di kampus saya lebih orientasi uang ketimbang karya bukan pengabdian. saya tak ingin itu terjadi.

Saya tak tahu dampak dari penolakan saya itu. Qun faya qun. Terjadilah yang akan terjadi.

Terima kasih istriku. Engkau telah menguatkan pilihanku.

Kendari menjelang gerhana bulan di Bulan April 2015.t
Share:

Tuesday, March 3, 2015

Selamat Jalan Prof Nasikun

-Manusia meninggalkan karya.

Requiem aeternam.

Prof Nasikun. Bagi mahasiswa ilmu sosial khususnya mahasiswa Sosiologi nama tersebut jamak disebut. ilmuan sosial Indonesia itu paling dikutip-kutip. bukunya yang terkenal 'Sistem Sosial Indonesia' menjadi bacaan wajib mahasiswa sosiologi semester awal. tidak tebal tapi isinya menyarikan teori penting untuk sosiologi indonesia.

Dalam buku karya yang bersampul merah  (ada yang biru tua) mengemukakan teori struktural fungsional. toeri lama dalam sosiologi yang mungkin sekarang banyak yang mengkritik bahkan meninggalkannya. namun di dalam buku Nasikun teori fungsional seakan menjelaska  kondisi masyarakat Indonesia.

***

Saya meningat masa di tahun 2011 di gedung UC UGM saat perayaan ke 70 tahunnya. Nasikun sambil berkursi roda menikmati suasana perayaan ulang tahunnya yang dirangkai pengungerahan dedikasi dari pada murid dan koleganya.

saya tidak menyangka akan bertemu penulis Sistem Sosial Indonesia. kebersahajaan dan kecerdasan masih nampak di usia rentanya. setelah membaca bukunya bertahun tahun. baru Kali itu. dan ternyata itu menjadi pertemuan terakhir di tahun 2011 itu.

malam ini saya kehilangan sosok sederhana itu. Sosiologi Indonesia kehilangan satu orang terbaik.

Selamat jalan Prof

Share: