Wednesday, December 31, 2014

Tak Ada Pesta Tahun Baru

lazimnya setiap pergantian tahun dalam kondisi hujan atau kemarau pesta selalu digelar. dan saya pun larut di dalamnya.

tapi tahun ini tidak lagi. merasa ikut dalam kondisi kebatinan, kami (saya istri dan anak) tidak keluar rumah. dan hanya berdiam di rumah mendengar kembangi api bersahut sahutan di udara. itu pertanda kami melewatkan pesta kembang api dan pesta makan-makan.

kondisi itu kebatinan itu terasa tahun ini dan hampir sama di tahun 2004 ketika Aceh dan Nias dilanda tsunami. kali ini peristiwa yang membuat rasa empati itu muncul dengan tidak larut dalam kemeriahan tahun baru. saya berempati dengan pesawat Air Asia yang jatuh di selat Karimata.

tak ada gairah pesta-menyalakan kembang api dan meniup terompet.

syahdan, peristiwa dan bencana yang dihadapi masyarakat Indonesia layaknya berempati. tapi itu pilihan setiap orang

duka kami untuk korban bencana tahun 2014. semoga tahun 2015 memberi kehidupan yang baik.

dengan ujian membuat bangsa ini semakin kuat. dan bangsa ini mampu melalui setiap cobaan yang silih berganti datang sejak ratusan tahun yang lalu.

Share:

Sunday, December 14, 2014

Setahun usiamu

yang terindah Za,

sangat terasa setahun usiamu kini nak, ayah bilang terasa karena menunggu setahun itu lama. saya menghitung seaat kamu dilahirkan di rumah sakit kecil itu, RS Aliyah. sore itu bertanggal 15 Desember 2013. setelah ashar kaupun lahir. ayah tak melihatmu lahir karena ayah di mesjid menunaikan salat.

saya merasa beruntung sebagai ayah melihatmu tumbuh dan terus tumbuh.  

Ayah menukil lirik Katon Bagaskara untukmu Za,
Bertambah satu usiamu...oh semoga penuh warna. semakin indah hatimu berikan cinta tuk semua...

maha suci Allah yang memberimu berkah sampai hari ini dan nanti...

Share:

Sunday, December 7, 2014

Di Bandara Ku Rindu Rumah

tiba di bandara namun rindu masih saja ada pada Ibu dan Za yang senyumnya seperti pagi. menyejukkan.

sore ini memang teduh. alang alang baru saja tumbuh setelah di terpa hujan. orang sibuk dengan segala aktifitasnya. di kejauhan aspal landasan masih sunyi tak ada kabar pesawatnya akan datang. saya menepi seraya mengamati pesawat yang katanya akan segera tiba.

melihat pemandangan sekitar di balik kaca bandara itu sesuatu yang selalu saya lakukan. ada romantisme dan juga dramatis bercampur aduk, berkelindan. apalagi menyaksikan alam dan lalu lintas manusia yang tak tahu akan dan mau kemana tujuannya. mungkin saya orang sosiologi jadi bawaannya selalu mengamati realitas. selalu sibuk mengurusi berbagai hal.

***

Pesawat pun tiba, ruang informasi mengabarkan kepada penumpang untuk segera naik pesawat. saya duduk di bagian ekor dan perlahan hp dimatikan. sang burung besi pun membawa saya mengangkasa.

di sambut hujan sore pesawat mendarat dengan lembut. suasana Kota Makassar membuat seperti di rumah saja. hangat.

di kota yang menyimpan banyak kenangan saat kuliah dulu saya merindukan ibu dan za...rindu sekali.

-----

071214 saat makassar sedang hujan.

Share:

Sunday, October 5, 2014

Semangat Haji



Menenuaikan ibadah haji adalah impian setiap umat muslim. Tak heran untuk mewujudkannya orang rela melakukan apa saja. Di Makassar seorang ibu rela menunggu 20 tahun untuk mewujudkan mimpi berangkat ke Mekkah, di Jakarta ada perempuan renta menggunakan kursi roda naik pesawat, di Jawa Tengah seorang pembantu rumah tangga tak bisa menyembunyikan rasa haru ketika sang majikan mewujudkan mimpinya menunaikan haji. Penggalan cerita ini jamak terjadi dalam kehidupan kita menjelang ibadah haji.

Dari kisah di atas ada makna yang bisa diungkapkan selain dari bagian ibadah. Haji dapat dilihat dalam sosiologi pengetahuan sebagai bagian ‘semangat’ atau ‘panggilan’. Aksi religiositas ini tidak saja dimaknai sebagai rukun islam atau status sosial seseorang di masyarakat namun haji bagi masyarakat Indonesia adalah suatu keharusan. Untuk itu apapun dilakukan untuk bisa dicapai. Inilah yang bisa dikatakan sebagai semangat atau keterpanggilan seorang muslim menjalan perintah Allah.

Panggilan
Betapa pentingnya sebuah haji ini diceritakan kemudian oleh Ali Shariati melalui buku Al Hajj (Pilgrimage). Dalam mukaddimah bukut itu, Shariati menggambarkan arti menunaikan haji esensinya adalah sebagian bagian menuju Allah. Ia menjelaskan: hat does Hajj mean? In essence, Hajj is man's evolution toward Allah. It is a symbolic demonstration of the philosophy of Creation of Adam. To further illustrate this, it may be stated that the performance of Hajj is a simultaneous show of many things; it is a "show of creation", a "show of history", a "show of unity", a "show of the Islamic ideology" and a show of the Ummah. (dikutip http://www.shariati.com/english/hajj/hajj1.html). 

Haji dapat dimaknai sebagai jalan menuju sang khaliq yang digambarkan awal mula diciptakan Adam atau manusia pertama di muka bumi. Pada cerita penciptaan Adam akan ditemukan di tanah haram. Haji dapat disimbolkan dalam berbagai hal tentang sejarah, persaudaraan, ideology dan menunjukkan ummah. Haji adalah jembatan masa lalu dan masa kini. Hal itu yang membuat orang ingin menunaikan haji.

Max Weber ilmuan sosiologi menyebut ini sebagai bagian dari panggilan (calling). Menurutnya jika seorang sudah merasa terpanggil maka aka nada semangat untuk mewujudkannya. Ia berpandangan bahwa jika seorang berhasil di dunia maka akan berhasil pula di akhirat. Dalam islam dijelaskan bahwa siapa yang beramal saleh di dunia maka surga adalah tempat terbaik bagi mereka. Itulah mengapa seorang muslim selalu semangat untuk bekerja yang pada akhirnya melaksanakan haji. Konon sebagian masyarakat Indonesia percaya bahwa padang masher di dunia itu ada di tanah suci Makkah. Orang muslim selalu berdoa untuk diberikan kesempatan mengunjungi Mekkah sebelum meninggal. 

Sebagai gambaran saja setiap tahun jamaah asal Indonesia terus mengalami peningkatan ini belum termasuk daftar tunggu. Bahkan ada orang yang tidak puas dengan berhaji satu kali yang kemudian melahirkan wacana kemenang untuk melarang setiap orang untuk berhaji kedua kalinya. 

Agaknya panggilan haji kiranya memberikan saya kesempatan untuk bisa mengunjungi Mekkah tempat cerita awal mula Adam, sejarah, ideology dan ummah yang seperti diceritakan Ali Shariati.
Share:

Friday, August 29, 2014

Rindu Menulis Lagi

Seperti tak bertemu belasan hari bersama istri dan anakku. saya rindu dengan blog ku "Lumbungpadi". saya tidak tahu pasti berapa bulan saya tidak menulis di blog sekedar menuangkan catatan kecil baik yang ringan atau berat (memang ada tulisan saya yang berat?!). saya tidak ambil soal tentang tulisan saya karena memang saya hanya menulis. itu saja.

Memulai. itu yang harus saya lakukan sekarang, tak ada yang lain saya ingin mengunjungi blog tetangga (lagi) : kanda Yusran Darmawan dengan timur-anginnya, Bli Made Andi dengan madeandi-nya, dan tetangga blog yang tak sempat saya sebutkan disini. tapi satu hal saya rindu menulis di blog.

Bangkit menulis tak peduli seberapa panjang baris kata memenuhi lembaran di blog. demikian kiranya.


Share:

Merdeka tanpa Bendera

Ada hal yang kurang mengenakkan saya dalam peringatan kemerdekaan Agustus-an  kemarin. saya merayakan kemerdekaan tanpa bendera merah putih. tentu, sebagai penghormatan,setiap warga Indonesia dari sabang sampai merauke mengibarkan bendera tetapi saya dalam kesempatan kali ini tidak memasang dan mengibarkannya, tidak ada umbul-umbul yang sekedar ingatan yang dirawat berpuluh-puluh tahun.

Ada alasan kali ini tidak memasang bendera, beberapa minggu lalu baru saja pindah dan tak sempat membawa bendera lama. akhirnya mencoba cara lain mengunjungi toko atau penjahit yang menjual bendera dan umbul-umbul. sesampai di toko stok bendera habis segala daya telah di coba tapi keberuntungan tidak memihak. akhirnya hanya saya yang tidak menaikkan bendera di hari kemerdekaan.

Bagi saya nasionalisme bisa dilihat dari seberapa usaha kita berbuat, ada orang meramaikan dengan melakukan kegiatan; lomba, bersih-bersih, ikut upacara, menaikkan bendera dan lain-lain. Semua itu membuktikan bahwa nasionalisme musti dirayakan dengan kegembiraan dalam kemerdekaan.

Walaupun saya tak menaikkan bendera bukan berarti saya tidak nasionalis. Saya turut merayakannya dengan menyayikan lagu-lagu perjuangan dalam rumah membuat semua menjadi  riuh dan membuat ruangan rumah yang tanpa perabot itu menggema. Suara memantul-mantul.

***
Kemerdekaan itu saya maknai sebagai proses masa silam yang kemudian dihidupkan kembali. Mengingat para pahlawan yang memberikan darah. Kemerdekaan bukan terberi (given) tetapi musti diperjuangkan. Dan pahlawan layak dikenang atas jasanya. Dan sebagai simbolisasi itu menaikkan bendera dan kegiatan-kegiatan kemerdekaan lainnya. 

Dan yang bisa saya lakukan adalah menyayikan lagu-lagu kemerdekaan saja walau (sangat disayangkan) tidak menaikkan bendera.
Share:

Wednesday, July 30, 2014

Sms lebaran

Membaca artikel menteri Dahlan Iskan Iskan tentang sms ucapan lebaran membuat saya gregetan menulis juga di blog.

Membaca lamat lamat tulisan beliau betapa sabarnya Ia membalas satu demi satu sms yang datang. Biasanya pejabat publik enggan membalas sms yang datang yang bukan pejabat pula. Ini yang berbeda dengan Dahlan Iskan.

Saya kadang berfikir sekelas Dahlan Iskan saja mau membalas sms apalagi saya yang belum punya apa-apa. Jujur saya akui kadang malas membalas sms lebaran. Dan saya juga malas memberi ucapan lebaran. Padahal kata Dahlan Iskan membalas dan memberi ucapan lewat sms sama halnya menjabat tangan seseorang. Walau termediasi itu sudah seperti sedang berjabat. Pelajaran satu lagi saya dapat dari Dahlan Iskan.

Gadget telah menggantikan kebiasaan kita bersilaturahim tapi itu musti disikapi dengan arif. Anggap bahwa mengirim pesan lewat gadget kita sedang berjabat tangan.

Maaf kan saya buat teman2, sahabat dan orang yang tak bisa saya sebutkan satu2.

Izinkan saya berjabat tangan lewat tulisan ini: selamat idul fitri maaf lahir dan batin.

Padi Sekeluarga.

Share:

Tuesday, June 10, 2014

Memilih JK

Pemilihan kali ini kembali menghadirkan Jusuf Kalla sebagai cawapres (yang sebagian orang menganggap lebih cocok jadi capres atau jadi negarawan dengan tidak masuk dalan bursa pilpres). Kehadirannya pun menuai pujian. Sebagai pengusaha sukses, politisi dan filatropis wajar jika JK sapaan akrabnya banyak menuai puja puji.

Tak terkecuali saya. Sederhana memilih JK soal nyantol di hati dia alumni Unhas berasal dari Sulsel membuat saya tak berfikir panjang untuk menjatuhkan pilihan. Pemilihan ini bisa dianggap sebagai pemilih tradisional sekedar geopolitik. Tidak ada yang salah, dalam sosiologi politik faktor sosial budaya ikut berpengaruh preferensi dalam menentukan pilihan politik. Saya larut di dalamnya.

Kalo ada yang menganggap saya pemilih tradisional saya akan terima tapi bagi saya memilih tidak sekedar memilih. Saya memilih juga tidak menggunakan adigium "memilih kucing dalam karung". Saya memilih berdasarkan rekam jejak. Dan JK memenuhi persyaratan jejak yang baik itu.

Tak banyak yang bisa saya nukilkan tentang memilih JK. Saya hanya ingin berucap: benar atau salah JK tetap Idola

JK adalah Kita

Share:

Thursday, April 3, 2014

Nikel Konawe Untuk Siapa?


Di ujung utara Konawe Sulawesi Tenggara kehadiran tambang nikel telah merubah wajah daerah yang hijau itu. Kini yang terlihat hamparan bukit yang terkelupas (land clearing), pohon-pohon tumbang digilas alat berat, sungai tak lagi sebening kaca, dan kenaekaragaman hayati pun terancam punah.

***
Siang itu alat berat sejenis escavator terparkir rapi. Tak ada aktifitas penambangan nikel setelah UU minerba Nomor 4 Tahun 2009 disahkan pemerintah Januari 2014. UU itu mengharuskan setiap perusahaan tambang wajib memiliki pabrik pengolahan mineral mentah (smelter) sebelum di ekspor. Otomatis perusahaan pun menghentikan sementara aktifitas dan ‘merumahkan’ sementara karyawannya untuk mengurangi biaya operasional. Satu dari sekian karyawan yang dirumahkan itu, Samir (22 tahun) pemuda asli Konawe Utara. Pemuda itu beretnis Tolaki yang dikenal sebagai masyarakat lokal Konawe. Bukan berita baik baginya yang hanya menggantungkan hidup dengan bekerja di perusahaan tambang karena beberapa lahan milik keluarga sudah dijual kepada pengusaha.
Menjadi rahasia umum masyarakat Konawe Utara merelakan lahan miliknya dibeli oleh pengusaha tambang karena tergiur dengan sejumlah uang yang menurut mereka sangat besar. Terjadilah perubahan secara drastis dari masyarakat yang mengandalkan hasil hutan dan kebun menjadi masyarakat yang menggantungkan diri untuk bekerja di tambang.

Degradasi lingkungan
Menurut catatan sejarah penambangan nikel telah berlangsung lama sejak masuknya Belanda di Sulawesi Tenggara. Setelah kemerdekaan untuk pertama kali perusahaan milik negara PT. Antam mulai melakukan eksplorasi. Dan sampai hari ini tercatat sudah 540 izin eksplorasi tambang di Sulawesi Tenggara yang dikelola perusahaan asal China. Menurut Samir bahwa di awal tahun 2007 tercatat hanya 3 (tiga) perusahaan tambang, kondisi inipun berubah hingga akhir tahun 2013 yang sudah mencapai ratusan izin tambang yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk mengekplorasi nikel di Konawe Utara.
Aktifitas penambangan ini kemudian mengakibatkan degradasi lingkungan di Konawe Utara. Ratusan perusahaan tambang—pengusaha dari China, Korea dan Jepang—telah membuat perubahan lingkungan di daerah itu. Perusakan hutan, pencemaran air laut, jalan umum yang berlubang-lubang, polusi udara sampai hilangnya mata pencaharian masyarakat sebagai akibat aktifitas penambangan. “perusahaan langsung membuang limbah ke sungai atau ke laut jadi mau tidak mau air berubah warnanya” beber Samir dengan logat khas suku Tolaki.
Limbah secara langsung dibuang tanpa mengolah terlebih dahulu. Akibatnya beberapa air sungai di Konawe utara berubah menjadi kuning kecoklatan. Keanekaragaman khas pegunungan Konawe pun terancam. Burung Maleo (macrocephalon maleo) sudah mulai berkurang. Burung khas itu diambang kepunahan. Tumbuhan-tumbuhan khas dan bunga hutan Konawe juga mengalami hal yang sama. Penambangan telah merenggut kekhasan ekosistem hutan Konawe Utara.
Dari peristiwa ini penting kiranya mengambil pelajaran bahwa pengolahan lingkungan sepatutnya berdasarkan pada kearifan. Untuk itu ada beberapa hal yang menurut Samir perlu menjadi perhatian tentang kondisi di Konawe Utara. Pertama. Perlu adanya pembatasan ijin penambangan dari pemerintah pusat dan daerah. Dan juga menindak perusahaan tambang yang tidak memiliki ijin dalam operasi penambangan. Selama ini banyak perusahaan tambang di Konawe Utara yang ilegal. Selama ini menurut Samir pemerindah daerah kurang respon terhadap permasalahan perusahaan ilegal.
Kedua. Pentingnya pengelolaan berbasis kearifan lokal. Pengolahan tambang nikel selayaknya memperhatikan aspek kearifan sosial budaya dengan mempertahankan nilai-nilai kelokalan masyarakat setempat seperti halnya hutan adat yang dijaga kelestariannya. Samir menambahkan, dalam masyarakat Konawe Utara masih ada kearifan menjaga dan memanfaatkan sumber daya hutan. Hal itu penting menjadi perhatian dari pemerintah maupun korporasi.
Ketiga. Perlu kiranya setiap perusahaan diwajibkan memiliki pengolahan limbah dan Amdal untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan di Konawe Utara. Ini penting mengingat kerusakan air di Konawe tergolong parah.
Keempat. Pemanfaatan SCR perusahaan tidak saja semata-mata memberi bantuan dana tetapi perlu penyediaan bibit/tanaman, pemberdayaan masyarakat dan usaha-usaha penghijauan agar sumber daya alam dapat dimanfaatkan masyarakat Konawe Utara secara lanjut.
Ke empat prasyarat ini menurut pemuda itu penting diperhatikan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan dan ekosistem alam di Konawe Utara. Sudah saatnya korporasi memperhatikan aspek lingkungan sebagai isu penting dalam pengelolaan tambang. Untuk itu pesan bijak Mahatma Gandhi patut direnungkan bahwa bumi sanggup memenuhi kebutuhan manusia tapi tidak sanggup memenuhi keserakahan manusia. Keserakahan korporasi mengeruk sumber daya alam telah membuat kerusakan lingkungan.

***
Petikan cerita Samir sang pemuda itu adalah kisah keseharian masyarakat yang berada di area tambang Konawe Utara. Masyarakat lokal adalah pihak yang selalu dirugikan. Kisah Samir adalah kisah tentang ketidakberdayaan menghadapi korporasi dan pemerintah. Penting kiranya pemangku kepentingan bahu-membahu memberikan respon terhadap keberlangsungan kehidupan mereka dan lingkungannya.
Di akhir cerita itu, sambil menghela napasnya dalam-dalam Samir bertanya secara retoris kepada saya “jadi tambang nikel ini untuk siapa?”. Saya tak bisa menjawabnya tapi dalam hati saya bergumam coba tengok jawabnya di lagu Ebiet G Ade “coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.

------
tulisan ini sedang diikutkan lomba dan masuk nominasi "layak muat" semoga menang :)
Share:

Friday, March 28, 2014

Selfie

Aku ber-selfie maka aku ada.

Foto diri di depan kamera menjadi tren saat ini. Sejak Obama kedapatan sedang berfoto bersama saat menghadiri prosesi pemakaman Nelson Mandela. Foto diri menjadi langganan yang diunggah di media sosial dari anak sekolah hingga presiden.

Saya yang awam tentang dunia fotografi. Yang saya tahu selfie singkatan dari self potrait yang kalo diindonesiakan terjemahan bebasnya menjadi foto diri.

Menyangkut foto diri orang hanya menggunakan media cermin jika ingin bergaya. Sejak dunia fotografi dan perkembangan teknologi informasi bergaya di depan cermin tak efektif lagi karena sifatnya monologis, kaku dan hanya orang yang di depan cerminlah yang dapat berkomentar. Itu dulu, kini Media sosial pun menjadi ranah berselfie ria, mengundang banyak komen, like dan tanggapan lainnya.

Anda tahu berapa foto selfie di unggah tiap hari? Majalah Tempo mencatat sekitar 1 juta foto yang diunggah setiap hari dengan rentang umur 18 hingga 25 tahun. Fantastis

*
Maksud hati saya ingin bersefie ria apa daya tampang tak mendukung jadinya foto selfie tak di unggah di media sosial :).

Share:

Friday, March 21, 2014

Terimakasih Zipper.com

Hari ini program kompressi file pdf  http://www.pdfzipper.com/ menyelamatkan saya. betapa tidak setelah menerima informasi bahwa akan ada penerimaan dosen non pns Universitas Haluoleo (UHO) sontak saja membuka berkas-berkas yang tersimpan di laptop. Membaca persyaratan secara seksama dan detil takut terulang kegagalan tes dosen beberapa bulan lalu dimana saya gagal dipemberkasan (saya pun tak habis pikir sampai sekarang). 

Singkat cerita persyaratan itu saya lengkapi namun ketika membaca syarat terakhir yang terkait mengaharuskan berkas disimpan dalam bentuk pdf dan tidak boleh melampaui 500 kb maka kepanikan pun pecah. Berkas yang sudah di-pdf-kan itu ternyata 700 kb dan sudah beragam cara untuk untuk mengurangi kapasitas yang melampaui persyaratan tersebut.

Di saat kesabaran hampir habis saya menemukan program yang saya bilang recomended untuk file compresi pdf namanya pdfzipper. saya sudah mencoba program kompresi lain tapi hanya mengurangi beberapa kb. ini berbeda dengan pdfzipper dengan kemampuan kompresi hinggai 50 persen tergantung file. dan perlu jadi catatan program ini hanya berjalan secara daring (online) dan kapasitas maksimal unggah pdf 12 mb. 

Saya terselamatkan berkat program kompresi pdf ini. kiranya persyaratan yang sudah dilengkapi dan detil ini bisa membawa saya menjadi dosen non pns di UHO. semoga.
Share:

Monday, March 3, 2014

Miranda

Beberapa hari lalu di media cetak dan elektronik ramai-ramai memberitakan kehidupan Miranda yang merawat ayahnya yang sakit di rumahnya yang terletak di ujung barat kota Kendari. Miranda, bocah yang kekurangan mental itu harus keluar dari sekolah demi merawat ayahnya yang lumpuh. Pilihannya sederhana lebih memilih merawat orang tua walaupun putus sekolah sebagai taruhannya. gadis kecil itu—selayaknya bermain dan membaca di sekolah—harus menanggung beratnya beban keluarga. Cerita tentang Miranda menjadi inspirasi sekaligus tragedi kehidupan bagi masyarakat kecil.

Rumah keluarga Miranda hanya beberapa kilo meter dari pusat pemerintahan baik provinsi maupun kota. Tapi yang lebih banyak bersuara adalah media. Lalu kita bertanya di mana pemerintah selama ini? Idealnya pemerintahlah yang harus lebih dulu tanggap dan menyuarakan permasalahan sekaligus mencari solusi. Alih-alih memerankan sebagai penjaga rasa aman masyarakat, pemerintah kadang tak pernah terasa keberadaanya. Dari sini kita bertanya buat apa mengamanahkan mereka jika abai terhadap rakyatnya? Saya jadi ingat dalam sebuah tulisan sebuah kolom bahwa jika berhubungan dengan pemerintah maka yang banyak adalah pertanyaan dan sedikit mendapat jawaban. Demikian pula kisah ‘pembiaran’ kehidupan Miranda dan ayahnya. Kita hanya lebih banyak pertanyaan dari pada mendapat jawaban.

Mirisnya kiranya ketika pemerintah kita hidup di atas kemewahan dan previlese lainnya dari fasilitas negara membiarkan rakyatnya hidup dalam penderitaan. Tapi ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu. Pemerintah kita tak mau ambil pusing. Kita telah banyak menonton teve, membaca koran, dan informasi dari tetangga tentang orang miskin yang mati kelaparan di antara bangunan megah milik orang kaya. Kita juga sering menonton keluarga busung lapar di tengah lingkungan orang kaya dan kita menyaksikan banyak golongan minoritas dirampas haknya.

Namun penderitaan rakyat kecil tak membuat pemimpin iba. Lalu kita merindukan sosok yang dirindukan rakyat. Agaknya kita bisa berpaling ke walikota terbaik dunia 2014 Risma yang ikut membagikan masker kepada warga yang terkena musibah gunung Kelud, menangis melihat perempuan PSK yang berusia 60-an di lokalisasi Dolly yang masih ‘melayani’ usia remaja atau bahkan risma ikut memikul kayu bersama stafnya yang sedang kerja bakti. Sekarang kita dapat menemukan pemimpin yang bisa empati terhadap masalah rakyatnya. Ada tapi sedikit.

Kondisi inipun berbeda dalam kehidupan keluarga Miranda bantuan lebih banyak mengalir dari donator (masyarakat sipil) dan pemerintah kita malah lempar tanggung jawab dengan alasan dana operasional relative kecil (kendari pos 1/3/2014). Itulah kiranya mengharapkan lebih banyak pada pemerintah ibarat punguk merindukan bulan. Jauh dari harapan. Kalaupun ada bantuan akan dipolitisir.

Kisah Miranda adalah puncak gunung es. Masih banyak banyak kasus serupa yang tidak tertangani dengan baik oleh pemerintah tetapi mendapat perhatian dari masyarakat sipil. Kiranya pemerintah kita mawas diri tentang perannya selama ini.

Jaman sekarang bukan lagi sistem feodal di mana pemerintah (penguasa) di junjung dan di gugu seperti dewa yang dilayani. Tapi pemerintah yang turun melayani dan merasakan pahit getirnya kehidupan masyarakat kecil seperti kisah hidup Miranda.

Miranda adalah kondisi kita hari ini di Indonesia.
Share:

Thursday, February 27, 2014

Zahra

Karena kau adalah bunga
Tempat menghirup segala wangi
Tak habis habisnya

Dan kau adalah bunga
Segala rupa di tamanmu
Tak lelah tumbuh kelopak Ungu, merah dan putih

Kau adalah kilatan cahaya yang menyapu lenyapkan segala jejak dan bayang*

Kau adalah Zahra
Bunga semesta.

---
*dee dalam Supernova "petir"

Share:

Saturday, February 22, 2014

Kejujuran intelektual

Mundurnya Anggito setelah dirinya dianggap menciplak karya orang lain sebagai langkah maju seorang intelektual. Anggito yang pengajar FEB UGM itu tahu bahwa masalah yang dihadapinya bukan hanya soal dirinya tapi juga membebani institusi.

Dalam dunia akademik plagiarisme adalah hal yang diharamkan olehnya itu setiap karya ilmiah seperti skripsi, tesis sampai disertasi diharuskan mencantumkan pernyataan bahwa karya seseorang nersifat orisinil dan tidak mengutip karya orang lain kecuali desibutkan dalam daftar pustaka.

Walaupun diharamkan masih saja sering terlaji penciplakan karya tanpa menyebutkan sumber. Saya masih ingat ketika menempuh pascasarjana di UGM ada beberapa teman kelas saya yang ketahuan mengcopy paste karya orang lain. Dan itu seluruhnya tanpa parafrase (walaupun parafrase tetap harus mencantumkan sumber). Beruntunglah teman itu karena hanya diberi waktu untuk membuat yang baru karena dosen menganggap sebagai pembelajaran.

Contoh kecil diatas penting bahwa sejak dinyatakan menjadi mahasiswa maka sudah harus diberikan pedoman atau perturan akademik tentang dunia tulis menulis ilmiah. Mahasiswa sudah musti diperkenalkan cara menulis yang baik dan mengutip yang baik sehingga dapat mengurangi kasus serupa di waktu mendatang.

Kasus plagiat Anggito dan jika itu benar adalah kasus yang selalu berulang ulang dan aneh karena pemerintah dalam hal ini kemendikbud masih saja saya anggap kurang responsif dalam menghadapi fenomena ini.

Di kampus kampus baik negeri maupun swasta masih banyak mahasiswa dan berlevel guru besar melakukan plagiat karena pembiasaan dalam menulis ilmiah tidak menjadi tradisi.

Anggito memang telah dimaafkan oleh Hatbonar Sinaga tetapi kita tidak bisa memaafkan plagiat yang dilakukannya jika itu benar.

*

Saya mengenang pertemuan dengan Anggito disebuah musallah FEB Salman Al Farizi. Betapa kagum saya melihat sosok yang gagah dan sederhana itu. Tidak salah memang jadi dosen favorit di FEB bahkan UGM karena kepandaian dan kesederhanaanya.

Dan saya masih tidak percaya Anggito melakukan plagiat. Sampai hari ini dan tak menghilangkan rasa kagum saya padanya.

Demikianlah kiranya kasus Anggito dapat terjadi pada semua orang. Maka selayaknya hati hati dan jujur dalam menulis.

Share:

Thursday, February 20, 2014

Wednesday, February 5, 2014

Selamat Jalan Arief

Kisah tentang kematian adalah kisah tentang hari hari kita. Seperti waktu yang linear yang berganti tanpa harap terulang.

Kematian seakan menjadi penanda bahwa waktu (umur) menjadi pengingat. Demi masa

Kematian pun mengingatkan pada sahabat saya di diklat 17 Perbakin Unhas. Masih segar dalam ingatan saat lari bersama mengelilingi kampus hingga dada kembang kempis, mencari titik koordinat di hutan belantara maros, keceriaan menggapai bukit teletubbies hingga camping di lereng gunung bawakaraeng. Saya masih ingat itu.

Cerita dan keceriaan itu tak akan kita rasa bersama sahabat. Engkau mencari jalan lain yang lebih damai dari dunia, selamanya.

Cerita bersama itu akan saya kenang dan tentu para diklat 17 tentang dirimu yang paling tampan di diklat itu, tentang dirimu yang penuh kekonyolan dan tentang dirimu dengan segala kesederhanaanmu.

Selamat jalan sahabat Arief dan Bijaksana.

Share:

Thursday, January 30, 2014

Bandara

Saya baru saja tiba di bandara dengan beban satu tas punggung,  satu tas selempang, satu kardus. Yang terakhir ini musti dibagasikan.

Di sekeliling terlihat hilir mudik penumpang dengan bawaan masing-masing, ada yang membawa travel bag, tas kresek dunkin donat, kacamata diatas kepala dan aroma wangi dengan merek terkenal.

Ada juga penumpang lain hampir sama dengan saya dengan bawaan yang berjejal bersama tumpukan kardus dengan pakaian yang jauh dari kesan mewah.

*

Inilah realitas di bandara dengan beragam kelompok sosial ekonomi. Dulu ketika tiket pesawat harganya selangit maka hanya yang berduit saja yang bisa menikmatinya. Saya masih ingat di zaman kuliah harga tiket masih mahal pilihan paling rasional adalah menggunakan moda transportasi bis antar kota antar provinsi atau kapal pelni yang selalu sesak dan tidak terawat itu.

Tiket murah

Namun sejak maskapai penerbangan banting harga dengan tiket bak karcis nonton acara pasar malam maka orang berlombalomba untuk dapat menikmati burung besi ini.

Dengan slogan flying chip maskapai seakan memberikan jalan bahwa semua orang punya kesempatan sama untuk bisa terbang melihat awan putih dan lanskap di atas ketinggian ribuan kaki.

Seno Ajidarma melihat ini sebagai revolusi harga tiket pesawat yang telah mengubah konotasi terbang-orang naik pesawat tidak hanya dinikmati kaum berduit saja.

Dengan begitu kelas menengah ke bawah pun tergiur dan memanfaatkan kesempatan dan akhirnya meninggalkan kebiasaan lama: naik bis atau pelni. Akhirnya bus sekarang hanya untuk dijadikan pengangkut barang dan kapal pelni tinggal menyisakan hitungan jari dan menjadi besi tua.

Maka jangan heran kalo di bandara penumpang masih membawa kebiasaan lama: kardus dengan ikatan tali rafia, tumpukan barang lainnya. Ya seperti saya ini.

Dalam semua ini perubahan konotasi terbang adalah bagian dari ekonomi kebudayaan yang telah berubah dan komodifikasi atas produk barang dan jasa. Semua sama di mata ekonomi kebudayaan-yang penting bisa bayar.

---
Di Bandara Juanda Surabaya menuju Makassar 29 Januari 2014

Share: