Thursday, February 27, 2014

Zahra

Karena kau adalah bunga
Tempat menghirup segala wangi
Tak habis habisnya

Dan kau adalah bunga
Segala rupa di tamanmu
Tak lelah tumbuh kelopak Ungu, merah dan putih

Kau adalah kilatan cahaya yang menyapu lenyapkan segala jejak dan bayang*

Kau adalah Zahra
Bunga semesta.

---
*dee dalam Supernova "petir"

Share:

Saturday, February 22, 2014

Kejujuran intelektual

Mundurnya Anggito setelah dirinya dianggap menciplak karya orang lain sebagai langkah maju seorang intelektual. Anggito yang pengajar FEB UGM itu tahu bahwa masalah yang dihadapinya bukan hanya soal dirinya tapi juga membebani institusi.

Dalam dunia akademik plagiarisme adalah hal yang diharamkan olehnya itu setiap karya ilmiah seperti skripsi, tesis sampai disertasi diharuskan mencantumkan pernyataan bahwa karya seseorang nersifat orisinil dan tidak mengutip karya orang lain kecuali desibutkan dalam daftar pustaka.

Walaupun diharamkan masih saja sering terlaji penciplakan karya tanpa menyebutkan sumber. Saya masih ingat ketika menempuh pascasarjana di UGM ada beberapa teman kelas saya yang ketahuan mengcopy paste karya orang lain. Dan itu seluruhnya tanpa parafrase (walaupun parafrase tetap harus mencantumkan sumber). Beruntunglah teman itu karena hanya diberi waktu untuk membuat yang baru karena dosen menganggap sebagai pembelajaran.

Contoh kecil diatas penting bahwa sejak dinyatakan menjadi mahasiswa maka sudah harus diberikan pedoman atau perturan akademik tentang dunia tulis menulis ilmiah. Mahasiswa sudah musti diperkenalkan cara menulis yang baik dan mengutip yang baik sehingga dapat mengurangi kasus serupa di waktu mendatang.

Kasus plagiat Anggito dan jika itu benar adalah kasus yang selalu berulang ulang dan aneh karena pemerintah dalam hal ini kemendikbud masih saja saya anggap kurang responsif dalam menghadapi fenomena ini.

Di kampus kampus baik negeri maupun swasta masih banyak mahasiswa dan berlevel guru besar melakukan plagiat karena pembiasaan dalam menulis ilmiah tidak menjadi tradisi.

Anggito memang telah dimaafkan oleh Hatbonar Sinaga tetapi kita tidak bisa memaafkan plagiat yang dilakukannya jika itu benar.

*

Saya mengenang pertemuan dengan Anggito disebuah musallah FEB Salman Al Farizi. Betapa kagum saya melihat sosok yang gagah dan sederhana itu. Tidak salah memang jadi dosen favorit di FEB bahkan UGM karena kepandaian dan kesederhanaanya.

Dan saya masih tidak percaya Anggito melakukan plagiat. Sampai hari ini dan tak menghilangkan rasa kagum saya padanya.

Demikianlah kiranya kasus Anggito dapat terjadi pada semua orang. Maka selayaknya hati hati dan jujur dalam menulis.

Share:

Thursday, February 20, 2014

Wednesday, February 5, 2014

Selamat Jalan Arief

Kisah tentang kematian adalah kisah tentang hari hari kita. Seperti waktu yang linear yang berganti tanpa harap terulang.

Kematian seakan menjadi penanda bahwa waktu (umur) menjadi pengingat. Demi masa

Kematian pun mengingatkan pada sahabat saya di diklat 17 Perbakin Unhas. Masih segar dalam ingatan saat lari bersama mengelilingi kampus hingga dada kembang kempis, mencari titik koordinat di hutan belantara maros, keceriaan menggapai bukit teletubbies hingga camping di lereng gunung bawakaraeng. Saya masih ingat itu.

Cerita dan keceriaan itu tak akan kita rasa bersama sahabat. Engkau mencari jalan lain yang lebih damai dari dunia, selamanya.

Cerita bersama itu akan saya kenang dan tentu para diklat 17 tentang dirimu yang paling tampan di diklat itu, tentang dirimu yang penuh kekonyolan dan tentang dirimu dengan segala kesederhanaanmu.

Selamat jalan sahabat Arief dan Bijaksana.

Share: