Friday, March 28, 2014

Selfie

Aku ber-selfie maka aku ada.

Foto diri di depan kamera menjadi tren saat ini. Sejak Obama kedapatan sedang berfoto bersama saat menghadiri prosesi pemakaman Nelson Mandela. Foto diri menjadi langganan yang diunggah di media sosial dari anak sekolah hingga presiden.

Saya yang awam tentang dunia fotografi. Yang saya tahu selfie singkatan dari self potrait yang kalo diindonesiakan terjemahan bebasnya menjadi foto diri.

Menyangkut foto diri orang hanya menggunakan media cermin jika ingin bergaya. Sejak dunia fotografi dan perkembangan teknologi informasi bergaya di depan cermin tak efektif lagi karena sifatnya monologis, kaku dan hanya orang yang di depan cerminlah yang dapat berkomentar. Itu dulu, kini Media sosial pun menjadi ranah berselfie ria, mengundang banyak komen, like dan tanggapan lainnya.

Anda tahu berapa foto selfie di unggah tiap hari? Majalah Tempo mencatat sekitar 1 juta foto yang diunggah setiap hari dengan rentang umur 18 hingga 25 tahun. Fantastis

*
Maksud hati saya ingin bersefie ria apa daya tampang tak mendukung jadinya foto selfie tak di unggah di media sosial :).

Share:

Friday, March 21, 2014

Terimakasih Zipper.com

Hari ini program kompressi file pdf  http://www.pdfzipper.com/ menyelamatkan saya. betapa tidak setelah menerima informasi bahwa akan ada penerimaan dosen non pns Universitas Haluoleo (UHO) sontak saja membuka berkas-berkas yang tersimpan di laptop. Membaca persyaratan secara seksama dan detil takut terulang kegagalan tes dosen beberapa bulan lalu dimana saya gagal dipemberkasan (saya pun tak habis pikir sampai sekarang). 

Singkat cerita persyaratan itu saya lengkapi namun ketika membaca syarat terakhir yang terkait mengaharuskan berkas disimpan dalam bentuk pdf dan tidak boleh melampaui 500 kb maka kepanikan pun pecah. Berkas yang sudah di-pdf-kan itu ternyata 700 kb dan sudah beragam cara untuk untuk mengurangi kapasitas yang melampaui persyaratan tersebut.

Di saat kesabaran hampir habis saya menemukan program yang saya bilang recomended untuk file compresi pdf namanya pdfzipper. saya sudah mencoba program kompresi lain tapi hanya mengurangi beberapa kb. ini berbeda dengan pdfzipper dengan kemampuan kompresi hinggai 50 persen tergantung file. dan perlu jadi catatan program ini hanya berjalan secara daring (online) dan kapasitas maksimal unggah pdf 12 mb. 

Saya terselamatkan berkat program kompresi pdf ini. kiranya persyaratan yang sudah dilengkapi dan detil ini bisa membawa saya menjadi dosen non pns di UHO. semoga.
Share:

Monday, March 3, 2014

Miranda

Beberapa hari lalu di media cetak dan elektronik ramai-ramai memberitakan kehidupan Miranda yang merawat ayahnya yang sakit di rumahnya yang terletak di ujung barat kota Kendari. Miranda, bocah yang kekurangan mental itu harus keluar dari sekolah demi merawat ayahnya yang lumpuh. Pilihannya sederhana lebih memilih merawat orang tua walaupun putus sekolah sebagai taruhannya. gadis kecil itu—selayaknya bermain dan membaca di sekolah—harus menanggung beratnya beban keluarga. Cerita tentang Miranda menjadi inspirasi sekaligus tragedi kehidupan bagi masyarakat kecil.

Rumah keluarga Miranda hanya beberapa kilo meter dari pusat pemerintahan baik provinsi maupun kota. Tapi yang lebih banyak bersuara adalah media. Lalu kita bertanya di mana pemerintah selama ini? Idealnya pemerintahlah yang harus lebih dulu tanggap dan menyuarakan permasalahan sekaligus mencari solusi. Alih-alih memerankan sebagai penjaga rasa aman masyarakat, pemerintah kadang tak pernah terasa keberadaanya. Dari sini kita bertanya buat apa mengamanahkan mereka jika abai terhadap rakyatnya? Saya jadi ingat dalam sebuah tulisan sebuah kolom bahwa jika berhubungan dengan pemerintah maka yang banyak adalah pertanyaan dan sedikit mendapat jawaban. Demikian pula kisah ‘pembiaran’ kehidupan Miranda dan ayahnya. Kita hanya lebih banyak pertanyaan dari pada mendapat jawaban.

Mirisnya kiranya ketika pemerintah kita hidup di atas kemewahan dan previlese lainnya dari fasilitas negara membiarkan rakyatnya hidup dalam penderitaan. Tapi ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu. Pemerintah kita tak mau ambil pusing. Kita telah banyak menonton teve, membaca koran, dan informasi dari tetangga tentang orang miskin yang mati kelaparan di antara bangunan megah milik orang kaya. Kita juga sering menonton keluarga busung lapar di tengah lingkungan orang kaya dan kita menyaksikan banyak golongan minoritas dirampas haknya.

Namun penderitaan rakyat kecil tak membuat pemimpin iba. Lalu kita merindukan sosok yang dirindukan rakyat. Agaknya kita bisa berpaling ke walikota terbaik dunia 2014 Risma yang ikut membagikan masker kepada warga yang terkena musibah gunung Kelud, menangis melihat perempuan PSK yang berusia 60-an di lokalisasi Dolly yang masih ‘melayani’ usia remaja atau bahkan risma ikut memikul kayu bersama stafnya yang sedang kerja bakti. Sekarang kita dapat menemukan pemimpin yang bisa empati terhadap masalah rakyatnya. Ada tapi sedikit.

Kondisi inipun berbeda dalam kehidupan keluarga Miranda bantuan lebih banyak mengalir dari donator (masyarakat sipil) dan pemerintah kita malah lempar tanggung jawab dengan alasan dana operasional relative kecil (kendari pos 1/3/2014). Itulah kiranya mengharapkan lebih banyak pada pemerintah ibarat punguk merindukan bulan. Jauh dari harapan. Kalaupun ada bantuan akan dipolitisir.

Kisah Miranda adalah puncak gunung es. Masih banyak banyak kasus serupa yang tidak tertangani dengan baik oleh pemerintah tetapi mendapat perhatian dari masyarakat sipil. Kiranya pemerintah kita mawas diri tentang perannya selama ini.

Jaman sekarang bukan lagi sistem feodal di mana pemerintah (penguasa) di junjung dan di gugu seperti dewa yang dilayani. Tapi pemerintah yang turun melayani dan merasakan pahit getirnya kehidupan masyarakat kecil seperti kisah hidup Miranda.

Miranda adalah kondisi kita hari ini di Indonesia.
Share: