Friday, May 25, 2012

Lontara Rindu

Tak banyak yang dapat mengangkat cerita lokal terlebih daerah yang terpencil di Sulawasi Selatan begitu hidup dalam tarikan tulisan sebuah novel. Tapi Gegge Mappangewa, novelis Sulawesi Selatan yang saya kenal sejak membaca majalah anak muda (dulu Aneka, Annida)—sekarang tak lagi—itu berhasil mengangkat eksotika alam Sulawesi Selatan khususnya Sidenreng Rappang, tempat para Bissu, Tolotang--tempat penulis novel ini berasal. Konon sang penulis harus menghabiskan berbulan-bulan riset (lived in) tentang kepercayaan lokal itu untuk memberi 'roh' pada cerita yang diangkat (ini sumber dari sang istri penulis).

Dan baru kali ini saya merasakan yang dalam tentang alam raya Sidrap khususnya Cendrana melalu sebuah novel inspiratif: Lontara Rindu. Saya tentu berutang budi pada sang istri penulis novel ini, Nuvida Raf, saya lebih suka memanggilnya Teh Upik, mentor dan senior terbaik di jurusan. Saya yang ingin membeli novel ini malah dibawakan langsung oleh sang istri penulis dan tentu saja hanya nitip baca. Selebihnya saya harus membeli di toko buku.

Dan, saya terkesima. Bisa dibilang takjub melihat narasi novel ini dan tentu saja alam Sidrap yang menghampar luas tanah untuk padi dan ritual magis Tolotang yang hidup sampai hari ini. tak lupa juga saya takjub pada tokoh yang disebutkan. Lontara Rindu mengisahkan anak manusia Bugis : Vino dan Vito yang terpisah jauh karena perceraian keluarganya. Perbedaan kepercayaan antara Islam dan Tolotang yang tak bisa disatukan (walau dalam realitasnya tidak nampak) menjadi alasa keretakan keluarga. hamparan sawah, sekolah dan pengajian ternyata tak mampu menyatukan dua saudara ini. Vito harus memilih tinggal bersama ibunya sedangkan Vino dibawah Ayanhnya. Mereka pun dipsahkan tempat dan selat: Sulawesi dan Kalimantan. yang tersisa kemudian adalah rindu. Dua manusia Bugis yang harus menerima takdir berpisah. bertemu untuk berpisah.



Tapi dibalik keindahan Sidrap, Lontara, dan cerita hikayat Tolotang tersimpan tanda tanya(besar) di novel ini yang luput saat saya bertemu dengan penulisnya, adalah mengapa tokoh-tokoh di dalam novel itu memilih nama Vino dan Vito yang tentu saja kita kenal akrab dengan nama orang-orang kota atau kebarat-baratan? Menagapa tidak diberi nama khas Bugis yang tak kalah cantik "Tenri" misalnya. Tapi lokal biasa bercampur dalam modern yang bercampur baur pada sebuah zaman. Mungkin nama-nama (kampungan) itu tidak lagi cocok diangkat. Ini tentu berbeda di dalam novel 5 Menara yang masih mempertahankan kelokalan tokohnya: Baso, Dulmajid, Alif, Atang dan lain-lain misalnya. atau tokoh Marno dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan yang tak menghilangkan identitas ke-jawa-annya walau hidup di Amerika? Entah.

Namun Rasa hambar nama penokohan itu seakan ditutupi dengan alur cerita yang mengalir daengan tumpah ruah air mata pertemuan Vino dan Vito dan penyelasalan kedua orang tuanya yang memilih untuk sendiri. Kisah kenidahan Cendrana sebuah kampung di Sidrap dan pertemuan-perpisahan Vino-Vito akhirnya melengkapi ceirta novel yang menjuarai lomba menulis Republika 2012 ini.

Saya mengucap trimakasih buat Teh Upik yang meminjamkan novel suaminya untuk saya baca. Walau saya membacanya lompat-lompat (sebuah kebiasaan buruk dalam membaca). Sebuah kredit untuk novel rasa lokal ini atas pencapaian yang luar biasa besar. Mengangkat daerah yang tidak dikenal luas di pentas nasional. Saya yakin setting kelokalan yang cenderung esoterik malah lebih banyak meyimpan daya kejut, seperti dalam novel Lontara Rindu ini.

------
Trimakasih Kak Gegge Mappangewa dan Kak Upik...
Share:

Tuesday, May 22, 2012

Punakawan*

OLEH: HENDARU TRI HANGGORO

SUARA gamelan berhenti. Bagong masuk ke panggung menemui Petruk. “Truk, Gareng kini punya penyakit aneh. Suka menggigit pantat orang,” kata Bagong. Petruk percaya. Setelah itu, Bagong bertemu dengan Gareng. “Petruk kini berekor,” ujar Bagong mencoba membohongi. Seperti Petruk, Gareng percaya. Keduanya kemudian bertemu. Petruk waspada. Dia menutupi pantatnya dengan tangan. Penasaran, Gareng berusaha melihat pantat petruk.

Keduanya berkejaran, hampir berkelahi. Beruntung, Semar datang menengahi. Mereka akhirnya tahu bahwa Bagonglah dalang keonaran ini. Semar berkata, “Membuat isu atau sas-sus itu tidak baik. Cuma bikin celaka orang dan kisruh.” Adegan-adegan ini terdapat dalam acara Ria Jenaka di TVRI pada 1980-an.­ Sebuah acara yang menjadi corong penguasa untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan melalui tokoh panakawan atau biasa disebut juga punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang lekat dengan lawakan dan keanehan bentuk tubuh. Tak seperti awal kemunculannya.

Kemunculan panakawan dalam tradisi seni pertunjukan di Indonesia dapat dilacak pada relief-relief candi dan naskah-naskah kuno Nusantara. Beberapa relief di Candi Prambanan dari abad ke-9, menggambarkan panakawan. Gambar-gambar dalam relief Prambanan mengisahkan tokoh-tokoh utama yang didampingi oleh seorang pengiring. “Para pengiring itu berpenampilan tampan dan cantik,” tulis Edy Sedyawati, guru besar arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dalam “Panakawan di Masa Majapahit”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara tahun 2009.

Para pengiring itu menemani tokoh utama dengan pakaian yang berbeda. Bentuk tubuh mereka normal seperti tokoh utama. Mereka menemani tokoh utama hingga ke hutan. Menurut Edy, inilah arti dasar panakawan, kawan yang diharapkan siap membantu tokoh utama, baik jahat maupun baik, dimanapun. Kawan yang mampu memberikan nasihat kepada tokoh utama. Tetapi istilah panakawan kala itu belum dikenal.

Panakawan berasal dari dua kata, pana dan kawan. “Pana berarti mumpuni, sedangkan kawan dapat berarti seseorang yang cukup dikenal,” tulis Trias Yusuf, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dalam “Panakawan Dalam Tradisi Kesenian Pesisir Jawa”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara. Menurutnya, istilah ini baru muncul pada masa Yasadipura abad ke-18 di Surakarta. Istilah yang sepadan dengan panakawan tersua dalam Kakawin Gathotkacasraya yang ditulis pada masa Raja Warsajaya dari Kediri (1104-1135).

Kakawin tersebut memuat istilah Jurudyah Punta Prasanta untuk menerangkan pengiring tokoh utama, Abhimanyu. Penyebutan itu merujuk pada satu orang. Kata “Juru” menunjukkan pekerjaan sang pengiring, mengurus atau mengasuh. Kata “Dyah” dapat berarti orang muda keturunan raja-raja. Sementara kata “Punta” merupakan nama depan sang pengiring, dan “Prasanta” nama panggilannya. Tokoh-tokoh dalam kakawin tersebut bersifat historis-mitologis. Artinya, mereka ada walaupun kisah mereka berbalut dengan simbol-simbol dan mitos.

Profesor Soetjipto Wirjosoeparto, mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyatakan bentuk tubuh pengiring dalam Gathotkacasraya digambarkan layaknya manusia. “Dalam deskripsinya tidak disebutkan bahwa tampilannya serba aneh dan kocak,” tulis Soetjipto sebagaimana dikutip Edy Sedyawati. Gambaran Ini masih sesuai dengan relief Prambanan. Tugas mereka pun masih jauh dari melawak.

Ketika kemasyhuran Kerajaan Kediri meredup, Kerajaan Majapahit perlahan bersinar. Candi-candi Majapahit segera berdiri di wilayah bekas Kerajaan Kediri. Candi-candi itu memiliki relief yang menggambarkan para pengiring yang agak berbeda dengan masa sebelumnya. Edy Sedyawati menambahkan bahwa beberapa candi yang dibangun pada abad ke-14 seperti Tegawangi, Kedaton, dan Surawarna mulai menampilkan relief adegan pengiring berbadan gemuk.

Dalam relief Candi Tegawangi misalnya, terdapat gambar dua pengiring berbadan gemuk. Pengiring itu masuk dalam relief cerita Sudamala, yaitu cerita ruwatan yang melibatkan Sadewa, salah satu tokoh Pandawa. Kedua pengiring sedang berpacaran dalam posisi yang menggelikan. Seorang pengiring keluarga Pandawa, Semar, mulai dikenal melalui cerita Sudamala dalam relief candi Sukuh tahun 1439 dan Kakawin Sudamala.

Berbadan serba bulat, berbibir maju, dan bermata besar, Semar tak melulu memberikan nasihat, melainkan juga humor untuk tuannya. Dengan demikian, Sedyawati berkesimpulan bahwa tokoh panakawan yang berbentuk tidak lazim, namun bersifat lucu mulai muncul kala Majapahit.

Memasuki masa kesultanan Islam, para wali mengenalkan para pengiring dengan bentuk dan fungsi yang berbeda itu ke dalam wayang. Menurut Ronit Ricci, peneliti pada Universitas Michigan, dalam “Conversion to Islam on Java”, Jurnal KITLV, Vol. 195 No. 1 (2009), “Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sering dianggap perekacipta pengiring tersebut dalam pertunjukan wayang.” Kedua sunan di tanah Jawa ini membalut kisah Ramayana, Mahabarata, dan Sudamala dengan ajaran Islam. Padahal, kisah Ramayana dan Mahabarata versi India sama sekali tidak menyertakan pengiring untuk tokoh utamanya. Apalagi sampai yang berbentuk aneh.

Selain Semar, pada masa itu muncul pula nama-nama pengiring lain seperti Petruk, Gareng, dan Bagong. Mereka tidak hanya sekadar penasihat tokoh-tokoh utama, tapi juga berlakon sebagai pelawak-cum-kritikus. Sebab, lawakan mereka hanyalah alat penyampai kritik sang pujangga atau dalang. Gambaran tokoh ini semakin banyak ditemukan dalam karya-karya sastra masa Yasadipura seperti Wedatama. Mereka kemudian dikenal dengan nama panakawan.

Memasuki abad ke-20, panakawan populer dalam pertunjukan wayang, ketoprak, dan seni pertunjukan lainnya. Penonton selalu menunggu kehadiran mereka. Tak heran, penguasa Orde Baru menggunakannya sebagai corong propaganda dalam acara Ria Jenaka

----
*tulisan ini saya kutip langsung dari http://historia.co.id/artikel/1/1014/Majalah-Historia/Kawan_Penasihat_dan_Pelawak.
**baca juga punawakan saya disini
Share:

Friday, May 11, 2012

Karena sehelai foto

ADA PEPATAH CINA, satu foto lebih berarti dari seribu kata. Foto bisa melukiskan nuansa: tentang hamparan sawah yang mulai menguning; aliran air, kesunyian desa, atau senja yang merah dan kemudian diabadikan dalam frame.

foto bisa berbicara banyak hal. dan foto pun bisa ditinjau dari beragam sisi sebanyak arah mata angin.

*

Saya tidak tahu persis apakah foto bisa menjadi bencana yang bisa mengahiri hubungan dan pertemanan? Mungkin. Seseorang menganggap ini sebuah kesia-siaan jika hanya foto kemudian mengkahiri semua cerita. Ini bagai sebuah tragedi saya pikir.

terkadang seseorang tak siap menghadapi kenyataan yang kemudian membuat kisah dengan amat tragis hanya karena foto. Foto kadang bisa membuat tertawa juga kadang membuat seseorang disumpahserapahi.

hanya karena sebuah foto.

melihat foto itu memang bisa multi tafsir. Di tengah kegalauan itu saya kemudian membaca blog ndorokakung (salah satu blogger yang inspiratif yang pernah saya baca). ia bilang, selembar foto bisa bercerita banyak hal:
"Sebagian orang bahagia menemukan rumor-rumor yang tersebar di jejaring sosial. Sebagian lagi, terutama yang bersangkutan, terkesima atau kaget karena merasa tak siap"
kadang saya mengambil hikmah dari kejadian ini saya anggap semacam kutukan bagi saya yang selalu mengumbar foto-foto dan sifat narsis--walau sebenarnya tak percaya diri. Di dunia maya (termasuk juga BBM) yang dulu saya senangi untuk banyak mengumbar foto (narsis) akhirnya memaksa saya untuk berfikir ribuan bahkan jutaan kali untuk mengunggah foto lagi. kenarsisan saya dengan foto akhirnya harus dibayar mahal...

jika seperti ini, hari-hari kedepannya tak akan ada foto-foto narsis yang muncul. Untuk beberapa saat bisa jadi. setelah itu narsis kembali.

Saat seseorang kehilangan foto, saat itupula citra dan imaji lenyap. saya ingat tulisan di majalah BASIS tahun 2002 yang menulis tentang Marilyn Monroe. Saat itu Marilyn kelihatan acuh tak acuh melihat dirinya dalam citra foto.

Hal itu terungkap dari kisah Kirkland yang memotret Marilyn delapan bulan sebelum kematiannya di tahun 1962. Kirkland berkisah ketika melihat Marilyn pada waktu itu seakan melihat tiga pribadi dalam satu tubuh yang kesemuanya bernama Marilyn Monroe.

Kirkland tahu sebagai fotografer, dalam foto, citra seorang bisa menjadi lebih banyak.

Dulu, foto bisa menjadi cara mengungkap kenarsisan tapi bagi saya hari ini meragukannya karena sebuah foto itu tak lagi punya daya hidup. Sekarang, iya, karena foto bisa membuat orang bertengkar, saling melupa dan beragam kejadian yang tak mengenakkan hati. Dan akhirnya karena sehelai foto seseorang mengambil jalan pintas dan kemudian selesai begitu saja: melupa!

-----
  • sebagai kenangan, saya mengambil foto masa kecilmu dan juga foto narsismu sebagai ingatan jika saya rindu. ah, ini karena foto itu...
  • hati-hati dengan foto.
Share:

Wednesday, May 2, 2012

Pada sebuah foto

ADA selembar foto hitam putih yang
kusisip diselasela lembar diarimu

empat kata manis dari Rendra di pojok kanan bawah
bertera: "daya hidup adalah kau"
ia berbicara tentang kau yang hadir
dari segenap masa silamku

foto kecil yang hitam putih itu,
mencoba menghadirkan kenangan
yang beku
sebab cepat atau lambat ia usang atau
sobek atau malah hilang entah kemana
dan kita tak pernah tahu kabarnya.

disini, di tempatku menjauh
hanya sanggup menerka-nerka
apakah foto yang kusisipkan itu
mengingatkanmu tentang aku?

entah, ingatan hanyalah angin yang lewat.

--------
Yogyakarta, 02052012
Share: