Sunday, November 11, 2012

Passion

SETIAP membaca tentang passion saya selalu teringat dengan kata para pakar sumber daya manusia atau marketing. Katanya, passion tidak berhenti hanya pada tataran mimpi namun diwujudkan. Passion juga musti tepat sasaran. Misalnya ketika seseorang punya passion tentang dunia perbukuan maka dia mewujudkan dengan menjual atau kerja dibagian penerbitan tidak dengan cara masuk dalam dunia perbankan. Itu yang disebut passion. 

Dan saya terbius juga kata-kata para pakar SDM dan pemasaran itu. Saya kemudian mewujudkan passion saya itu (yang dipupuk sejak dulu) mengenai perbukuan dengan membuka toko buku Koran dan majalah. Disamping Koran dan majalah tempat itu akan saya jadikan sebagai rumah baca.  

Langkah itu itupun saya mulai sebagai ‘mimpi kecil’ tentang passion saya yang sudah saya rawat bertahun tahun sudah: Membuat toko buku. Tak hanya itu, toko yang nanti isinya koran dan majalah itu juga berisi buku koleksi saya selama kuliah, baik di Makassar maupun di Yogyakarta. Tidak terlalu luas 3x4 persegi yang dibuat dari kayu beratap seng. Tapi saya rasa itu cukup untuk menjelaskan pada diri saya tentang arti sebuah passion seperti kata para pakar-pakar itu. 

Syahdan, toko itu walau tak terlalu luas tapi lumayan telah menguras tabungan dan malangnya sampai harus merelakan BB butut saya (untung tidak menjual baju dan celana seperti lagu Jaja Miharja). Saya tak mampu membayangkannya seandainya saya hanya menunggu kaya (yang tak tahu kapan kaya) kemudian membangun passion saya itu. Lagkah besar musti dimulai dari langkah kecil. Saya akhirnya memberanikan diri. Berkat dukungan kebaikan Non Akhmad dan kakak saya yang meminjamkan tanah miliknya yang sudah bertahun tahun menjadi 'tanah mati' di daerah strategis Bypass Kendari maka saya memberanikan membangun sebuah toko kecil. Kebutuhan biaya yang taksiran awal saya Cuma tiga jutaan ternyata melesat jauh. Biaya papan, balok ,seng dan sebagainya hanya cukup jadi bahan-bahan. Belum bisa berbentuk menjadi bangunan. Masih dibututuhkan bahan-bahan lain: paku dan lain sebagainya untuk bisa membangun rumah pengetahuan itu. Akhirnya barang2 yang bias dijadikan uang dijual untuk menutupi kekurangan itu. Lagi-lagi saya terhipnotis dengan kata para pakar manajemen yang selalu hinggap dalam kepala saya: Passion. Sudah kepalang tanggung memang, passion saya kedepannya jika toko buku itu jadi akan menjadi ‘rumah pengetahuan’ bagi orang yang ingin membaca dan berdiskusi. 

Saya menyadarinya bahwa toko itu disatu sisi tidak bias menjadi nirlaba atau kebaikan semata tapi butuh modal untuk terus survive. Maka konsep toko buku saya itu mengandalkan logika ekonomi dan disisi lain logika sosial. Logika ekonomi saya gunakan untuk memutar majalah dan koran dengan mengambil beberapa keuntungan penjualan sedang logika sosial saya gunakan untuk kepentingan bagi orang yang ingin membaca koleksi buku-buku saya.ini karena sebuah passion untuk membuat taman baca yang tinggal menjadi monument bersejarah buat saya pribadi dan untuk anak-anak saya kelak.

saya teringat kembali kata pakar itu, passion tidak berhenti pada mimpi...
Share:

Wednesday, October 24, 2012

Yogya

# izinkanlah untuk kembali ke kotamu

KOTA INI TIDAK TERLALU LUAS, hanya sekitar 48 kilometer jika tak salah. Di bagian Utara menjulang gunung api yang disebut Merapi. Di bagian Selatan membentang Samudra luas yang gemuruh ombaknya membuat bulu kuduk merinding. Orang menyebutnya pantai selatan, (samudera Hindia), tempat bersemayamnya Nyi Roro Kidul. Di bagian Timur, batuan Andesit membentuk candi Prambanan, satu dari produk masa silam yang bercerita kisah dramatik skaligus tragik-Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang. Sedang di bagian Barat tempat terbenam matahari yang sangat indah apalagi di sore hari ketika daun-daun yang kering jatuh membentuk sebuah seremoni sederhana.

Perpaduan atau jika tidak bisa dikatakan perang antara tradisionalitas versus modernitas juga sangat terasa di kota ini. pasar-pasar tradisional masih terjaga diantara produk-produk global membanjiri di mal. Kita akan menyaksikan itu setiap hari di tempat ini.

Bagi saya, selama dua tahun tak pernah habis menyanjung. Walau pengalaman selalu bersifat objektif tapi orang yang datang ke tempat ini selalu ingin mengulang. Dan itu tak bisa saya bantah bahwa saya menyukai kota ini. Bagi saya, kota lama, candi, pantai, gunung, museum, toko buku menarik perhatian saya selama menghabiskan waktu belajar di kota ini.

Di kota inilah saya menghabiskan banyak waktu membaca dan menulis pengalaman hidup. di tempat inilah saya banyak belajar tentang arti sebuah kesederhanaan dan di tempat inilah saya belajar dan belajar.

Saya ingin lagi kembali ke tempat ini, tentu dalam suasana lain tidak lagi untuk sekolah namun beromantika. Mungkin lain waktu.

sesaat setelah wisuda, Yogyakarta 24102012
Share:

Saturday, October 20, 2012

Status

#Aku update status maka Aku ada

Di zaman modern ini dengan media informasi teknologi sebagai penopangnya, eksistensi seseorang bisa terlihat dengan mudahnya. Di jejaring sosial sebut saja FB, YM, sampe ‘mainan’ baru Twitter menjadi cara orang eksis. Dalam sekejap status memenuhi lini masa. Tumpah ruah dengan segala macam persoalan bahkan sampe ke wilayah privat. Ada yang meng-update status dengan polosnya “@pantai bersama kekasih hati”, ada juga yang sedang di mal menulis “mumpung lagi di mal, beli pakean bermerek ah” ada juga yang sedang galau menulis seperti ini “lagi galau, butuh teman curhat” dan beragam permasalahan dengan sekejap bisa menjadi konsumsi publik.

Status yang seharusnya menjadi wilayah privat kini harus dicurahkan biar menjadi milik publik. Dulu, dulu sekali orang malu jika informasi yang bersifat rahasia itu diketaui publik namun kini lebih seru apabila menjadi konsumsi orang banyak. 

Tapi sebagian orang tidak mengira bahwa data-data yang telah terlulis dalam lini masa terekam dalam sebuah server besar. Jangan heran segala aktifitas yang terjadi beberapa tahun silam bisa ‘dipanggil’ kembali dalam hitungan beberapa menit saja. Orang tidak mengira data-data yang telah dipublish akan hilang begitu saja padahal sebenarnya tidak.

Manusia sekarang memang sedang dihingggapi dengan status, homo statusian-manusia dengan status. orang ingin lebih dikatakan hebat, atau gaul ketika mampu mengupdate status setiap jam, menit bahkan detik. Dan status menjadi ajang pamer diri. Status terenti di lini masa. Dan malangnya, media informasi (jejaring sosial) tahu sisi kekurangan manusia ini dengan memanfaatkan celah dilema manusia. status sudah memenjarakan orang. Rasanya lain atau ada yang kurang ketika tak mengupdate status. Agaknya tulisan Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional bisa menjadi renungan bersama bahwa dilema sedang melanda manusia rasional.

Aku mengupdate status maka Aku Ada...
Share:

Saturday, August 4, 2012

Sisifus

--dalam kesiasiaan

ADA saatnya melakukan hal yang sia-sia namun menikmatinya. berulang dan berulang lagi. dan itu sepertinya tak pernah selesai dan (seolah-olah) berlangsung tiada akhir.

saya tak tahu persis seperti apa kesiasiaan itu. namun cerita ini mengingatkan saya tentang Sisifus. cerita itu dibuat dramatik dan lebih hebat dari yang pernah diceritakan Homerus. kisah itu ditulis ulang Albert Camus dengan menyedihkan.

Sisifus mahluk gagah namun lemah harus rela dihukum para Dewa dengan terus menerus mendorong batu besar sampai ke puncak gunung. batu yang jatuh di kaki gunung itu harus di dorong kembali sampai ke puncak. begitu seterusnya. terus seperti itu, sampai tak tahu kapan!

Sisifus yang malang itu kita akan temukan di tulisan Albert Camus dalam buku Mite Sisifus, Pergulatan dengan Absurditas. Bagi siapa yang pernah membacanya akan tahu betapa usaha manusia kadang berujung pada ke-sia-sia-an.

Camus mengisahkan Sisifus sebagai pahlawan atau mahluk yang absurd. nafsunya terhadap dunia harus dibayar dengan tenaga hanya untuk sebuah usaha yang tidak tahu kapan ada usainya.

Dan saya takutkan itu terjadi pada saya. Yang tadinya realistis akhirnya pesimis dan berujung pada duka yang tak terperi. hari demi hari, bulan demi bulan tidak menemukan apa-apa. Hampa.

saya sebenarnya seorang yang optimis. tapi apa lacur, kenyataan yang membuat pesimis. mungkin saja, saya di hukum Tuhan yang kemudian membiarkan saya berusaha namun selalu gagal. saat mencoba bangkit di saat itu pula saya jatuh, begitu dan begitu lagi. entah sampai.

Albert Camus yang menulis (ulang) Mite itu melihat Sisifus sebagai seorang yang menderita begitu hebat dengan sebuah batu besar yang tidak tahu sampai kapan berhenti didorongnya. maka saya secara (tak) sadar telah melakukan hal yang tidak kalah absurdnya dengan Sisifus.

Saat ini saya terbayang Sisifus bersama batu besar namun dalam kisah yang lain: berujung perasaan gembira. semoga
Share:

Saturday, July 21, 2012

Ramadan masa kecil

setiap menjelang puasa ada satu hal yang selalu terkenang: berpuasa di kampung. menikmati malam yang beringsut menuju sahur yang saya lakukan bersama teman-teman kecil berlarian di tengah lapangan kosong setelah salat Tarawih. setelah itu berpawai menggunakan perkusi tradional hand made dari bahan bekas dan membangunkan orang yang masih lelap dalam tidurnya.

Setelah menghabiskan waktu mengaji dan menghafal surat-surat pendek di surau. kami menyiapkan permainan yang di kampung disebut "meriam bambu". permainan itu memang terbuat dari bambu yang diisi minyak tanah yang dapat menghasilkan bunyi yang keras...booom, begitu bunyinya. suaranya memang agak mirip meriam seperti dalam film-film atau perang di zaman penjajahan. kami menyalakan meriam bambu itu menjelang buka puasa dan kemudian lanjut lagi setelah shalat tarawih.

Itulah kenangan yang muncul di saat ramadan yang telah saya lalui selama dua puluh tahunan ini. bayangan masa kecil bersama teman-teman sebaya melarutkan angan saya jauh di kampung. jauh sekali. Masa kecil saya sangat menyenangkan walau saya terlahir dalam keluarga yang tidak berkecukupan tapi masa kanak-kanak saya tidak kalah dengan kebahagiaan anak kecil sekarang ini dengan 'manjaan' beragam permainan modern dan instan: playstation, x-box nintendo, PSP dan gagdet lainnya. Waktu kecil saya hanya bermain di sawah atau lapangan dengan beragam permainan. Main asin, meriam bambu dan permainan unik lainnya.

Yang paling saya ingat saat selesai tarawih, semalam suntuk terjaga hanya bermain bersama teman-teman sambil menuggu sahur. Segala bentuk alat perkusi dari bambu, rebana sampai botol air mineral pun tak ketinggalan. Semuanya riuh sambil menembus kabut yang dinginnya sampe ke tulang.

bagi saya, permainan yang tak saya bisa lupakan adalah meriam bambu. Meriam ini terbuat dari bambu kualitas terbaik dan diamternya harus besar. Panjangnya bisa mencapai 2 meter. Kemudian dibuat lubang dibagian atas dan diisi minyak tanah. Bentuknya memang menyerupai meriam. ada saat naas, ketika itu seluruh rambut alis saya hangus terbakar karena terkena semburan api dari lubang api meriam bambu itu. efeknya tak bisa ke luar jauh-jauh karena malu jadi bahan tertawaan teman-teman.

tapi kini permainan itu jarang lagi terlihat di tempat saya. anak-anak sekarang lebih suka bermain Kembang api atau Mercon atau menghabiskan waktunya di mal dan tempat-tempat makan cepat saji. saya cukup beruntung merasakan permainan tradisional itu. kini anak-anak sekarang dimanjakan dengan permainan yang serba cepat saji/instan sedangkan saya dulu harus bersusah-susah dulu dan itu dari proses kerja sama dengan teman-teman kecil saya. kerja tim sangat terasa.

dunia memang terus berlari seperti yang pernah diungkapkan Gidden tentang The Run Way World. dunia terus berlari seperti kereta jugernaut yang melesat kencang yang siap melibas apa saja. dunia modern sampai posmodern ini meninggalkan ke sudut jauh kearifan-kearifan yang disebut permainan tradisional. dan yang bisa saya dilakukan sekarang adalah terkenang-kenang. Saya yang tak menemukan lagi permainan meriam bambu, main asin/petak umpet, dan permainan tradisional lainnya saat ramadan hanya bisa beromantisme puasa di kampung.

tapi mau bagemana lagi, dunia memang berubah dan semua pasti berubah. seperti ungkapan latin tempus mutantur, et mutamur in illid, waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. seturut diri saya yang terus berubah menjadi tua maka yang ada hanya bisa mengenang masa kecil berlarian di lapangan dan bermain meriam bambu. dan sekarang hanya mampu mengenang.

Ramadan kali ini, Jogja 21072012
Share:

Thursday, July 19, 2012

Ramadan yang tak ideal

Puasa dilakukan oleh orang yang bertaqwa karena umat sebelumnya telah melakukannya sebagai bagian mendekatkan diri pada Allah. sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah, 2: 183 Allah berfirman “wahai-orang-orang beriman! Puasa telah ditetapkan kepada kalian—seperti yang telah ditetapkan kepada mereka sebelum kalian, agar kalian beraqwa.

Puasa kali ini kembali memasuki 1 Ramadan di tengah versi yang tidak ideal; Muhammadiyah melaksanakan puasa di Jumat dan Nahdatul Ulama dan pemerintah melaksanakan Sabtu. Penetapan 1 Ramadan ini telah beberapa kali mengalami perbedaan dan cukup menyita perhatian kaum muslimin di Indonesia.

Beragam komentar di microblogging semacam Facebook, twitter dan lain-lain menandakan bahwa 1 Ramadan selalu bisa membuat bingung. beragam komentar itu telah memperlihatkan secara nyata keresahan-keresahan dari sebagian mereka dipercayakan 'mewakili' ummat. setahu saya, penyatuan 1 Ramadan adalah selalu mengundang perdebatan di Indonesia dan sangat alot. rapat isbat memperlihatkan itu.

Penyatuan puasa bersama memang tidak mudah. Terbukti dengan tidak hadirnya salah satu ormas besar Islam di Indonesia, Muhammadiyah di sidang isbat yang dilaksanakan di kantor kementrian agama. Walau dalam ungkapan para Ulama bahwa perbedaan adalah rahmat namun selalu saja perbedaan itu meresahkan. Padahal Rasulullah dengan mudahnya menentukan kapan mulai berpuasa kapan tidak. idealnya, kemajuan tekhnologi memudahkan itu namun toh perbedaan tidak bisa disatukan. Muhammadiyah menggunakan sistem hisab yaitu perhitungan dengan matematika astronomi, sedang Nahdatul Ulama berpijak pada Rukyat dengan menggunakan Bulan di 2 derajat sebagai tanda masuknya Ramadan.

Terlepas dari perbedaan ini, puasa bagi saya mengingatkan kita kembali tentang pentingnya mendekatkan diri pada hal yang transenden: TUHAN.

Jumat atau Sabtu tiada beda. Selamat ber-ramadan 1433 H. Maaf Lahir Batin.

Share:

Thursday, July 12, 2012

Langkah kecil (berburu beasiswa)

--setelah melintas pulau cobalah Benua

Petikan itu masih terngiang sampai hari ini. saya mengutipnya dari salah satu pemimpi. orang itu bernama Yusran Darmawan senior di kampus Unhas dan inspirasi bagi saya dalam menulis dan tentu banyak yang lain dipengaruhinya. Orang itu telah menginjakkan kakinya di negeri paman Sam tempat sebagian orang melabuhkan mimpinya dalam bersekolah. Ya. Amerika adalah impian.

Namun saya tak harus ke Amerika (karena mustahil) dan tentu saya pun bisa mengarahkan peta harapan saya ke benua lain: Australia (sekarang bagian zona Asia) atau Eropa jika itu juga memungkinkan. Jika Eropa kemana mimpi itu? Belanda dan Jerman. Itu saja.

Mencari informasi beasiswa akhirnya dimulai dan nemu blog yang begitu lengkap menyajikan informasi beasiswa (khususnya Australia) dan itu ternyata dosen UGM juga yang mengambil PhD di bidang teknik. Orang baik itu Pak I Made Andi Arsana, saya lebih suka menyebutnya Bli Andi. Saya pun sok mengakrabkan diri berhubung saya menjadi bagian almamater UGM sehingga ada password biar lebih muda :). saya yakint tanpa embel-embel itu pun Bli Andi tetap peduli. saya pun memperkenalkan diri seterusnya dan seterusnya. Sejak saat itu selang dua hari saya selalu menyempatkan berkunjung ke blognya untuk melihat informasi terbaru darinya.

Bermodal tips dan trik Bli Andi di blognya http://madeandi.com/ itu saya pun memberanikan diri menghubungi Profesor di Australia. Akhirnya gayung bersambut, Profesor Acciaioli merespon baik dengan tema riset saya. dan ia membalas e-mail dengan berbahasa Indonesia, begini katanya:

Dear Sdr. Asis,
Terima kasih atas emailmul. Tentu saja saya tertarik akan penelitianmu. Namun, saya belum mengerti apa yang diminta dari saya sekarang. Saudara minta lebih banyak bahan ttg sistem patron-klien (punngawa-sawi dsb.) di Sulsel atau bagaimana? Apakah saudara pernah membaca artikel saya ttg teori Bourdieu? Apakah saudara cari tempat untuk belajar untuk PhD? Saya bersedia membantu, tapi tolong terangkan dgn lebih mendetail apa yang perlu. Salamaki', Aco

Dan ia melanjutkan lagi dengan emailnya yang membuat saya kegirangan:

Dear Sdr. Hindi,
Tolong kirim proposal (dlm bhs. Inggeris) kepada Professor Victoria Burbank ( ) dan cc/ kepada saya juga. Dia kepala jurusan dan ketua dari Admissions Committee untuk jurusan. Dia akan kirim kepada saudara daftar dari semua bahan yang perlu untuk dievaluasi apakah kami di sini bisa membimbing Sdr. Hindi dan program penelitianmu. Tentu saja kalau Sdr. diterima oleh komiti ini saya bersedia menjadi coordinating supervisor dari penelitianmu untuk PhD. Semoga sukses! Salamaki', Aco

Saya pun membalasnya dengan bahasa singkat. Terima kasih Prof. Atas kebaikannya.

***

Saya senang sekaligus sesal. Betapa tidak peluang untuk ke luar negeri sudah di depan mata namun kendala bahasa (inggris) membuat saya ragu dan juga pesimis. Saya yang hanya memiliki skor toefl 480 (itupun institusi) dengan berani menghubungi seorang profesor. tapi itulah resiko seorang pejuang beasiswa. Mana mungkin saya akan tahu ditolak jika tak pernah mencoba, dan telah saya lakukan. Hasilnya saya belum tahu mengingat proposal belum saya kirim ke sang profesor.

Ternyata rintangan pertama dalam sekolah keluar negeri adalah bahasa. Dan saya baru merasakan itu ketika niatan sekolah keluar negeri mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Sekolah ke luar negeri tak ada yang mustahil.

Saya mulai mempersiapkan sebuah langkah kecil dari sekarang. Walau tak tahu seberapa banyak langkah untuk mencapai langkah besar. Ya, langkah besar dimulai dari langkah kecil. Hari ini di bulan Juli bertanggal 12 bertahun 2012. Jejak langkah sudah dimulai. Yakin Usaha Sampai...
Share:

Thursday, July 5, 2012

Bola Air Mata

EURO 2012 memang telah berlalu tapi masih meninggalkan sedih bagi saya. betapa tidak, menjadi saksi kekalahan sebuah tim yang dicintai terasa menyesakkan dada. seperti diputus cinta. dan saya mengalami itu.

walau efeknya tidak sehebat diputus cinta: tidak nafsu makan, tidak gairah hidup ,susah tidur atau larut dalam seduh sedan yang tak terpermanai namun kekalahan itu selalu saja terbayang.

Italia dengan segudang prestasi dan sejarah di pentas dunia maupun Eropa tak mampu mengimbangi permainan tiki-taka Spanyol, tim yang hanya sekali merengkuh piala dunia 2010 dan dua piala Eropa, 2008 dan 2012. Bandingkan dengan Italia yang meraih titel empat piala dunia satu piala Eropa. Spanyol hanya sedikit memiliki sejarah. tapi malam itu Italia tak mampu meladeni permainan cantik Spanyol yang bermain seperti banteng dalam permainan matador.

memulai dengan banyak masalah intern, Italia berangkat ke Polandia-Ukrania dengan harapan biasa-biasa saja: lolos ke fase grup. selebihnya cukup Belanda, Jerman, Perancis dan Spanyol yang berada di final yang waktu itu memang menjadi tim yang diunggulkan. tapi siapa nyana, permainan cantik diperagakan dengan menginggalkan pakem lama cattenacio. di babak penyisihan mampu mengimbangi permainan Spanyol yang waktu itu tergabung dalam Grup C. menghadapi Inggris lagi-lagi Italia memperlihatkan sebuah tim yang menyerang dan penguasaan bola, Inggris pun harus pulang kampung. di Semifinal pun sama ,Jerman yang lebih diunggulkan harus mengakui kecerdikan Italia. Sejarah selalu berpihak pada Italia ketika bertemu Jerman. dan lagi-lagi pendukung Jerman harus menangis melihat kekalahan tim kebanggaanya. memori kelam 2006 pun terjadi lagi.

Di final menghadapi Spanyol yang memang diunggulkan untuk double winner Eropa, itu Italia tak mampu meredam serangan dari kaki-kaki pemain Spanyol yang memang dari dua klub yang memainkan sepak bola indah Barcelona dan Madrid. akhirnya empat gol tanpa balas bersarang di gawang Buffon. oh la la...

saya belum bisa menerima kekalahan itu apalagi dengan skor yang telak. serasa tak mungkin. di final sebagaimana pertandingan-pertandingan bola yang saya ikuti hanya selisih satu, dua atau adu pinalti. namun final yang terjadi itu serasa sulit saya terima mengingat sejarah juga Italia lebih banyak menang dari Spanyol tapi di malam itu tak ada tanda-tanda sedikitpun Italia bisa membalas gol. tim kebanggan saya itu seperti diajari main bola. tak ada passing, aliran bola yang seperti pertandingan sebelumnya.

akhirnya, tak riang lagi setelah itu bahkan membaca pun tak mau lagi. efeknya memang kuat. membuat saya lemah letih lesu untuk melakukan kegiatan. efeknya memang hebat.

saya memang larut karena saya bukan tifosi yang asal mendukung, asal-asalan dan apalah namanya. dari dulu memang Italia yang monoton dengan pola memarkir bus (orang bilang) tapi saya tidak) lihat sekarang yang menunjukkan permainan impresif di piala Eropa. sejak tahun 1990 di masa Roberto Baggio hingga Pirlo sekarang ini saya selalu mendukung Italia. maka pas rasanya jika saya berduka atas kekalahan tim kebanggaan saya itu.

Italia bagi saya seperti enigma yang membuat saya larut. Entah, nuansa Italia apapun itu saya suka. saya suka dengan sesuatu yang berbau Italia, sejarah, vespa, ekspresi orang-orangnya dan pemikir-pemikir hebatnya.

saya yang suka sejarah membayangkan tim itu seperti sepasukan Romawi yang ekspansif yang berani maju di medan perang dengan semboyan veni vidi vici, kami datang, kami lihat kami menang. film-film romawi dan cerita para kaisarnya pun begitu selalu tak habis-habis dinggit.

butuh waktu lama masa berkabungnya atas kekalahan bagi yang telah lama mengagumi Italia tapi saya yakin bahwa ada saatnya menang ada saatnya kalah karena itulah sepakbola penuh dengan drama yang mengobok-obok emosi. kekalahan itu akhirnya membuat Prandelli bertahan yang sebelum final mengumumkan untuk mengundurkan diri. Dia yakin Italia punya potensi besar untuk menang di kejuaraan berikutnya. mungkin Prandelli dibenaknya adalah bagemana Italia bangkit dimasa-masa keterpurukan seperti yang kisah romawi yang begitu panjang.

saya ingin mengutipkan Coldplay: viva la vida

"...i hear Jerussalem bells a ringing roman cavalry are singing,
be my mirror my sword and shield...


dan Italia akan menggelorakan itu...


Forza Azzuri!!!
Share:

Tuesday, July 3, 2012

Dia di lini masa

kepada Non,

Aku belum lupa mengingat usiamu,
tiga puluh hanya angka pada kalender
yang tiap tahun, jam kau menghitungnya

dan

kau rayakan kini
saat daun-daun gugur di ranting pohon
dan kau tahu itu bahwa
tua adalah berkah

lalu apa yang kau takutkan manisku?

sini kemari
sebelum semuanya terlambat
ijinkan kudekap kau
sekedar berbisik: waktumu adalah kumpulan kisah-kisah

-----
Jogja, saat bulan bersinar terang di malam Juli 2012
Share:

Tuesday, June 12, 2012

12 Juni 2012

TANGGAL 12 JUNI 2012 saya anggap moment terbaik. Pertama. saya menyandang gelar Master of Art (MA) dari salah satu universitas terbaik di Indonesia. Kedua, hari itu berlangsung ujian tesis saya dengan judul Dominasi Simbolik Karaeng. Perjuangan mempertahankan hasil karya ilmiah di depan dewan penguji. Setelah melewati ujian dalam ruangan ber AC(namun membuat keringatan) itu saya lalui dengan baik ditambah catatan: lulus minor dan sangat memuaskan.

Memasuki ruangan ujian dengan sikap spartan toh tidak membuat jantung saya berhenti berdetak kencang...dag dig dug, dag dig dug. serasa mau copot. perasaan bercampur aduk. dalam pikiran saya saat itu hanya ada dua yang ada dalam pikiran saya itu. Master dan penelitian ulang. kampus disini juga terkenal dengan tradisi kritisnya. dan itu yang membuat saya tak henti2nya berfikir.

Namun, ternyata saat presentasi saya yang singkat dan tepat waktu itu mendapat tanggapan positif. maklum, wacana tesis saya agak tertutup dari narasi besar nasional, hanya lingkup lokal yang hanya sebagian kecil mau mendalaminya. tapi tak apa. narasi kecil itu ternyata membuat penguji saya tak henti2nya memberi semangat dan pujian.

Ada yang penting tentang tesis saya, gaya menulis yang dianggap mengalir (untuk itu saya berutang budi sama Kanda Yusran Darmawan) dan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang memberi refleksi tentang menulis. berdosa rasanya tak menyebut guru kebaikan kanda Syamsul 'utu' Anam Ilahi. saya menikmati proses kebersamaan saya di kos 882 dan Pogung :). tanpa saran dia, tesis ini tak jadi saya angkat. Saya tak lupa pula terimakasih saya para Blogger, Pejalan jauh, Hamzah Palolloi, Syam, Meyke, Lispa Bun2, Kang Zen-Pejalan Jauh, Ndoro Kakung. tulisan2 mereke adalah inspirasi buat saya.

Sanjungan berikutnya, dialamatkan pada data yang lumayan berlimpah, untuk itu saya berutang lagi sama Firmansyah, SH, aktivis Pattiro Jeka dan kanda Rusman Ummang untuk penelitian terdahulunya. terlalu banyak data yang diberikan membuat saya pusing untuk menuliskannya :).

Doa kedua orang tua dan keluarga saya, Amma' saya menelpon di pagi buta: "lulus jako itu nak". dan memang lulus. setiap keberhasilan anak, dibelakangnya selalu ada IBU. tanpa mengecilkan peran Tetta saya. Amma' saya memang pribadi yang mengagumkan. dan itu kewajiban seorang IBU, mendoakan anaknya...sudah takut kualat sama Tetta :).

Tak elok jika tak menyebutkan peran perempuan satu ini (karena bisa2 dia ngambek :D). Non Akhmad yang menerima kelebihan dan kekurangan saya. saya bersyukur mengenal gadis Arab-Bugis itu, singkat tapi serasa dekat. ini seperti lirik lagu Savage Garden: I knew I loved you before I met you...saya menemukanmu. Semoga kita bisa dihimpun dalam satu keluarga utuh, tapi itu jika kau mau...

Akhirnya. Saya yang menikmati proses hasil karya itu mendapatkan masukan dan respon yang simpatik dari dewan penguji. sahabat dan orang terdekat saya. bagi penguji, tesis saya dianggap memuaskan dan jika koherensi antara teori, metodologi diramu sedikit maka layak terbit jadi buku. saya tak bisa berkata-kata ketika penguji menyanjung tesis saya itu. dan untuk orang terdekat saya, ucapan mereka adalah motivasi untuk lebih maju lagi. bagi yang saya tahu maupun tidak tahu, ucapan selamat mereka seperti doa yang tak putus-putusnya. terimakasih.

Di UGM, Kampus Biru dan Yogyakarta ini saya banyak membaca dan menulis blog. terimakasih ALLAH. tempat ini memang salah satu tempat ternyaman. sampai hari ini, saya belum mau berhenti menulis. semoga saja

Bulaksumur, Yogyakarta, di Juni yang kering tahun 2012
Share:

Friday, May 25, 2012

Lontara Rindu

Tak banyak yang dapat mengangkat cerita lokal terlebih daerah yang terpencil di Sulawasi Selatan begitu hidup dalam tarikan tulisan sebuah novel. Tapi Gegge Mappangewa, novelis Sulawesi Selatan yang saya kenal sejak membaca majalah anak muda (dulu Aneka, Annida)—sekarang tak lagi—itu berhasil mengangkat eksotika alam Sulawesi Selatan khususnya Sidenreng Rappang, tempat para Bissu, Tolotang--tempat penulis novel ini berasal. Konon sang penulis harus menghabiskan berbulan-bulan riset (lived in) tentang kepercayaan lokal itu untuk memberi 'roh' pada cerita yang diangkat (ini sumber dari sang istri penulis).

Dan baru kali ini saya merasakan yang dalam tentang alam raya Sidrap khususnya Cendrana melalu sebuah novel inspiratif: Lontara Rindu. Saya tentu berutang budi pada sang istri penulis novel ini, Nuvida Raf, saya lebih suka memanggilnya Teh Upik, mentor dan senior terbaik di jurusan. Saya yang ingin membeli novel ini malah dibawakan langsung oleh sang istri penulis dan tentu saja hanya nitip baca. Selebihnya saya harus membeli di toko buku.

Dan, saya terkesima. Bisa dibilang takjub melihat narasi novel ini dan tentu saja alam Sidrap yang menghampar luas tanah untuk padi dan ritual magis Tolotang yang hidup sampai hari ini. tak lupa juga saya takjub pada tokoh yang disebutkan. Lontara Rindu mengisahkan anak manusia Bugis : Vino dan Vito yang terpisah jauh karena perceraian keluarganya. Perbedaan kepercayaan antara Islam dan Tolotang yang tak bisa disatukan (walau dalam realitasnya tidak nampak) menjadi alasa keretakan keluarga. hamparan sawah, sekolah dan pengajian ternyata tak mampu menyatukan dua saudara ini. Vito harus memilih tinggal bersama ibunya sedangkan Vino dibawah Ayanhnya. Mereka pun dipsahkan tempat dan selat: Sulawesi dan Kalimantan. yang tersisa kemudian adalah rindu. Dua manusia Bugis yang harus menerima takdir berpisah. bertemu untuk berpisah.



Tapi dibalik keindahan Sidrap, Lontara, dan cerita hikayat Tolotang tersimpan tanda tanya(besar) di novel ini yang luput saat saya bertemu dengan penulisnya, adalah mengapa tokoh-tokoh di dalam novel itu memilih nama Vino dan Vito yang tentu saja kita kenal akrab dengan nama orang-orang kota atau kebarat-baratan? Menagapa tidak diberi nama khas Bugis yang tak kalah cantik "Tenri" misalnya. Tapi lokal biasa bercampur dalam modern yang bercampur baur pada sebuah zaman. Mungkin nama-nama (kampungan) itu tidak lagi cocok diangkat. Ini tentu berbeda di dalam novel 5 Menara yang masih mempertahankan kelokalan tokohnya: Baso, Dulmajid, Alif, Atang dan lain-lain misalnya. atau tokoh Marno dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan yang tak menghilangkan identitas ke-jawa-annya walau hidup di Amerika? Entah.

Namun Rasa hambar nama penokohan itu seakan ditutupi dengan alur cerita yang mengalir daengan tumpah ruah air mata pertemuan Vino dan Vito dan penyelasalan kedua orang tuanya yang memilih untuk sendiri. Kisah kenidahan Cendrana sebuah kampung di Sidrap dan pertemuan-perpisahan Vino-Vito akhirnya melengkapi ceirta novel yang menjuarai lomba menulis Republika 2012 ini.

Saya mengucap trimakasih buat Teh Upik yang meminjamkan novel suaminya untuk saya baca. Walau saya membacanya lompat-lompat (sebuah kebiasaan buruk dalam membaca). Sebuah kredit untuk novel rasa lokal ini atas pencapaian yang luar biasa besar. Mengangkat daerah yang tidak dikenal luas di pentas nasional. Saya yakin setting kelokalan yang cenderung esoterik malah lebih banyak meyimpan daya kejut, seperti dalam novel Lontara Rindu ini.

------
Trimakasih Kak Gegge Mappangewa dan Kak Upik...
Share:

Tuesday, May 22, 2012

Punakawan*

OLEH: HENDARU TRI HANGGORO

SUARA gamelan berhenti. Bagong masuk ke panggung menemui Petruk. “Truk, Gareng kini punya penyakit aneh. Suka menggigit pantat orang,” kata Bagong. Petruk percaya. Setelah itu, Bagong bertemu dengan Gareng. “Petruk kini berekor,” ujar Bagong mencoba membohongi. Seperti Petruk, Gareng percaya. Keduanya kemudian bertemu. Petruk waspada. Dia menutupi pantatnya dengan tangan. Penasaran, Gareng berusaha melihat pantat petruk.

Keduanya berkejaran, hampir berkelahi. Beruntung, Semar datang menengahi. Mereka akhirnya tahu bahwa Bagonglah dalang keonaran ini. Semar berkata, “Membuat isu atau sas-sus itu tidak baik. Cuma bikin celaka orang dan kisruh.” Adegan-adegan ini terdapat dalam acara Ria Jenaka di TVRI pada 1980-an.­ Sebuah acara yang menjadi corong penguasa untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan melalui tokoh panakawan atau biasa disebut juga punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang lekat dengan lawakan dan keanehan bentuk tubuh. Tak seperti awal kemunculannya.

Kemunculan panakawan dalam tradisi seni pertunjukan di Indonesia dapat dilacak pada relief-relief candi dan naskah-naskah kuno Nusantara. Beberapa relief di Candi Prambanan dari abad ke-9, menggambarkan panakawan. Gambar-gambar dalam relief Prambanan mengisahkan tokoh-tokoh utama yang didampingi oleh seorang pengiring. “Para pengiring itu berpenampilan tampan dan cantik,” tulis Edy Sedyawati, guru besar arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dalam “Panakawan di Masa Majapahit”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara tahun 2009.

Para pengiring itu menemani tokoh utama dengan pakaian yang berbeda. Bentuk tubuh mereka normal seperti tokoh utama. Mereka menemani tokoh utama hingga ke hutan. Menurut Edy, inilah arti dasar panakawan, kawan yang diharapkan siap membantu tokoh utama, baik jahat maupun baik, dimanapun. Kawan yang mampu memberikan nasihat kepada tokoh utama. Tetapi istilah panakawan kala itu belum dikenal.

Panakawan berasal dari dua kata, pana dan kawan. “Pana berarti mumpuni, sedangkan kawan dapat berarti seseorang yang cukup dikenal,” tulis Trias Yusuf, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dalam “Panakawan Dalam Tradisi Kesenian Pesisir Jawa”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara. Menurutnya, istilah ini baru muncul pada masa Yasadipura abad ke-18 di Surakarta. Istilah yang sepadan dengan panakawan tersua dalam Kakawin Gathotkacasraya yang ditulis pada masa Raja Warsajaya dari Kediri (1104-1135).

Kakawin tersebut memuat istilah Jurudyah Punta Prasanta untuk menerangkan pengiring tokoh utama, Abhimanyu. Penyebutan itu merujuk pada satu orang. Kata “Juru” menunjukkan pekerjaan sang pengiring, mengurus atau mengasuh. Kata “Dyah” dapat berarti orang muda keturunan raja-raja. Sementara kata “Punta” merupakan nama depan sang pengiring, dan “Prasanta” nama panggilannya. Tokoh-tokoh dalam kakawin tersebut bersifat historis-mitologis. Artinya, mereka ada walaupun kisah mereka berbalut dengan simbol-simbol dan mitos.

Profesor Soetjipto Wirjosoeparto, mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyatakan bentuk tubuh pengiring dalam Gathotkacasraya digambarkan layaknya manusia. “Dalam deskripsinya tidak disebutkan bahwa tampilannya serba aneh dan kocak,” tulis Soetjipto sebagaimana dikutip Edy Sedyawati. Gambaran Ini masih sesuai dengan relief Prambanan. Tugas mereka pun masih jauh dari melawak.

Ketika kemasyhuran Kerajaan Kediri meredup, Kerajaan Majapahit perlahan bersinar. Candi-candi Majapahit segera berdiri di wilayah bekas Kerajaan Kediri. Candi-candi itu memiliki relief yang menggambarkan para pengiring yang agak berbeda dengan masa sebelumnya. Edy Sedyawati menambahkan bahwa beberapa candi yang dibangun pada abad ke-14 seperti Tegawangi, Kedaton, dan Surawarna mulai menampilkan relief adegan pengiring berbadan gemuk.

Dalam relief Candi Tegawangi misalnya, terdapat gambar dua pengiring berbadan gemuk. Pengiring itu masuk dalam relief cerita Sudamala, yaitu cerita ruwatan yang melibatkan Sadewa, salah satu tokoh Pandawa. Kedua pengiring sedang berpacaran dalam posisi yang menggelikan. Seorang pengiring keluarga Pandawa, Semar, mulai dikenal melalui cerita Sudamala dalam relief candi Sukuh tahun 1439 dan Kakawin Sudamala.

Berbadan serba bulat, berbibir maju, dan bermata besar, Semar tak melulu memberikan nasihat, melainkan juga humor untuk tuannya. Dengan demikian, Sedyawati berkesimpulan bahwa tokoh panakawan yang berbentuk tidak lazim, namun bersifat lucu mulai muncul kala Majapahit.

Memasuki masa kesultanan Islam, para wali mengenalkan para pengiring dengan bentuk dan fungsi yang berbeda itu ke dalam wayang. Menurut Ronit Ricci, peneliti pada Universitas Michigan, dalam “Conversion to Islam on Java”, Jurnal KITLV, Vol. 195 No. 1 (2009), “Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sering dianggap perekacipta pengiring tersebut dalam pertunjukan wayang.” Kedua sunan di tanah Jawa ini membalut kisah Ramayana, Mahabarata, dan Sudamala dengan ajaran Islam. Padahal, kisah Ramayana dan Mahabarata versi India sama sekali tidak menyertakan pengiring untuk tokoh utamanya. Apalagi sampai yang berbentuk aneh.

Selain Semar, pada masa itu muncul pula nama-nama pengiring lain seperti Petruk, Gareng, dan Bagong. Mereka tidak hanya sekadar penasihat tokoh-tokoh utama, tapi juga berlakon sebagai pelawak-cum-kritikus. Sebab, lawakan mereka hanyalah alat penyampai kritik sang pujangga atau dalang. Gambaran tokoh ini semakin banyak ditemukan dalam karya-karya sastra masa Yasadipura seperti Wedatama. Mereka kemudian dikenal dengan nama panakawan.

Memasuki abad ke-20, panakawan populer dalam pertunjukan wayang, ketoprak, dan seni pertunjukan lainnya. Penonton selalu menunggu kehadiran mereka. Tak heran, penguasa Orde Baru menggunakannya sebagai corong propaganda dalam acara Ria Jenaka

----
*tulisan ini saya kutip langsung dari http://historia.co.id/artikel/1/1014/Majalah-Historia/Kawan_Penasihat_dan_Pelawak.
**baca juga punawakan saya disini
Share:

Friday, May 11, 2012

Karena sehelai foto

ADA PEPATAH CINA, satu foto lebih berarti dari seribu kata. Foto bisa melukiskan nuansa: tentang hamparan sawah yang mulai menguning; aliran air, kesunyian desa, atau senja yang merah dan kemudian diabadikan dalam frame.

foto bisa berbicara banyak hal. dan foto pun bisa ditinjau dari beragam sisi sebanyak arah mata angin.

*

Saya tidak tahu persis apakah foto bisa menjadi bencana yang bisa mengahiri hubungan dan pertemanan? Mungkin. Seseorang menganggap ini sebuah kesia-siaan jika hanya foto kemudian mengkahiri semua cerita. Ini bagai sebuah tragedi saya pikir.

terkadang seseorang tak siap menghadapi kenyataan yang kemudian membuat kisah dengan amat tragis hanya karena foto. Foto kadang bisa membuat tertawa juga kadang membuat seseorang disumpahserapahi.

hanya karena sebuah foto.

melihat foto itu memang bisa multi tafsir. Di tengah kegalauan itu saya kemudian membaca blog ndorokakung (salah satu blogger yang inspiratif yang pernah saya baca). ia bilang, selembar foto bisa bercerita banyak hal:
"Sebagian orang bahagia menemukan rumor-rumor yang tersebar di jejaring sosial. Sebagian lagi, terutama yang bersangkutan, terkesima atau kaget karena merasa tak siap"
kadang saya mengambil hikmah dari kejadian ini saya anggap semacam kutukan bagi saya yang selalu mengumbar foto-foto dan sifat narsis--walau sebenarnya tak percaya diri. Di dunia maya (termasuk juga BBM) yang dulu saya senangi untuk banyak mengumbar foto (narsis) akhirnya memaksa saya untuk berfikir ribuan bahkan jutaan kali untuk mengunggah foto lagi. kenarsisan saya dengan foto akhirnya harus dibayar mahal...

jika seperti ini, hari-hari kedepannya tak akan ada foto-foto narsis yang muncul. Untuk beberapa saat bisa jadi. setelah itu narsis kembali.

Saat seseorang kehilangan foto, saat itupula citra dan imaji lenyap. saya ingat tulisan di majalah BASIS tahun 2002 yang menulis tentang Marilyn Monroe. Saat itu Marilyn kelihatan acuh tak acuh melihat dirinya dalam citra foto.

Hal itu terungkap dari kisah Kirkland yang memotret Marilyn delapan bulan sebelum kematiannya di tahun 1962. Kirkland berkisah ketika melihat Marilyn pada waktu itu seakan melihat tiga pribadi dalam satu tubuh yang kesemuanya bernama Marilyn Monroe.

Kirkland tahu sebagai fotografer, dalam foto, citra seorang bisa menjadi lebih banyak.

Dulu, foto bisa menjadi cara mengungkap kenarsisan tapi bagi saya hari ini meragukannya karena sebuah foto itu tak lagi punya daya hidup. Sekarang, iya, karena foto bisa membuat orang bertengkar, saling melupa dan beragam kejadian yang tak mengenakkan hati. Dan akhirnya karena sehelai foto seseorang mengambil jalan pintas dan kemudian selesai begitu saja: melupa!

-----
  • sebagai kenangan, saya mengambil foto masa kecilmu dan juga foto narsismu sebagai ingatan jika saya rindu. ah, ini karena foto itu...
  • hati-hati dengan foto.
Share:

Wednesday, May 2, 2012

Pada sebuah foto

ADA selembar foto hitam putih yang
kusisip diselasela lembar diarimu

empat kata manis dari Rendra di pojok kanan bawah
bertera: "daya hidup adalah kau"
ia berbicara tentang kau yang hadir
dari segenap masa silamku

foto kecil yang hitam putih itu,
mencoba menghadirkan kenangan
yang beku
sebab cepat atau lambat ia usang atau
sobek atau malah hilang entah kemana
dan kita tak pernah tahu kabarnya.

disini, di tempatku menjauh
hanya sanggup menerka-nerka
apakah foto yang kusisipkan itu
mengingatkanmu tentang aku?

entah, ingatan hanyalah angin yang lewat.

--------
Yogyakarta, 02052012
Share:

Saturday, April 28, 2012

Tagore dalam kidung Gitanjali

DI TIMUR JAUH, India pernah hidup seorang penyair besar bernama Tagore, demikian ia sering disapa penyair dan filsuf itu. Nama lengkapnya sebenarnya Rabinranath Tagore, lahir di Calcuta 7 Mei 1861. Semasa hidup ia sempat mengunjungi Inggris, tuan negara koloni (juga kolonilisme) dan kembali kemudian setelah lelah mengembara menuju negeri asalnya tumbuh, India.

Sampai disini saja tentang sosok Tagore sebagai seorang penyair besar. Saya hanya ingin mengutipkan sebuah karya Magnum Opus-nya yang diberi judul “Gitanjali”. Karya ini terbit pertama kali tahun 1912 dan sangat terkenal dan setahun kemudian mendapatkan Nobel sastra tahun 1913.

Membahas Gitanjali juga membahas Tagore, begitupun sebaliknya, Tagore adalah Gitanjali. Secara harfiah Gitanjali dapat diartikan “git” yang berarti lagu dan “anjoli” berarti menawarkan, secara terjemahan bebas bisa diartikan sebagai “sebuah lagu persembahan”. Karya Tagore ini sebenarnya berisi prosa liris yang berisi tentang kehidupan, cinta, serta alam semesta. Ada rangkaian antara kehidupan dan prosa yang dibangun dalam tiap lirik Gitanjali. Terdapat beragam kehidupan terlukis diantara nyayian burung, awan, matahari, hingga rumput liar.

[Saya kemudian ingat Jalaluddin Rumi].

India sebagai proses tumbuhnya peradaban sangat menguntungkan Tagore dalam menulis puisi dan prosa. Kearifan Brahmanisme, keheningan Yoga dan mitos para Dewa-Dewi Hindu menguntungkan Tagore untuk masuk menyelami enigma puisinya. Heinrich Zimmer dalam Sejarah Filsafat India bilang aspek filsafat India itu saling melengkapi dari sebuah kebenaran tentang berbagai latar kesadaran. Selanjutnya lanjut Zimmer lagi, Filsafat Timur (India) dibarengi dengan ketaziman, ia berkata “...dengan cara ini filsafat timur dibarengi dan diikuti dengan mempraktekkan sebuah pandangan hidup-pengasingan monastik, asketisme, meditasi, berdoa, amalan yoga, dan sembahyang dalam waktu yang lama setiap harinya...”.

Searah jalan, Gitanjali juga adalah persembahan (“semba" “hyang"). Bagi saya Gitanjali adalah sebuah doa, kidung dan segala yang masuk dalam kategori sebuah persembahan itu. Untuk itu Gitanjali tidak hanya sekedar puisi cinta atau prosa liris namun juga doa.

Saya tidak bisa berlama-lama untuk menampilkan Gitanjali, kidung Tagore itu. biarkan yang membaca yang menilai; ini doa atau puisi atau apa? Saya hanya kutip prolog dan epilog kumpulan puisi dan prosa penyair besar India itu.

***
Engkau menciptakan aku tanpa akhir, itulah kesenanganmu. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi, dan kau isi selamanya dengan kehidupan yang segar.

Seruling buluh yang kecil ini kau bawa melintasi perbukitan dan ngarai, dan bernapas melaluinya kau hembuskan melodi yang selalu baru.

Pada sentuhan abadi tanganmu hati kecilku kehilangan batasnya dalam keriangan dan melahirkan ungkapan yang tak terkatakan.

Pemberianmu yang tak terbatas datang padaku hanya dalam tanganku yang sangat kecil ini. Masa-masa berlalu, masih kau tuangkan, dan disana masih ada ruang untuk diisi

***
Dengan satu salam padamu, Tuhanku, biarkan semua perasaanku menyebar dan menyentuh dunia ini di kakimu.

Seperti awan-hujan bulan juli yang tergantung rendah dengan beban rintik yang tak tercurahkan. Biarkan semua pikiranku membungkuk rendah pada pintumu dengan satu salam padamu.

Biarkan semua lagu-laguku yang mengumpulkan bersama bermacam nada mereka ke dalam satu arus dan mengalir ke lautan keheningan dengan satu salam untukmu.

Seperti sekawanan bangau yang rindu rumah yang terbang siang dan malam pulang kembali ke sarang-sarang pegunungan mereka. Biarkan seluruh hidupku melakukan perjalanannya ke rumah abadinya dengan satu salam untukmu.

----
setelah membaca Gitanjali (lagu persembahan - Prosa Cinta dan Kehidupan
Share:

Wednesday, April 11, 2012

Djadoel








***
--masa lalu selalu melankolik

FOTO-FOTO INI adalah penanda yang menyulam kembali patahan-patahan kenangan masa silam. ia menghadirkan nostalgia. selalu dirindukan. dan masa lalu selalu dirindukan. tak ada yang bisa menolak kenangan juga foto-foto ini.

yang menarik disini adalah foto ini tak sekedar benda mati, pajangan di dinding/kamar/ruang etalase yang menghadirkan imaji/estetika. namun lebih dari itu,malah sangat lebih tentang ruang yang jauh kemudian kita hadirkan dimasa kini, ta tahu, nostalgia adalah pementasan kembali yang diperindah dari sebuah arsip ingatan yang separuh hilang. Siapa menyadari ini akan tahu betapa rapuhnya sejarah" kata Goenawan Mohamad.

------------
foto: dokumentasi pribadi saat Jogja Art 2011. saya tak lupa kebersamaan waktu itu; Kanda Yusran Darmawan, Syamsul Anam Ilahi, Ady Setiawan, Adnan Syarif, Nuryadi Kadir, Syahrir Ramadhan.
Share:

Thursday, April 5, 2012

Ingatan

tentang ingatan yang selalu paradoks...

Walter Benyamin pernah menulis,

“untuk sebuah peristiwa yang dialami, sifatnya terbatas, entah dengan alasan apapun, dan terbatas pada suatu bidang pengalaman saja. sedangkan untuk sebuah peristiwa yang diingat sifatnya tidak terbatas, karena alasan ingatan seperti itu hanyalah sebuah kunci untuk masuk ke segala hal yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa tersebut.”

Aforisma Benyamin itu saya kutip dari Allesandro Portelli dalam The Death of Luigi Trastulli and Other Stories. Dalam buku itu mengisahkan seorang buruh pabrik di sebuah kota industri di Italia, dia berumur 21 tahun saat meninggal dalam sebuah bentrok dengan polisi 17 Maret 1949 dalam sebuah unjuk rasa. Peristiwa itu kemudian membuat Trastulli merekonstruksi, menafsir peristiwa tersebut dalam sebuah catatan mengenai ingatan.

Peristiwa/kematian apapun itu, yang menjadi tragedi adalah penting. peristiwa-peristiwa pemboman sekutu di Hiroshima-Nagasaki, kamp ausmitch Nazi sampai tragedi pembantaian orang-orang yang dianggap PKI adalah sebuah ingatan dan imajinasi bersama yang mampu membangun sebuah kumpulan cerita dan konstruksi dari berbagai peristiwa/ingatan yang menjadi pilu juga menghidupkan kenangan.

Mengapa kita perlu ingatan? Mengapa orang membuat sesuatu untuk mengingat masa lalu? Apakah ingatan perlu diandalkan? Mengapa dan mengapa?. Sekelumit pertanyaan ini hadir dalam diskusi tentang INGATAN.

Pada dasarnya, setiap peristiwa memerlukan kronologis dan mekanisme ingatan menjadi penting. Arintya, peristiwa adalah merincikan detil setiap waktu yang berkesinambungan. Namun jika ingatan seorang penutur tak bisa merekonstruksi maka disini menjadi titik lemah dalam sebuha cerita yang berawal dari ingatan.

Memori dan sejarah telah berpisah setelah lama dan seolah-olah bersinonim dan berpadu. Kenyataanya berbeda, dalam sebuah makala dari teman yang mengambil studi sejarah UGM [tempatnya para begawan sejarah, seperti Sartono Kartidirjo, Kuntowijoyo, Umar Kayam dan lain-lain] memberi pemahaman kepada saya bahwa ingatan berbeda dengan sejarah;

Dalam makalah itu, memori/ingatan itu embodied (mewujud/menubuh) sedang sejarah itu embedded (melekat/menempel) apa artinya? Yang embodied, tidak mudah mengalami disembodied; yang embedded, relatif mudah mengalami disembedded.

Tapi sekarang sulit bagi saya untuk membedakan antara ingatan dan sejarah mengingat memori telah tersubordinasi denan sejarah. Memori adala sejarah itu sendiri. Tapi apakah iya? Untuk ini saya mengutip sebuah kisah dari lukisan anak-anak korban tragedi Poso seperti yang dilukiskan Aditjondro di sebuah pelatian beberapa waktu lalu:

"diantara pengungsi itu ada sejumlah besar anak-anak yang mengikuti Festival Anak Perdamaianyang kami...laksanakan pada tanggal 25-29 Oktober 2001 di Panggung Moriana, Kompleks Kantor Sinode GKST di Tentena, sekita dua bulan sebelum Deklarasi Malino untuk Poso. Tetapi tanpa diduga anak-anak ini, pada umumnya yang mereka gambar adalah orang yang memegang senjata, rumah tinggal dan rumah ibadah, orang yang dibunuh, dan lain sebainya. Ada anak dengan ungkapan yang polos bercerita bahwa rumahnya dibakar oleh orang yang beragama Islam dan agama Islam itu jahat”.

Memori anak-anak korban tragedi itu menjadi memori/ingatan yang juga menjadi sejarahnya yang paling kasat mata. ini seperti sebuah ungkapan memory today is already a history. Memori mereka adalah penanda ingatan masa lalu dalam tatap sejarah. Masa lalu anak-anak itu menjadi bagian yang bisa saja terpisah dari hidupnya dan bisa juga menyadi ingatan yang terus hadir dalam hidupnya. Mereka merawat ingatan sekaligus hendak untuk melupakan ingatan.

Ada hubungan yang paradoksal disini, yang pada mulanya memori dan sejara itu bersinonim yang kesemuanya mewujud dalam tradisi. Namun sulit bagi saya memisahkan dua entitas ini di zaman sekarang meliat waktu itu linear dan orang-orang telah teratomisasi yang membuat sejarah dan memori semakin memisahkan jalan. Tapi di makalah teman saya itu mengafirmasi itu tak sejarah yan menaklukkan memori/ingatan tidak sepenuhnya bisa berhasil karena memori bersifat ‘life’, ‘embodied’, yang ‘kaku’ sekaligus ‘fleksibel’. Sedangkan sejara sebagai ‘produk masa lalu’ rentan terhadap perubahan tergantung pada institusi yang menopangnya.

Disini pentingnya ingatan...

Share:

Lomo


saya merindukan Diana ini...kamera plastik yang memancarkan warna ritmik saya lebih suka menyebut kamera ini kamera 'anak-anak' namun sekarang menjadi gaya hidup. Dan sayangnya, saya hanya memiliki kelas lomo 'ecek-ecek'. tapi lumayan, untuk koleksi.

hasil kamera plastik ini lihat ([contoh gambar, google-lomo]:

menakjubkan bukan?
Share:

Friday, March 23, 2012

Menara itu

PARA pemilik mimpi mengarahkan telunjuknya di ujung menara berhias bulan sabit dan bintang itu. diantara awan yang berarak mereka berikrar menuju negeri baru. Negeri 5 Menara. Tiang yang menjulang ke langit, tempat mereka menggantungkan cita-cita seakan menyerap habis cita-cita mereka (semesta mendukung). Alif dan kawan-kawannya memulai sebuah mimpi besar hari itu. mereka menamakannya sahibun menara, yang punya menara, pemilik cita-cita ke negeri yang jauh. Yang kelak terwujud.

Saya termasuk yang beruntung walau agak terlambat menyaksikan film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama itu. Yang sebelumnya membaca hanya sekali, itu pun karena hadiah dari seorang mahasiswi cerdas dan penggiat film (terimakasih Din).

Saya yang bukan kritikus film mencoba menikmati film itu dan sekali lagi mencoba membandingkan antara yang tertera di teks dengan tampilan sinematografi "Negeri Lima Menara" itu. pemahaman subjektif sebagai penikmat film, saya menemukan keterbatasan. Dan memang, film akan berhadapan dengan durasi yang berbeda dengan novel. Dan itu memang terasa. keterbatasan itu nampak pada gambaran ‘putusnya’ antara realitas yang dihadirkan dalam novel dan film, tidak terkecuali 5 Menara itu. namun ini agak berbeda dengan Laskar Pelangi yang hampir utuh menampilkan sosok tokoh, setting dan alur cerita. Dalam 5 Menara ada kesan ‘patah’ dari ceritanya.

Subjektifitas ini tentu saja sebagaimana ungkapan Arief Budiman—dalam menilai sebuah karya sastra unsur pengetahuan dan pengalaman apresian amat sangat menentukan. Dan tentu saya yang tidak memiliki latar dibidang sastra juga film sedikitpun bisa sangat dangkal memahami film 5 Menara. Maka yang ingin saya lakukan hanyalah menafisri dan mengampresiasi mimpi dari anak-anak muda dari pondok pesantren di Ponorogo itu.

5 Menara memang lebih cocok disebut film motivasi. Mereka, para pemimpi yang hampir setiap waktu menghabiskan saban hari belajar dan bermimpi menyusuri negeri-negeri yang jauh tempat semua orang menyimpan mimpinya. Berbekal atlas (peta) para pemimpi itu menandai diri kemana mereka setelah menghabiskan waktu di pondok dan menara dengan mantra ‘man jadah wa jadah’. Yang bersunggu-sungguh dia yang berhasil. Bermimpi tidak cukup tanpa ada kesungguhan, disinilah kerja. Dan manusia aktif, homo activa sebagaimana Arendt menyebutnya. Manusia pemimpi adalah manusia yang aktif, bekerja dan bersunggu-sungguh. Dan mereka adalah cerminan manusia pekerja itu.

Tapi saya amat sangat terkesan dengan kegigihan mereka, saya tak menyebut Alif, ato Baso saja tapi termasuk Dulmajid, Atang, Raja dan Said yang selalu berlindung di bawah menara Mesjid sambil memandang awan yang berarak.

akhirnya film itu membawa saya pada mimpi-mimpi yang belum habis-habis saya inggit. Sampai hari ini belum pupus mimpi untuk ke luar benua. Dan untuk saat ini, saya dibawa ke pulau Jawa, dan suatu nanti satu diantara lima menara itu akan saya jadikan latar foto. Semoga.
Share: