Saturday, August 4, 2012

Sisifus

--dalam kesiasiaan

ADA saatnya melakukan hal yang sia-sia namun menikmatinya. berulang dan berulang lagi. dan itu sepertinya tak pernah selesai dan (seolah-olah) berlangsung tiada akhir.

saya tak tahu persis seperti apa kesiasiaan itu. namun cerita ini mengingatkan saya tentang Sisifus. cerita itu dibuat dramatik dan lebih hebat dari yang pernah diceritakan Homerus. kisah itu ditulis ulang Albert Camus dengan menyedihkan.

Sisifus mahluk gagah namun lemah harus rela dihukum para Dewa dengan terus menerus mendorong batu besar sampai ke puncak gunung. batu yang jatuh di kaki gunung itu harus di dorong kembali sampai ke puncak. begitu seterusnya. terus seperti itu, sampai tak tahu kapan!

Sisifus yang malang itu kita akan temukan di tulisan Albert Camus dalam buku Mite Sisifus, Pergulatan dengan Absurditas. Bagi siapa yang pernah membacanya akan tahu betapa usaha manusia kadang berujung pada ke-sia-sia-an.

Camus mengisahkan Sisifus sebagai pahlawan atau mahluk yang absurd. nafsunya terhadap dunia harus dibayar dengan tenaga hanya untuk sebuah usaha yang tidak tahu kapan ada usainya.

Dan saya takutkan itu terjadi pada saya. Yang tadinya realistis akhirnya pesimis dan berujung pada duka yang tak terperi. hari demi hari, bulan demi bulan tidak menemukan apa-apa. Hampa.

saya sebenarnya seorang yang optimis. tapi apa lacur, kenyataan yang membuat pesimis. mungkin saja, saya di hukum Tuhan yang kemudian membiarkan saya berusaha namun selalu gagal. saat mencoba bangkit di saat itu pula saya jatuh, begitu dan begitu lagi. entah sampai.

Albert Camus yang menulis (ulang) Mite itu melihat Sisifus sebagai seorang yang menderita begitu hebat dengan sebuah batu besar yang tidak tahu sampai kapan berhenti didorongnya. maka saya secara (tak) sadar telah melakukan hal yang tidak kalah absurdnya dengan Sisifus.

Saat ini saya terbayang Sisifus bersama batu besar namun dalam kisah yang lain: berujung perasaan gembira. semoga
Share: