Friday, October 28, 2011

Ziarah Mesjid Mataram Kota Gede

mesjid ini tidak terlalu besar, tapi tertua di Yogyakarta. untuk menempuhnya dengan jalan sempit beraspal di kota gede yang terkenal dengan pengrajin peraknya dan tempat pembuatan coklat monggo. tempat ini memang kota tua dengan bangunan khas jawa zaman dulu. disebelahnya terdapat makam raja-raja mataram. Panembahan Senopati yang merupakan raja pertama dari kerajaan Mataram I, Ingkang Sinuwun Hanyokrowati.

gapura makam raja-raja mataram dulu banyak dipengaruhi arsitektur Hindu dan Buddha.

halaman depan mesjid kota gede Mataram bertahun 1856-1926

orang jawa menyebutnya kelir, gerbang masuk makam raja mataram. (waktu itu Jumat sehingga gerbang ditutup hingga selesai solat gerbang itu akan dibuka lagi).



Share:

Wednesday, October 26, 2011

Reuni

Sebuah cerita. Teman P menjadi pekerja kantoran. Teman kedua, C pekerja Swasta. Teman ketiga A, tamatan STPDN yang bekerja di Papua. Teman keempat, E polisi hutan (konon ia slalu melakukan illegal logging) dan orang yang terakhir, Saya. Ya. itu saya yang terakhir. Sengaja menempatkan diri yang terakhir . Mengingat saya “kecil” di mata mereka. Kenapa? Mereka adalah pekerja. Sedang saya adalah pembelajar (mahasiswa) yang tidak tahu kapan menjadi pekerja.

Reuni sebagai nostalgia. Tiap yang lewat adalah lapis-lapis kenangangan yang digali kembali. Mengumpulkan perca-perca kisah yang dirasa hilang, terkubur kesibukan.

Tapi, reuni menjadi ketakutan bagi saya. Di dalamnya ada citra dan modal simbolik yang setiap pertemuan tidak lupa diselipkan. Baju, gadget, tunggangan. cukup? tidak. itu masih kurang. Kadang nyeleneh sampe urusan penghasilan dan jodoh. istri secantik apa? jabatan, udah kemana aja, gaji berapa?. Jenis pertanyaan ini yang sering muncul tanpa permisi.

(Kita tahu, reuni menjadi ajang memperlihatkan siapa kita, citra dan seberubah apa kita)

Saya mencoba larut dalam dunia para kerah putih ini, pengalaman sosial dicerita dari sabang hingga merauke juga. Serasa mengejar kebahagiaan yang begitu panjang. Sedangkan saya berdiri di titik nol. Saya sebenarnya ragu berkata bahwa saya ‘iri’ dengan kehidupan mereka saat ini. walau saya menutupinya.

Saya, yang berpura-pura merasa cair, bahagia dan larut dalam dunia mereka. Saya mencoba mengingat-ingat kembali masa silam ketika kuliah dulu bersama mereka. Saat menemukan mereka galau dalam menyelesaikan tugas akhir (terancam DO) dan saya adalah “penasehat skripsi (pembimbing di luar pembimbing utama dan teman sharing untuk skripsi mereka). Dan waktu berbalik sekarang, saya menjadi penonton melihat keberhasilan mereka. Saya senang ada sedikit andil saya secara tidak langsung terhadap keberhasilan mereka.

Saya melihat tak ada ingatan yang hadir dari sekedar basa basi “jika bukan bantuan kamu, saya tidak bisa seperti ini mas bro”. Pamrih? Lupakan soal seperti itu. itu hal remeh temeh. Tak ada yang musti dibalas. Saya hadir dengan mereka mendengar 'kenarsisan' mereka untuk bertemu dan saling mengenang. Bukan menagih imbal jasa.

***

Di pojok kanan, sekolompok muda kelas menengah tengah mengadakan pesta. Blackforest baru saja dikeluarkan dari kotak putih. Tidak ada yang berulang tahun. Nyanyian “happy birth day to you” pun tidak. balon-balon hias berwarna warni tak satupun ada. saya pikir itulah reuni. Pertemuan yang membuat mereka saling mengingat dalam suasana bahagia. di tempat ini, tempat menyatukan retak yang hilang. saya menyebutnya romansa.

Cipika-cipiki, merangkul, dan saling menepuk bahu melihatkan mereka larut dalam romansa. serasa menemukan yang hilang. Mereka memperlihatkan sesuatu yang harus ada : mengenang dan saling mengingat. Inilah reuni, menyatukan kenangan yang terserak tapi juga sebagai ajang ‘pamer’ citra.



Share:

Monday, October 24, 2011

Guru

Karena setiap orang adalah guru, maka saya pun menganggap Prof. J. Nasikun guru saya. Guru yang tidak saling mengenal-ia tidak mengenal saya, tapi saya mengenal dia lewat karyanya. saya pikir tidak penting, yang penting bagi saya adalah produksi pengetahuannya.

ketika kuliah S1, buku yang tidak terlalu tebal--Sistem Sosial--menjadi bacaan wajib dan mungkin sampai sekarang dalam kuliah Ilmu Budaya Dasar (ISBD) di Unhas dan mungkin di kampus-kampus lainnya. dan sekarang hadir di atas kursi roda dengan senyum segar. khas Jogja. bersahaja.

pagi itu, diruang University Club (UC) Bulaksumur tepat perayaan ulang tahunnya-70 dengan peluncuran buku sebagai persembahan. murid langsung, Dr. Andi Alfian Mallarangeng (Menpora), Prof. Heru Nugroho, Lambang Triyono, Arie Sujito, Najib Azca, PhD. dan kolega Prof. Ikhlasul Amal, Prof. Sunyoto Usman, Prof. Muchtar Masoed menyambut kedatangan salah satu begawan Sosiologi ini.

Bagi saya, buku yang saya baca beberapa tahun silam ternyata penulisya masih memancarkan aura. Terpancar semangat sebagai seorang guru besar. dia guru bagi semua orang. tak banyak kata sambutan, terbata-bata dalam menyebutkan tiap kalimat. tak berdaya melawan usia tapi semangatnya selalu hidup.

#Foto : Prof. Nasikun dan Mas Ary Dwipayana
##mendapat buku gratis dan bertemu orang-orang besar dalam bidang akademik menjadi berkah, sekali lagi. pagi kembali bersahabat.


University Club, Bulaksumur-Jogja 241011

Share:

Sunday, October 23, 2011

Sunyi


ARCHIMEDES memulai revolusi dalam sejarah sains dengan cara yang menakjubkan— menghitung volume massa benda—Ilham itu datang dari kesunyian di bak mandi. Eureka, saya menemukannya, saya menemukannya. kata itu keluar di tempat sunyi (di bak mandi) tempatnya lahir sebuah teori fisika yang membuatnya dikenang.

Tak beda jauh, Newton dengan kesunyiannya menyusuri taman dengan pohon-pohon disekelilingya. Di taman itu jatuh sebuah apel tepat disampingnya. Saat itupun ilham datang yang kemudian memunculkan hukum gravitasi. Segaris pengalaman dengan Newton, filsuf lain Nietzsche, sang filsuf yang suka merenung, mengisi waktu-waktu sunyi di taman, di alam terbuka. Dia menyukai hal-hal yang berbau alam, danau, kota, hutan, burung, orang gila, dan bahkan wanita. Di tempat seperti itu, saat-saat sendiri dia mampu menuliskan buah pikirannya dalam sebentuk buku.

Banyak peristiwa yang berhubungan dengan saat-saat sunyi, nabiullah Muhammad SAW, Isa AS, Ibrahim AS, atau nabi-nabi utusan Tuhan selalu mengalami saat-saat sunyi dalam pengalaman religiusitas.

Betapapun berbeda konteks, namun cerita mereka adalah agony (perasaan lelah dan sunyi) yang mendorong melakukan meditasi/kontemplasi tanpa mengenal lagi keterbatasan fisik dan psikis.

Sunyi kadang sebuah pilihan menyendiri. Mencoba mereflesikan kehidupan tatkala tak menemu jawab dari kesulitan kehidupan. Sunyi juga adalah waktu mencari jawab atas segala sesuatu. Nampaknya kesunyian dari cerita mereka membuat saya banyak merenung dan mencoba “sunyi” walau itu susah. Dan mungkin tidak akan bisa. Saya harus menyusur kampung/desa seperti masa-masa kecil dulu—sunyi ditengah hamparan sawah dan nyanyian hewan malam.

Sunyi saya ibaratkan kata-kata yang tak didengar. Barangkali jika ada hubungan dengan kata Goenawan Mohamad dengan kesunyian. Maka saya mengutipkan kata-katanya

...yang terbesit dari kata-kata itu justru adalah sebuah isbat kepada hidup, dengan segala rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak putus, di daslam kancah kelezatan dan angan-angan. Amor fati : kita menerima nasib dengan segala rasa cinta. Tanpa miris bahkan dengan gairah.
Inilah agony, perasaan lelah dan sunyi memaknai hidup. tapi saya cukup tahu arti sunyi dari pembuat kisah diatas. Saya pun tak ragu mengutip mistikus Gede Prama-Dalam kesunyian ada kedamaian-dan (mungkin) saat yang tepat datangnya ilham.

-Matahari sore saat itu berwarna jingga, saya ragu menyebutnya aurora.tapi warnanya romantis.Sunyi di kaki merapi di kos sempit. Jogja 231011
Share:

Wednesday, October 19, 2011

Yang tersisa dari kerajaan Binamu

Pohon asam berusia ratusan tahun dengan setia meneduhi makam dari batuan andesit itu. bentuk makam yang khas raja-raja dulu. Undakan dan relief seperti menuliskan sebuah cerita masa silam yang dihadirkan dalam pesan Lontaraq (naskah kuno).

Menyusuri pemakaman kuno yang pernah direnovasi tahun 1982-1984 ini terhampar jalan setapak, batu-batu cadas tampak tersusun rapi tertata dari gerbang hingga ujung makam. Dari jalan ini terlihat dekat makam raja-raja beserta keluarga kerajaan tetirah.

Saya meninggalkan mereka (penjaga makam dan teman) jauh. Menyusur masuk dalam relung-relung makam. Saya berjalan sendiri. Ada semacam realitas lain yang hadir—magis, dan mistis—bertualang di dunia yang sunyi. Makam ini sudah berusia ratusan tahun, sambil menunjuk di bawah pohon asam. Dg. Sikki—penjaga makam dari dinas purbakala Jeneponto menjelaskan sejarah panjang makam. sesaat kemudian sambil mendekatkan diri di sisi saya.





Makam yang menarik mata, berundak tiga dan berelief—Ayam jago, singa, dan kuda—konon raja di pembaringan ini suka menyaung ayam, tobarani (pemberani) dan suka berburu jonga (rusa). Memang, makam raja-raja dulu pada umumnya selalu bercerita tentang keseharian, berhubungan dengan kebiasaan. Itu sebab setelah mangkat, diabadikan dalam bentuk relief. lontarak sebagai naskah lama banyak menyitir keseharian para raja-raja. saya kira naskah lama ini memang lebih banyak menulis keseharian penguasa. Mengagumkan.




Sore memang tak henti-henti meminta beranjak. Pulang menyusuri kembali setapak dengan taburan batu-batu cadas sepanjang menuju gerbang makam. Titik akhirn perjalanan yang sempurna. Saya tak henti-henti memikirkan kesunyian makam yang indah itu, mampu bertahan ratusan tahun. Juru kunci makam mengantar sampai ke gerbang dengan menawarkan ballo' manis (minuman tradisional Jeneponto). Dalam suasana yang menakjubkan ini ada perjalanan yang lebih dari sekedar tujuan melihat makam raja-raja Binamu. Tapi ini adalah penanda yang tersisa, bahwa Binamu pernah menjadi satu kerajaan besar di Jeneponto. Begitu layak untuk dikenang.

*Catatan yang telah lewat, agar tak hilang--saat siang 280911
**narasi dan foto : Patta Hindi
Share:

Ksatria


Untuk saya, tak ada yang menulis lebih hidup tentang sosok ksatria selain Dee-Supernova dan Goenawan Mohamad. Ksatria dihidupkan Dee melalui tokoh Ferre, sedangkan yang satunya lagi Goenawan menghidupkannya melalui cerita wayang, perang Barathayudha—Pandawa dan Kurawa—Perang antara Arjuna dan Karna. Ksatria dari mitologi wayang itu seakan hidup di tangan Goenawan.

Tidak saja sebagai kasta lapis dua setelah Brahmana. Ksatria juga hadir dalam sosok berwajah gagah, berani, dan memiliki keluhuran budi.

Ksatria seperti halnya Dee yang melukiskannya dari percikan-percikan matahari. Dia adalah terang, dia juga yang dipuja-puja. Tokoh Ferre yang memberi nafas hidup pada Rana. Personifikasi matahari akhirnya terwujud dalam diri Ferre.

Dalam cerita yang lain. KSATRIA begitu hidup dan penuh kharisma dalam wujud liyan (other) : Basukarna. Karna dianggap liyan walau kita tau, ia adalah keturunan Ksatria, anak dewi Kunti. Karena hanya nasib membuatnya liyan dan tak dianggap. Ketika kebenaran dan kejujuran tak pernah dianggap ada. Maka Karna pun tak pernah dianggap ada. Dia adalah ksatria yang kesepian.

...Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna (Goenawan Mohamad, Caping-Yang Lain).

Untuk saya (Basu) Karna adalah ksatria. ia yang terbuang yang dipelihara seorang kusir yang miskin, Adhirata dan Nyi Nanda yang berkasta sudra.Kelahirannya dianggap aib dalam istana Astina. tapi tidak dengan orang tua angkatnya yang sudra.

Perang memang tidak terindahkan. Karna pun berhadapan dengan Pandawa dalam perang Baratayudha.

***
Sesuatu yang telah terjadi kadang disesali. Tapi tidak dengan Karna. Dia tidak menyesal, tidak pula menggugat ibunya yang meninggalkannya. Karna tahu untuk menilai masa lampau yang kejam, memiriskan, memalukan dan bahkan menyedikan diperlukan kearifan. Walau memang dibutuhkan sebuah alasan.

Bagi karna, alasan dibuat sebagai sebuah pembenaran atas kesalahan. Kata-kata arif dari Ksatria, Basukarna pun mengiris-mengiris rasa :
“seadainya hamba benar-benar putra dewi Kunti, apakah sang dewi tidak merasa tercemar yang mempunya putra yang tidak tahu balas budi? Hamba yang diasuh dari keluarga berkasta sudra, kemudian Kurawa mengangkat hamba menjadi Ksatria. Apakah budi baik itu layak dikhianati?. Ciri-ciri ksatria terletak pada budi luhurnya, bukan pada asal usul keturunuannya. Seorang bisa berkasta sudra bila dalam dirinya tak dapat membedakan budi baik dan budi jelek. Bila mereka menerima kebaikan, justru mereka balas dengan kejahatan. Sekali lagi maafkan...”
Ksatria bagi saya adalah sosok yang selalu kesepian. Tidak hidup dalam riuh-rendah kemewahan dunia. Kesabarannya melampaui luas hamparan bumi, kesadarannya setaat matahari.

Agaknya kata bijak Karna yang disitir dari Hoedi Soedjanto (Majalah Sarinah, 1991 : 43) dalam sebuah renunga banyak kita temui arti Ksatria—tak sekedar lapis-lapis dalam sistem sosial. Namun juga sifat dan keteguhan hidup. dari sini saya tidak akan semena-mena bahwa liyan, orang yang diluar kebaikan, namun memiliki sifat kenabian—bisa disebut Ksatria.

Agaknya Dee dan Goenawan Mohamad telah menulis dengan gaya memikat. Dan saya (akhirnya) terpikat dengan gaya Ksatria--cukup untuk terpikat--untuk mengikuti atau bahkan mencontoh Ksatria saya kira hanya day dreaming. Saya hanyalah penikmat dari setiap penggalan kisah para Ksatria.

Jogja 191011

Share:

Tuesday, October 18, 2011

Pohon asam dikelokan jalan

Selalu saja ada yang tak lupa dikenang, perjalanan dengan pemandangan pohon-pohon asam yang rimbun dan berbaris rapi disisi jalan masih layak dikenang ditempat ini. Paling tidak apa yang terlihat di Camba, Maros, dan juga perbatasan antara Takalar-Jeneponto Sulawesi Selatan.

Perjalanan ini setidaknya menyisakan cerita subyektif yang kemudian saya lekatkan kembali dalam waktu yang telah lewat.

Menakjubkan namun ironis, pohon asam yang dulu sengaja di tanam di simpang kota di Indonesia sebagai penghijauan/peneduh di zaman Belanda—kini tak kita temukan lagi di kota—tapi masih lestari di desa/kampung walau sudah menyusut sedikit demi sedikit.

