Sunday, November 6, 2011

Mantra Penjinak

(foto ; koleksi pribadi #jogjaArt 2011)

Bagaimana dunia mantra sekarang, mampukah kita memahaminya seandainya kita tahu dan itu terjadi?

ini berhubungan dengan kepercayaan spiritual, percaya tak percaya. dalam rasional kita kadang hal-hal yang berbau mitos atau yang tak kasat mata membuat kita berada dalam persimpangan antara percaya dan tidak.

tapi ini yang terjadi, dalam kepercayaan apapun, semua berkaitan dengan mitos tak terkecuali dengan matra.pengalaman saya yang bertemu dengan seorang 'pintar' yang dalam bahasa kampung di sebut dukun memberi saya rapalan yang berbentuk bahasa daerah dan arab. orang pintar itu pasiennya lebih banyak mengenai asmara. "perempuan itu bisa tergila-gila kalau kau membaca mantra ini" kata orang pintar itu.

baca-baca (istilah kampungnya), semacam wirid yang diucapkan menjelang tidur, atau saat-saat pagi atau malam. di kampung biasa disebut dengan paseng-paseng anging (pesan-pesan angin), atau tempa-tempa pa'lungang (pukul-pukul bantal) dan masih banyak varian lagi. tanpa harus menggunakan tongkat (seperti Harry Potter) atau menggosok teko (dalam kisah Aladin dan Lampu ajaibnya). dengan membaca beberapa wirid kemudian meniupnya, angin lah yang kemudian membawa pesan itu kepada 'korban'.

E.B.Taylor, antropolog yang tidak pernah mengenyam pendidikan itu menganggap itu mitos yang berasal dari masyarakat primitif. bahkan asal usul agama dapat ditelusuri dari mitos ini. hal-hal yang berasal dari supranatural. mitos menghubungkan peristiwa khayali yang tumbuh dari kata-kata, cerita. Mitos juga sebagai pengubung ide-ide secara logis yang kemudian dihubungkan dengan fakta alam dan kehidupan dengan bantuan analogi dan perbandingan. cerita mitos akan ditemukan lebih lanjut dalam karya Taylor, Primitive Culture.
"orang-orang primitif percaya bahwa, meskipun dalam jarak yang jauh, mereka dapat melukai atau mengobati orang lain hanya dengan terbuat dari kuku jari, seikat rambut, sepotong pakaian, atau apapun yang memiliki hubungan dengan orang yang menjadi objeknya. (Daniel S. Pals, seven theories of religion).
tidak heran istilah vodoo bagi masyarakat Afrika, jampi-jampi/guna-guna/santet di masyarakat Indonesia sering terdengar. dalam masyarakat modern, biasa disebut hal-hal yang irasional, tapi tidak dengan masyarakat tradisional kalo tidak bisa dikatakan primitif, cara ini adalah cara rasional.

pengalaman pengetahuan ini dalam istilah Frazer dan Taylor, magi--didasarkan pada hubungan ide-ide dari sekumpulan pengetahuan manusia. bagaimanapun ide-ide menghubungkan masuk dalam realitas. mantra/jampi-jampi adalah contoh dari magi itu.

saya belum pernah mencoba walau sudah ada rapalan yang diberikan untuk menguji tuah 'ilmu' dukun itu. namun saya pernah mendapat pengalaman dari seorang senior tentang mantra yang dianggapnya berhasil, dikisahkan waktu itu di bukit bintang. senior itu termasuk tampan, gaya bicara seperti filsuf, dan sekarang berlabuh di benua pengharapan, Amerika Serikat.

sepenggal kisah dari satu pengalaman sebagai jalan terang yang kita sebut percaya (yang berbeda dengan keyakinan). matra atau sihir tidak harus disekolahkan (seperti kisah Harry Potter) namun berasal dari pengalaman dan pengetahuan, tentu mantra kita percaya sebagai sesuatu memiliki daya yang mengalir melalui benda; padat atau cair bahkan udara. karena setiap benda memiliki anima (roh), sama seperti kepercayaan umat Hindu, bahwa setiap jengkal tanah memiliki roh.

kalo boleh disamakan, antara animisme dengan dunia-dunia mantra atau sihir, maka ia adalah entitas yang sudah tua yang melekat dalam sejarah umat manusia.sezaman orang-orang yunani kuno yang percaya bahwa dewa-dewa adalah personifikasi langit, matahari, bumi dan kekuatan lain.

mitos kadang mengganggu nalar bagi kaum religius, tapi tidak dengan orang-orang primitif (walau istilah ini terlalu kasar) atau pelosok-pelosok kampung. tak heran pemahaman sinkretik ditemukan di kampung-kampung selalu bersemayam dalam diri masyarakatnya. ini terjadi mengingat masyarakat percaya bahwa setiap benda yang besar, pohon, gunung dan benda-benda dikeramatkan punya anima, punya roh. persoalan ini tentu tak habis hanya dengan penjelasan parsial.

sampai sekarang, saya masih menyimpan mantra penjinak dari orang pintar itu. antara percaya dan tidak. antara mencoba atau tidak. hanya untuk sekedar tahu, dan merefleksikannya dengan ungkapan teoritis saja. tak lebih. adakah pengetahuan tentang dunia 'lain' seperti itu masih dibutuhkan dalam lanskap masa kini?

Share:

2 comments:

  1. kadang di lingkungan saya masih ada seperti itu.
    :D salam kenal mas.

    saya follow ya blognya.
    bila berkenan mohon follow balik :)

    ReplyDelete
  2. dengan senang hati mas saiful rahman...

    salam kenal dan slam hangat

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...