Kenangan yang tak bisa terlupakan ketika dari Camba menuju Makassar, daun-daun hijau dengan yang selalu terlihat hijau royo-royo itu masih nampak rimbun dan berdiri kokoh di sisi jalan, daunnya yang lebat membentuk seperti terowongan. Saya seolah-olah memasuki relung-relung bangunan, begitu sepi, sunyi, dramatis sekaligus romantik. Nuansa itu ada ketika menyusurinya di pagi hari, ketika matahari pagi belum muncul betul.

Begitu juga ketika melewati Takalar menuju Jeneponto, pohon asam bertahan ditengah keringnya tempat itu. berbeda dengan Camba, pohon (yang sudah tua) itu berjarak dan tidak menyatu membentuk seperti terowongan namun masih selalu meneduhkan.

kita tahu, pohon asam digunakan sebagi pohon pelindung matahari, yang dulu banyak di tanam pada masa kolonial. Entah karena daunnya yang kecil-kecil, ketika terhempas angin akan mudah jatuh dan mengotori jalan sehingga dimusnahkan.

Kini, agak sukar pohon-pohon berdaun kecil itu akan bertahan lama sebagai ‘penghias’ jalan dan peneduh. Kalaupun itu bertahan, mungkin kita akan melihatnya hanya di Camba atau di kampung-kampung. Selebihnya mungkin jarang lagi ditemukan. Agaknya memang demikian, pohon asam hanya bagus untuk dikenang, bukan tidak mungkin, pohon asam hanya cocok sebagai peneduh dan penahan polusi, untuk nilai estetis terkesan jauh dari itu.

Apa boleh buat. Pohon-pohon kokoh yang meneduhkan itu memang layak dikenang sebagai pohon yang mampu menyerap polusi dan juga penghijau dari tempat-tempat kering dan gersang. Dan hanya disitulah, di tempat kering itulah pohon asam itu hidup dan menikmati kebebasannya.

Share:

Tuesday, October 4, 2011

Sepatu ungu


Sepatu ungu
Karena kau, langkahku meragu
Saya membayangkan, kau kembali menjumpaiku seperti kemarin sore. Saat matahari perlahan-lahan meninggalkanmu. Saya tidak tahu pasti, kapan aku memulai melihatmu memakai sepatu ungu. Mungkin sekali ataukah mungkin hanya dalam sangkaanku saja. Walau kau tak menyadarinya, saya selalu memperhatikanmu. Saya menyukainya. Tak peduli kau menyukai caraku atau tidak. saya tidak butuh interupsimu atau keluhanmu saat ini. Yang saya butuhkan adalah menanyakan keadaanmu. Apa kau baik-baik saja, masihkah sepatu ungu masih kau lekatkan di kedua kakimu?

(Sejak itu saya pun menyukai ungu—mencoba memakai ungu dengan batik ungu khas Jogja bermotif parang rusak, juga sweter ungu bergaris putih—warna yang sebenarnya asing bagi saya, mengingat saya penyuka putih. Tapi sejak kau memakai ungu. Yang kulihat semuanya pun ungu *hmmm...mulai berlebihan pujiannya*).

Teringat saat senior saya berkata, wanita yang tidak suka memakai hak tinggi. itu salah satu ciri wanita yang tipenya “pelari”, suka tantangan, dan penuh hasrat. Saya anggap kau tipe yang penuh hasrat dan berpandangan ke depan. Kau perempuan yang suka mengejar mimpi.

Saya tidak pernah melihatmu memakai sepatu kasual, atau hak tinggi, yang kulihat waktu itu hanyalah sepatu vinci (saya tidak tahu ejaan itu sudah benar?). lucu juga. Sederhana dan anggun. Sayapun larut dalam imajinasiku tentang ungu—tentang dirimu yang kulekatkan diruang terdekat. Disampingku.
Dan sepatu ungu
Hanya kau yang ada dalam waktu (ku)
Jika hanya memandang satu warna saja (ungu misalnya) maka yang terjadi meminggirkan warna-warna yang lain. padahal memilih warna berbicara tentang selera dan kesukaan. Tapi bagi saya, kau tidak hanya memakai warna berdasarkan seleramu saja tapi selera orang lain telah kau rasuki. Itu yang membuatmu disenangi. Tidak banyak yang bisa sepertimu. Mampu memilih warna yang ‘teduh’ untuk semua orang. Mengorganisasikan (memadukan) antara baju, jilbab dengan sepatu ungu bukanlah perkara gampang. Ungu adalah warna yang ‘jlimet’. Tidak netral seperti hitam atau putih. Tapi kau bisa mengombinasikannya.

Terlepas kau dekatkan warna ungu pada kakimu, itu sudah membuatmu dipuja. Mungkin semua warna akan cocok denganmu. Tapi dengan ungu terlihat (hampir) tanpa cela. Saya ingin dekat seperti ungu yang kau pakai, tapi bukan untuk dijadikan alas kaki tentunya...

Makassar, 051011

Share:

Monday, October 3, 2011

Mencoba Bijak

Seperti manusia, semakin dekat dengan langit semakin pula ilham datang dengan mudah.
Saya lupa kapan tanggal, hari dan sumber tulisan itu. tapi saya masih ingat saya menulisnya dari salah satu sumber (lupa kutipan) beberapa tahun silam di tahun 2006. Saya agak beruntung, tulisan dalam bentuk catatan serampangan di buku harian itu masih bisa dibaca kembali. Di buku harian yang telah berjamur itu berisi banyak kutipan kata-kata bijak dari pemikir dan orang-orang hebat. Saya sengaja banyak mengutip, sekedar untuk melatih kebijaksanaan, bukan untuk gagah-gagahan.

Membaca kembali bait demi bait dari para bijak itu sebagai stimuli memasuki ruang terdalam di relung pengetahuan tentang kebijaksanaan. saya melengkapinya dengan membaca juga blog mistikus Gede Prama (mungkin mistikus yang inspiratif di tanah ini selain dia ada Jalaluddin Rahmat, Dimitri Mahayana, dan Anand Khrisna).

Tak lupa menyinggahi catatan pinggir esais Goenawan Mohamad dalam catatan pinggir (caping). saya tertuju di catatannya dengan tema “baik”. Diceritakan dalam caping itu, bercerita tentang tiga dewa yang lelah bertemu dengan wong, penjual air, di tepi kota. Para dewa itu sudah lama berada di bumi untuk menemukan seorang seorang yang baik hati tapi tak kunjung dapat, mereka sudah menurunkan firman namun yang ditemui hanyalah kekejian, tamak, culas dan mementingkan diri.

Kata “baik” sangat singkat untuk dijadikan sebuah judul. Hanya satu suku kata. Tapi itulah GM, selalu menulis hal-hal biasa namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa.

***
Sehabis membaca beberapa blog mistikus dan esais, saya kemudian menemani teman lama mengunjungi pamannya yang juga aktif dalam dunia mistik (tasawuf) di Hertasning-Makassar. Lama bercerita, kemudian mengajarkan kearifan yang terkandung dalam dunia tasawuf, yang tumbuh subur seperti dunia tarekat itu.

Ia mengajarkan kearifan :
Hendaklah perbanyak zikir. Shalat lail (tahajud) dan mencoba dalam sehari untuk tidak berbohong dan bersifat sombong. Dengan itu akan membersihkan hati (mu).
Yang bisa saya lakukan hanyalah merenung sehabis itu. Mencoba meresapi kata demi kata dan menghela ion-ion positif. Tak muda menjadi baik. Tapi banyak cara untuk berubah. Setiap perjalanan memberi pelajaran. Dan saya mendapatkan banyak hari itu.

Tapi itulah sebagian manusia apalagi saya, hasil perenungan itu hanya mampu bertahan sekitar lima menit saja dan mencoba ‘insyaf’ hanya bertahan sebentar. Setelah itu hilang entah kemana. Kembali menjadi manusia angkuh, tega hati, sulit memaafkan orang, curiga, sombong, sok dan kata-kata yang bisa mewakilinya. Sifat tinggi hati biasa menghinggapi manusia seperti saya yang selalu merasa diatas angin. lupa berpijak ke bumi, down to earth.

Dari sini ada pelajaran yang kembali saya "minum" dari mata air kearifan. Belajar bijak untuk hari ini dicoba esok hari lagi.

Saya mengingat satu hal, bahwa kebaikan tidak bisa di daku semuanya. Katanya, kebijaksanaan itu seperti puzzle. Di dalamnya mengandung kesabaran dan pelajaran.

--mencairkan suasana dengan segelas teh ditemani Padi-Menjadi Bijak#S07-Terimakasih Bijaksana#One Republic-Good Life. Makassar, 091011


Share: