Wednesday, July 27, 2011

Melankoli Pagi


"Morning is god’s special gift. In is quitness u can hear murmurs of life coming. The first light is like resurection".
Goenawan Mohamad (GM), sejak pagi hari mulai “berkicau” di twitter. Tidak beda dengan kuliah subuh atau khotbah, atau kultum. saya anggap saja demikian. biasanya dalam khotbah ataupun kultum--beberapa kata namun penuh khidmat. Tidak beda jauh yang ada di tv atau media lainnya.

Kicauannya yang dirangkum menjadi buku itu bertema—Pagi dan Hal hal-hal yang Lain, Sebuah Epigram, Kompas 2011—membuat pagi begitu penuh paradoks. Disadari memang, dalam epigram itu—mengajak kita untuk tidak menerima hidup apa adanya (dimaknai), epigram tidak saja sebagai prosa singkat namun menjadi kata-kata dengan sindiran, kearifan yang terkadang mengandung paradoks. Inilah yang ada dalam epigram GM itu.

Yang menarik disini adalah, mengapa GM memilih kata “pagi”? bukan “siang”, “sore” atau “malam” ? mungkin disini letak hebatnya GM, pagi yang terkadang sebagian orang tidak punya makna, namun di tangan GM persitiwa pagi begitu istimewa dan terkadang romantis. Mungkinlah pagi itu istimewa bila di tangan GM. Entahlah. Saya mencoba memetik epigram yang dirajut dan terangkum dalam catatan GM itu.
Pagi terbaik datang tanpa sisa mimpi—dan hari bisa dimulai dengan harapan.
Tentu pagi yang dirasakan GM berbeda dengan saya, orang lain, dan kita—tak sama sekali sama, tak akan pernah karena hari tidak pernah mengulang kisah yang sama. Mengolah indra adalah mengolah rasa. GM telah mewanti-wanti itu “dengan itu kita mengalami, menyaksikan, mengamati, dan merenungkan kembali pengalaman” . Apa yang kita rasakan akan sama sekali berlainan dengan orang lain.

Pagi menurut esais Catatan Pinggir itu adalah “pemberian”. Tidak berlebihan jika dia berkata itu. Di tempat yang jauh—di kampung. Pagi bisa menjadi sumber ilham dan sumber inspirasi bagi kebanyakan orang. Lihat saja di kampung. Orang-orang desa itu. Sejak subuh hari selepas bermunajat, bergegas mereka di pagi buta bertebaran mencari hidup dan bekerja.

Tak terkecuali Pagi pula adalah awal kehidupan mahluk hidup setelah sekian jam terlelap. Dan disitulah roh dikembalikan ke dalam jasad. Memulai hidup di pagi hari.

Pagi untuk sebagian orang adalah hal remeh temeh. Tapi tidak dengan Goenawan Mohamad, dalam catatannya dan kicauannya yang menghiasi twitter, pagi adalah tempatnya menyemai ion-ion positif. Tapi begitulah dia, hal sepele bisa menjadi hal yang luar biasa.
Yang paling melegakan dari pagi, seperti pagi ini adalah sejuk. Meskipun tak terasa harum kemuning yang semalam tertimpa hujan.
Kadang ia dengan metafora merajut dan meramu alam sedemikian dekatnya.

Saya coba bersiul memanggil angin, daun-daun praktis diam. Burung-burung hanya lewat. Tapi pagi pagi tetap sebuah prelude ringan, sebelum hari memberat.
Tema waktu memang tak bisa dilepaskan dari “pagi”, ia awal dari waktu. Ia bisa menjadi sesuatu yang lain, tidak bersahabat tak punya rasa kasihan. Saya ingat cerita itu, ketika Bandung Bondowoso gagal menaklukkan hati Loro Jongrang. Pagi adalah penanda besar dari cerita yang romantis sekalgus penuh kesia-siaan itu. jika tak ada bunyi tumbukan lesung padi, kokokan ayam—penanda pagi—tak ada cerita kesiaan hari itu, namun “pagi” adalah epilog dari Prambanan. tentang waktu yang tidak bisa ditaklukkan. sekuat apapun Bandung Bondowoso dengan bala tentara Penggingnya.

Dikisah yang lain, pagi dihidupkan kembali oleh GM melaui daun-daun dan burung-burung.

Mimpi bukanlah sisa keringat pada pagi hari. Ia hasrat yang menunggu siang. Setelah burung pergi.
Dan ia menambahkannya

Saya selalu merasa matahari pagi dan bau cemara hutan tak pernah mengulangi yang mereka berikan
Saya selalu merasa matahari pagi dan bau cemara hutan tak pernah mengulangi yang mereka berikan.Pagi : burung-burung terus saja sibuk, tanpa memilih sikap, tanpa dilema,mungkin juga tanpa harap dan kecewa.
Pagi terkadang punya melankolinya sendiri : saat sejuk yang menandai bahwa istirahat, seperti nikmat, hanya sebuah jeda.[...]

Mungkin epigram ini adalah penghias setiap kehidupan.Goenawan Mohamad begitu dekat dengan nuansa pagi. tidak ada yang salah andai bisa merasa, menikmati, memaknai, dan mengolah rasa saat-saat pagi di hari-hari kita. Jika memang tidak bisa, mungkin kita bisa mencari jawabnya pada Goenawan Mohamad dalam epigramnya.

saya harus mengucap selamat pagi dengan mewakilkan epigram GM

Selamat pagi, penjual roti yang lewat dengan bunyi yang itu-itu juga. yang rutin,yang terus menerus, yang sabar adalah air yang membentuk batu [...]

* foto : koleksi pribadi #lukisan anak-anak korban Merapi

Yogyakarta, 280711
Share:

Tuesday, July 26, 2011

Masih setia

Ricik air, gemuruh ombak, desau angin
Dan Nyanyian burung-burung
Aku mengingatmu tatkala sore
Di beranda itu dengan senyum tipismu
Tak henti membayang diriku hanyut dalam jiwamu

Bandul memantul-mantul waktu
Detak jantungku tak lagi lambat
Mengalirikan darahku darahmu
Kucoba regut bayangmu hari ini
Sambil membayang dirimu larut dalam nyanyianku

Akan kucoba diwaktu yang lain
Saat matahari masih setia
Saat bumi tetap tabah
Dan bulan yang selalu pucat

Yogyakarta, 260711
Share:

Maaf seluas samudra

...Jika ada sahabat yang menyalahimu, maka katakanlah : “ aku memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada diriku, tapi bagaimana mungkin aku bisa memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada diri kamu sendiri...???!!!”. demikianlah, semua cinta besar berkata ; sebab ia melampaui maaf dan belas kasihan...(Nietzsche – Sabda Zarathustra)
Kadang orang memiliki preseden buruk terhadap seseorang.itu biasa, manusiawi. Tapi ada cara menarik yang sudah lama dipraktekkan dalam menyambung silaturahim atau meminta maaf. Di negeri yang jauh, di tanah Arab, meminta maaf atau menyambung silaturahim dengan cara memberi benda. Terkadang, Benda yang tak bernilai secara harga tapi bermakna dalam menyambung silaturahmi antar saudara sesama muslim. Tradisi Arab dan Islam di-sunnah-kan untuk memberi “hadiah” dengan maksud menyambung tali persaudaraan dan silaturahmi (Rasulullah pun menyukai pemberian orang dan membalasnya). Dan sebagai simbolisasinya maka pemberian berbentuk benda bisa mewakilinya.

Memberi maaf dan memaafkan adalah persoalan yang gampang-gampang susah. tapi terlepas dari itu semua, memberi sesuatu sebagai tanda "maaf" bisa menjadi salah satu cara menyambung silaturahmi...
Share:

Wednesday, July 20, 2011

CINTA

Banyak defenisi tentang istilah ini, diikuti dengan pahit manisnya, suka cita dan duka cita melingkupinya. Orang tidak lelah berbicara dengan kata CINTA walau istilah ini termasuk tua. muncul rasa heran ketika dekat atau paling tidak berbicara cinta, orang rela membuang energi, perasaan, air mata bahkan mengahiri hidup hanya bersandar pada kata CINTA itu. “aku mencintaimu melebihi dari hidupku” kata itu selalu terdengar orang yang jatuh cinta.

Namun dari itu semua, tak ada yang mengalahkan CINTA dari sufi Rabi’ah al-Adawiyah, dengan cintanya pada Allah, merelakan tubuhnya tak terjamah laki-laki. Membiarkan diri perawan seumur hidup. Rabiah tidak rela membagi cintanya pada orang lain. Kekasihnya hanya Allah semata. Ia harus memberikan totalitas cintanya pada satu saja. bahkan kecintaanya mengalahkan rasa benci terhadap setan. Ia berkata, “cintaku kepada Allah tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada setan”.
Ya Allah
Apapun yang Engkau karuniakan
Padaku di dunia ini
Berikan pada musuh-musuh-Mu
Dan apapun yang akan engkau karuniakan
Padaku di akhirat nanti
Berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri
Cukuplah bagiku.
Cinta para sufi adalah cinta ilahi, yang transenden, melebihi cinta diri sendiri. Manusia akan benar-benar hidup dalam kedirian. Masing-masing membentuk dunianya sendiri-sendiri. Memaknai rasa cinta, beradasarkan keindividuan. Untuk merasa terpuaskan dengan seperti itu. cinta memang bukan terminologi kosong. Tapi sesuatu yang punya isi, ada berupa wujud, terkadang bersifat absurd. Mengawang-awang. Kosong tanpa makna.

Perdebatan soal cinta-mencintai akan seusia peradaban manusia. Sepanjang hayat, diskursus CINTA tak akan memudar. Seperti bau wangi bunga-bunga. Kadang wanginya terasa dekat di indrai namun sebenarnya jauh diseberang.

Seolah-olah menjauhi kata CINTA dan disisi lain mencoba mendekatkannya sedekat-dekatnya. Cinta memang membutuhkan kekuatan indra untuk memahami. Betapa tidak, cinta tidak hadir semata-mata dalam ruang kosong, namun kadang diisi.

Masihkah kita saling mengerti dan memahami tanpa mengenal kata cinta ? bukankah dunia masih tetap berputar tanpa kita saling mencinta ? dalam hal ini tidak ada yang benar, yang ada semua hal diperkenankan. Termasuk saya menulis cerita yang tidak penting ini.
Share:

Terimakasih Ibu...

Di keremangan malam ditahun 2011 berbulan Juli menjelang puasa perempuan tua itu masih bersabar menanti pelanggan. Ketika itu saya dan senior saya lagi apes, sepulang dari toko buku Toga Mas Jl. Gejayan, tiba-tiba ban motor pecah. Diujung malam seperti itu walau Jogja masih ramai, namun mustahil tambal ban banyak buka. malam itu yang ada hanya angkringan, minimarket dan lesehan. Saya mendorong motor dengan tersengal, seraya berharap tambal buka di malam seperti ini.

akhirnya, tak selang satu kilo meter, alhamdulilah, akhirnya ada satu tambal ban buka. Saya masih ingat tambal ban itu : Prisma Motor. Tempatnya kecil namun cukup lengkap, kompresor, bensin botol dan perkakas tambal.

Saya pun memarkir sambil mengharap tukang tambal ban. Saya dikejutkan dengan permpuan tua yang usianya kira-kira 60an. Sambil mempersilahkan motor diparkir standar dua. Perempuan itu sibuk mencari alat pengungkit. Saya berguman dalam hati apa benar perempuan ini yang menambal ?. dan tidak salah lagi ternyata perempuan paruh baya itu mulai mengungkit.
Rasa percayapun datang sekaligus takjub. Perempuan tua itu ternyata penambal ban. Pekerjaan yang kebanyakan hanya untuk laki-laki. Tanpa mendiskreditkan, pekerjaan itu pekerjaan yang memerlukan otot dan tergolong pekerjaan keras. Tapi perempuan tua itu telah melakukan pekerjaan laki-laki.

Saya pun dibuat takjub dengan jawaban bahwa pekerjaan ini telah dilakoni selama 15 tahun. Luar biasa. Saya hanya berkata singkat. Dengan pekerjaan itu ia mampu menyekolahkan anak-anaknya. Saya pun mencoba bertanya, mengapa ia mau melakukan pekerjaan itu ? dia hanya menjawab singkat

“rejeki saya ada disini (tambal ban)”.


Perempuan yang selalu disebut dengan lemah, lembut dan kemayu tidak nampak di malam buta itu. saban malam terus seperti itu. pekerjaan menambal dan membongkar onderdil kendaraan dilakoni sepanjang waktu. Saya pun ingat tulisan Sindhunata dalam Burung-Burung di Bundaran HI (2007) bahwa tanpa perempuan hidup kita tidak ada lagi.

Perempuan adalah sumber ilham. Terlebih perempuan seperti itu. pekerja keras dan tak mengenal kata lelah atau mengeluh. Senyumnya adalah tawa dunia. Selalu menghiasi keremangan malam. Rela menahan dingin dan terik matahari.

Saya pun tak ragu mengutip Byron (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI, 2007).
“payudara wanitalah yang memancarkan kehidupan ke dunia, bibirnya mengajarkan tutur katamu yang pertama, ia menyeka airmata ketika awal kau menjerit di dunia. Dan keluh kesahmu selalu berakhir di telinganya”


Share:

Monday, July 18, 2011

Seni yang Layak Dikenang


foto 1 : koleksi pribadi

Sepanjang waktu, seni adalah satu benda yang tidak pernah surut untuk berproduksi. Paling tidak apa yang terlihat di Taman Budaya Yogyakarta yang kembali menghadirkan tema - ART JOGJA 2011. Disaat orang-orang miris dengan kondisi bangsa yang tak nentu. Di taman budaya banyak memberi penyejuk dengan menawarkan seni rupa dan musikal yang layak untuk dikenang.

Beragam bentuk seni (yang kesemuanya nampak citra urban) terpampang. Beragam imaji, ekspresi, suara dan bentuk dinampakkan dalam karya itu. saya menyempatkan hadir di sela-sela kemalasan yang menggerogoti (terpaksa).

Di beranda taman budaya itu, saya takjub dengan bentuk salah satu karya “kepala gadis kecil terpenggal dengan ukuran besar”. Karya itu terbuat dari tanah liat. Nampak bagian wajah retak akibat sengatan matahari terus menerus. Saya lama terdiam. Terpukau dengan karya itu.bisa disebut maha karya.


foto 2 & 3 : koleksi pribadi

Saya beranjak lagi setelah berpuas-puas mengambil gambar kepala bayi terpenggal itu. masuk kedalam ruangan yang desain minimalis. Nampak dinding dan ruangan itu diisi bentuk karya yang layak dikenang. Beberapa karya yang mata terpana, nampak mengundang selera. Perlahan-lahan saya melangkah, berjalan dengan mata awas. Di pojok kanan, nampak mobil jeep dengan senapan laras panjang menggantung diri. Disisi kiri nampak lukisan tiga dimensi memencarkan pendar lampu-lampu dibalik lukisan.

Lukisan besar itu pernah terlihat sebelumnya-menjadi sampul majalah BASIS dengan tema pendidikan.

Saya tak puas dengan satu gambar, saya kemudian melangkah masuk diruangan gelap dengan gambar seperti hologram. Beberapa menit berganti menjadi gambar-gambar lain. Yang saya ingat adalah seribu wajah perempuan dan diruangan sebelahnya seribu wajah Marylin Monreo.
Bagi saya, yang awam tentang seni apalagi (maha) karya seperti itu, nampak susah untuk melupakan momen seperti itu. sejumlah karya-karya itu memang tidak layak untuk dilupakan. Semuanya mengundang takjub.

foto 4 : koleksi pribadi

Ini mungkin seni urban dengan gaya modern, beragam tawaran dan pesona. Agaknya benar Nirwan Ahmad Arsuka dalam blognya yang pemerhati seni itu bahwa seni modern memang mewarisi semangat untuk tidak menerima dunia apa adanya. Agaknya memang demikian. Beragam karya itu, seakan molak kemutlakan.

Saya berjalan lagi dalam ruangan lain, mata saya tertuju dengan ruangan yang di dominasi dengan sekelompok hewan penggerat, BABI. Yang menarik adalah, BABI dengan segerombolan anaknya tampil sendiri. Babi itu berwarna merah dengan cap taburan bintang. Saya tau bahwa itu simbol negara China. Tidak lain sebagai kekuatan besar dalam ekonomi dan politik.

Seni rupa modern seperti menolak pakem. Berusaha keluar dari kungkungan. Apa yang ada dalam ruangan (galery) itu memang seperti memberi jawaban.

Sayangnya saya tidak menulis nama-nama dari pembuat karya itu. tapi paling tidak gambar-gambar karya ini memberi penyejuk di mata. Aprsesiasi memang layak diberikan kepada panitia penyelenggara pameran seni rupa dan musikal ini. Pameran seni rupa dan musikal ini memang layak untuk dikenang.





foto 5 & 6 : koleksi pribadi

Jogja Art 2011, Taman Budaya Yogyakarta.



Share:

Saturday, July 16, 2011

Nostalgia Terhenti di Alun-alun Selatan

Seakan waktu terhenti di alun-alun selatan. Dibawah padang bulan, saat mengenang masa-masa silam. masa kecil dulu. Nostalgia kanak-kanak itu hadir kembali di lapangan yang selalu ramai itu. Yang membuat kembali mengenang masa kecil tidak lain ketapel lampu berwarna itu. tak habis waktu, berjam-jam melepaskan ketapel berbentuk seperti baling-baling bambu dengan aksesoris led biru, hijau dan merah.

Tak heran jika ketapel berlampu itu laku keras. Yang memainkannya tak lagi mengenal usia : anak kecil, dewasa hingga orang tua tak ketinggalan meluncurkan ketapel itu. saling berlomba. Berlomba-lomba meluncurkan ketapel paling tinggi. saya dan sahabat kuliah sayapun tak ketinggalan mengadu ketapel. Beradu paling tinggi. Kepala memang pegal mendongak keatas. Tapi taburan warna led yang dipancarkan ketapel dilangit itu menyudahi lelah kami. Tak berfikir lagi capek. Sampai jam demi jam terlewati. Larut dalam euforia. Romantisme kecil dulu.
Bermain dengan ketapel atau baling-baling bambu berarti mengikat lagi masa lalu yang penuh dengan kenangan. Membawa pada 25 tahun yang lalu buat saya. Bermain ditanah lapang di bawah padang bulan. Berlarian mengitari lapangan padang rumput di kampung.

Saya tidak tau padanan kata yang cocok untuk menyebut ketapel berlampu itu. untuk saya dikampung menyebutnya patte’. Yang bergagang dengan karet sebagai pelontar. Biasanya ketapel itu dipakai untuk menembak burung. Tapi di alun-alun selatan, ketapel ini kemudian dikomodifikasi menjadi sarana hiburan. Dibuat seperti baling-baling bambu dan disisipi led warna warni.

Ketapel berlampu itu memenuhi langit di alun alun selatan, bermain di bawah padang bulan menambah suasana khidmat malam itu. saya takjub, ternyata ketapel berlampu ini tidak hanya menjadi mainan orang kecil, namun orang-orang bermobil, BMW, Merci, dan mobil mewah lainnya ikut bermain. Malah ada yang rela meninggalkan pacarnya di mobilnya hanya untuk bermain ketapel lampu itu. Ketapel berlampu kisaran Rp.5000 sampai Rp. 8000 tergantung bahan.

Saya tidak tau, sampai kapan ketapel berlampu itu akan bertahan. Tapi malam itu menghabiskan waktu berlama-lama dengan hanya untuk melepaskan ketapel. Seperti meluncurkan anak panah ke angkasa. Tarikannya begitu keras. Tapi bagi kami, waktu akan terulang bermain-main seperti ketika kecil dulu. Di alun-alun selatan itu.

Yogya-Alunalun selatan, 1707011
Share:

Friday, July 15, 2011

Hasrat Kota Tua



Selalu ada cerita disetiap perjalanan. dan ini yang saya rasakan selama mengunjungi kota-tua itu, saat mata tertuju bangunan-bangunan tua bergaya eropa. Bermula dari Benteng, kantor pos, bank, dan jalan-jalan masih membekas sentuhan oriental.

Kota tua sebagai jembatan masa lalu. Memandangi lanskap bangunan yang masih nampak terawat membawa pada masa-masa silam. setidaknya mengenang.

Kota seperti yang diceritakan Walter Benjamin yang oleh Baudeleire disebut flaneuer (Kalam Edisi 2002 hal : 11). Dengan menelusuri kota, menenggelamkan dirinya kedalam kerumunan orang, menggunakan bentang kota sebagai landasan untuk menerbangkan imajinasi.

Agaknya memang demikian, kota tua menjadi sumber imajinasi dari waktu-waktu yang silam. Mencoba beromantisme, setidaknya orang yang pernah merasa perubahan kota dari waktu ke waktu. Dalam cerita flaneur menunjukkan bahwa dulu, pejalan kaki bisa menikmati jalan-jalan arkade. Pada zaman kolonial, dikatakan bahwa berjalan di sore hari hanya dengan menggunakan piyama. Tentu sekarang tidak lagi ditemukan itu. itu hanya ada dalam foto. Sebagai sumber yang tersisa yang bisa dinikmati.



Jembatan Masa Lalu


Tidak berlebihan jika kota tua adalah jembatan masa lalu. Satu hal yang selalu saya lakukan ketika ingin mengenang masa lalu, tentang masa-masa perjuangan, maka lari saya hanya satu : berkungjung ke Benteng Vredeburg, tidak jauh dari Malioboro. Diperempatan, sebelum menuju alau-alun, disisi jalan bangunan tua, dari Gereja, Kantor BI, hingga Kantor Pos peninggalan Belanda. Takjub dengan bangunan berusia ratusan tahun namun masih terjaga.

Di benteng Vrederburg disisi kiri sebelum masuk dalam ruanga diorama, nampak Sukarno dengan gambar besar menempel di dinding. Tepat di bawah, ada bel-orang tinggal memencet bel, maka suara proklamator Sukarno akan keluar melalui pengeras suara. kenangan lama yang sudah lama terkubur digali kembali. dengan sepeda onthel, topi priyayi, dan diorama serasa hidup dimasa-masa kolonial.

Namanya saja negera terjajah, bangsa ini dipenuhi dengan arsitektur bergaya eropa. Padahal di India, ada arsitek bernama Charles Correra menolak mentah-mentah bangunan bergaya eropa karena tidak sesuai dengan ciri khas orang India. Bangunan Indonesia dibuat tinggi-tinggi mengikuti model barat sampai hari ini. Padahal dulu kota-kota tua sangat jarang dibangun model-model bangunan tinggi. mungkin penjajah pelit dalam membangun bangunan-bangunan bergaya eropa dengan nilai estetika. Walaupun itu, bangunan bergaya Eropa, seperti kota tua di Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Solo masih sering ditemukan.

Bagaimanapun kota adalah sebuah ruang. Dan ruang adalah ruang menurut Marco Kusumawijaya (jurnal Kalam, 2002). Ruang bukan sekadar latar bagi obyek. Ruang menjadi kehidupan bermasyarakat di dalamnya.

Itulah ruang kota. Terlebih ruang dalam kota tua-menjadi jembatan masa lalu ke masa kini. Kota tua hidup dalam waktu yang diciptakan didalamnya. Wajah kota memang akan berubah dan berubah. Yang ada sekarang bisa saja terganti (kota tua tergusur atau tidak terawat), besok atau lusa atau nanti kota tua menjadi suatu penanda waktu yang silam.

Yogya 150711
Share:

Wednesday, July 13, 2011

MADILOG dari Sahabat

Hari ini saya senang bukan main. Bertemu salah seorang senior yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin. Kesempatan secara kebetulan, dia mengikuti konfrensi internasional di Kampus UGM dan akhirnya terjadi pertemuan yang tiba-tiba.

Saya pun diajak untuk membeli buku di shoping tak jauh dari taman budaya Yogyakarta. Sambil beromantisme dengan yogyakarta, dia bercerita pengalamannya berkeliling negara. Saya pun ‘iri’ mendengar ceritanya yang sudah melintasi benua. tapi perasaan iti itu saya anggap sebagai motivasi saya untuk lebih maju untuk bisa menuju benua lain. Seperti yang dia rasakan.

Cerita romantisme berhenti berbunyi. Saat kami tiba di langganan toko buku. Dengan diskon sampai 40 persen, maka tak ada alasan untuk tidak membeli buku di tempat itu. senior itupun membeli beberapa eksemplar. Sedangkan saya mencari buku yang lain. Hanya melihat-lihat karena beasiswa belum cair. Setiap beasiswa cair, uang pertama saya yang keluar dari beasiswa itu harus buku. Setelah itu kebutuhan lain termasuk intertain.

Entah, mengapa ingatan saya tertuju pada MADILOG milik TAN MALAKA. Padahal beberapa bulan ini habis slalu terjual. Saya pun menanyakan kepada langganan saya itu. Dan ternyata buku yang menjadi salah satu magnum opus “pahlawan yang terlupakan” itu ada.

“tinggal satu mas, kemarin udah banyak nyari”. Sambil langganan saya menyodorkan buku yang memiliki tebal kurang lebih 500 halaman.

TAN MALAKA. Saya baru mengetahui karya-karyanya di Jogja ini, padahal sudah sering saya mendengar tokoh ini melalui koran atau senior-senior dan aktivis semasa kuliah S1 dulu. Tapi kali ini baru terasa dekat dengannya, melalui karya-karyanya.

Saya pernah bertemu dengan penulis tan malaka di kampus, Harry Poeze, penulis Belanda yang menulis kembali TAN MALAKA sampai beberapa jilid.

Saya memegang MADILOG, menimang-nimang, dan bergumam. Setelah beasiswa cair, maka buku ini jadi prioritas sebelum menjadi langka, seperti buku-buku Sukarno, Marx, Syachrir, GIE dan tokoh-tokoh lainnya. Saya pun menyuruh langganan saya untuk disimpan sampai saya punya uang. Dan mengatakan “iya, ta’ simpankan sampeyan”. Aman pikirku. Saya tidak harus mencari lagi karya besar tokoh revolusi itu. Selain langka, harganya juga mahal untuk kalangan mahasiswa.

Tapi ada kemujuran disetiap kesempatan. Kadang kejutan datang tanpa tau arahnya darimana, dan itu yang saya rasa hari itu. sore itu. Tiba-tiba senior tanpa permisi, langsung melunasi buku MADILOG. Saya malu dan sungkan, padahal saya sebagai tuan rumah harus memberi pelayanan sebaik mungkin tanpa ada niat lain. saya membantu, ikhlas dan tanpa pamrih. Tapi nyatanya dia membelikan buku yang sudah lama saya cari. Senang tak terkira. Mungkin dia mengerti, mahasiswa berapa saja kemampuang membeli bukunya. Saya anggap sebuah rejeki dan tak lupa berucap terima kasih tak terhingga atas kebaikannya walaupun belum sempat berucap hari itu.

Saya mengutip sedikit dari MADILOG yang belum menjadi daftar bacaan untuk beberapa minggu depan. Banyak tugas dan daftar bacaan menjadi sebabnya. Menurut TAN MALAKA, kemajuan manusia harus melalui tiga tahap : dari “Logika Mistika”, lewat “Filsafat” ke “ilmu Pengetahuan” (sains). Selama bangsa Indonesia masih tekungkung dengan “logika Mistika”, tak akan mungkin menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Dan MADILOG adalah jalan keluar dari “Logika Mistika” itu.

Untuk hari ini, trima kasih tuhan, terima kasih senior atas buku MADILOG-nya.

Yogya, 130711

Share:

Sunday, July 10, 2011

Menanti Peran Intelektual

Berbagai masalah yang mendera bangsa akhir-akhir ini diperlukan sosok yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran. Sosok itu kira-kira bisa disematkan pada kaum intelektual. Sungguh banyak kaum intelektual bangsa ini, namun sangat sedikit peran dalam memecahkan masalah. Intelektual hari ini sebagian besar sibuk dibalik meja tanpa mau terlibat dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Sangat sedikit yang empati terhadap permasalahan rakyat kecil, dan miskin.

Siapa Intelektual ?

Siapa kaum intelektual itu ?. terang pemikiran Antonio Gramsci nampaknya dapat dipinjam, semua orang memiliki potensi menjadi intelektual tetapi tidak semua memiliki fungsi di dalam masyarakat. Dalam bukunya Selection from The Prison Notebooks (1971), Gramsci membagi beberapa distingsi intelektual menjadi diantaranya, intelektual tradisional, intelektual organik dan kritis.

sederhana untuk bilang bahwa intelektual tidak hanya duduk di bangku kuliah atau bergelar sarjana, master hingga profesor. Namun bagemana setiap orang membangun khayalan-khayalan tentang intelektual itu dalam mewarnai realitas sosialnya. diskursus yang panjang antara intelektual dan bukan intelektual bisa dilihat dari salah satu tulisan, diantaranya Daniel Dhakidae. Tanpa membedakan istilah “intelektual”, “cendikiawan” dan “intelegensia” (istilah ini biasa saling menggantikan), seperti Dhakidae yang lebih memilih menggunakan istilah “cendikiawan”. Bukunya tentang cendikiawan dan kekuasaan (2003) mewakili distingsi antara antara cendikawan dan bukan cendikiawan, karena sifatnya yang cair, maka term itu seperti menggoreskan garis di atas air sungai yang mengalir. Siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menghidupkan khayalan tentang dirinya sebagai bagian dari kaum cerdikiawan/intelektual.

Semua orang bisa mendaku tentang khalan-kyalan intelek dan cendekia. Orang orang ditapal batas ini memang berada dalam dilema. Dsatu kaki menghamba pada kekuasaan dan disisi lain empati pada kondisi realitasnya. Orang-orang ini ibaratnya tidak hanya asal hidup namun menciptakan lingkungan yang teratur dan nyaman. Ambiguitas peran-peran uintelektual menjadi persoalan tersendiri dalam memahami dirinya. Satu sisi dekat dengan kekuasaan tapi disisi lain ingin mendekat dan merasakan realitas dalam masyarakat.

Intelektual yang jika digolongkan dalam struktur masyarakat, maka dia bisa masuk dalam kelas menengah. Yang mencengangkan adalah kondisi kelas menengah sedang letih lesuh dalam menghadapi realitas sosial. Padahal kelas menengah adalah segolongan yang diharapkan dapat melakukan perubahan sosial (transformasi). Beberapa hal bisa saja kelas menengah (Baca : Intelektual) kemudian mengambil jarak, Pertama, kelas menengah sudah merasa mapan sehingga untuk mengurusi yang lain tidak mungkin lagi.

Kedua, kelas menengah dibelenggu oleh sistem. Belenggu ini bisa bersifat ideologis, bisa bersifat stuktural. kondisi intelektual berada dalam posisi dilematis, mencerminkan adanya kesibukan diruang-ruang kuliah dan labopratorium, yang akhirnya melahirkan intelektual “menara gading”. Tak heran jika Plato yang mencita-citakan negara ideal jika di pimpin oleh yang berbakat dan berpendidikan.

kita memang mengharap peran intelektual...



Share:

Friday, July 8, 2011

Kuntowjiyo dan Ilmu Kenabian


Malaikat bertanya,

Apakah aku ingin berjalan diatas mega ?

Dan aku menolaknya.

Karena kakiku masih di bumi

Sampai dhuafa lepas dari keterpurukan

Sampai mustadafin diangkat oleh tuhan.
(dibacakan oleh istri Kuntowijyo, Gedung Lengkung 2011)

Suara ibu Kunto, demikian istri untowijoyo akrab disapa-menahan sedih membacakan sajak di saat masa-masa akhir kebersamaan bersama Prof. Kuntowijoyo. ia seakan tak kuasa melanjutkan bait sajak yang ditulis oleh suaminya.ada perasaan tertahan, tapi air mata tidak habis berderai. haru nampak nyata dalam diskusi itu, serasa larut dalam sebuah elegi.

Kembali menghadiri diskusi Great Thinker-“Kuntowijyo dan Ilmu Sosial Profetik”.sekolah pasca kali ini. Menghadirkan murid-murid Kuntowijoyo. Murid langsung Kunto, Prof. Bambang Purwanto (Guru Besar FIB UGM) dan murid tidak langsung Prof. Purwosantoso (Guru Besar Ilmu Politik UGM).

ini seperti diskusi dalam konteks romantik bulanan kali ini di gedung lengkung sekolah pasca dengan tajuk-Great Thinker. pemikir besar setiap bulan di hadirkan. menghadirkan karya-karya pemikir Nusantara.

kembali ke Kuntowijoyo. sederhana untuk mengungkapkan untuk dia : Mengagumi. Menjadi pengagum dari novel dan buku-buku yang dia hasilkan, mantra penjinak ular, dilarang mencintai kupu-kupu, khotbah di atas bukit adalah beberapa dari novel yang telah dihasilkannya, belum termasuk buku-buku ilmiah yang dikarangnya semasa aktif sebagai dosen.

Mengenang dalam konteks romantisme bersama pemikiran Kunto mungkin pas di daras disini. Kuntowijoyo adalah sumber ilham. Membahas pemikirannya berarti membahas pula ilmu atau islam profetik-nya.

Menjelang usia 50 tahun, Kunto mencetuskan ilmu sosial profetik. Seakan tidak punya kata-kata lagi melukiskan sosok yang satu ini, dia bisa disebut sastrawan, ilmuan, sejarawan dan cendikiawan. Seakan menjadi sosok komplet.

Ia selalu hadir dengan ide-idenya. Begitulah inti pemikiran kuntowijoyo. Sejarah sebagai sebuah petualangan. Selalu mengandung resiko. Demikian juga pemikiran yang dicetus Kuntowijoyo, ilmu sosial profetik-Mengandung resiko karena akan berhadapan dengan hegemoni pengetahuan, terutama posititivitik.

Ilmu profetik mencoba menawarkan pendekatan baru, bahwa roh pengetahuan semustinya berlandaskan pada ketauhidan dan kemanusiaan. Inti dari profetik adalah mendaras konsepsi tentang transendensi (ketauhidan), liberasi (pembebasan) dan humanisasi (kemanusiaan). Perjuangan keilmuan sekarang kadang sebatas pada konsep liberasi namun memisahkan konsep transendesi dan humanisasi. Profetik ala Kunto menjembatani tiga aras itu.

Tapi bagemanapun, ilmu profetik sebenarnya memiliki kandungan makna sebagai sebuah alternatif, namun jadi masalah adalah jika ia dibuat semacam metodologi ataupun mahzab, walaupun tidak ada yang tidak mungkin. Namun, diantara hegemoni ilmu-ilmu dari luar, pendekatan profetik masih akan menjadi pertarungan memperebutkan ruang dalam diskursus pengetahuan. Dan ini penting sebagai alternatif baru dalam khazanah pengetahuan di Indonesia.

Sebuah paradigmabaru yang ditawarkan memang tidak akan mudah dari hegemoni mahzab dari luar.tapi setidaknya ada ruang yang direbut disitu. Murid-murid kunto sadar, bahwa ilmu sosial profetik itu rentan (fregile) terhadap hegemoni ilmu-ilmu positivistik.

Mungkin disini, Kuntowijoyo mencoba berkata bahwa ber-ilmu dan ber-agama sama pentingnya.

Jogja, 230611

Share:

Thursday, July 7, 2011

Seribu Janji

konon karena orang suka berjanji dan dijanji, maka janji bertebaran di mana-mana. tidak hanya dalam urusan asmara orang suka berjanji, dalam urusan utang-piutang orang senang menjanji, tapi yang menarik sekarang adalah urusan janji-menjanji dalam politik.

syahdan, peristiwa ini kembali saya temukan di daerah Lampung saat penelitian di salah satu daerah. janji-menjanji kembali dimunculkan pada pilkada yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

toh, dengan trauma masa pencalegan-2009 masyarakat tidak kapok dengan janji para penjanji (kandidat). inilah yang mungkin bisa disebut masyarakat tanpa kesadaran kritis (kesadaran palsu) menurut Marx, entahlah. tapi dengan trauma janji ini masyarakat masih suka dijanji.

dalam masyarakat yang suka dijanji ini, masyarakat terbuai dengan nuansa utopis dengan harapan janji akan terpenuhi.

"dulu pada saat pilcaleg, kami di janji lampu jalan mas, tapi setelah kandidat itu terpilih, kami menagih janji malah kami yang di cuekin"
cerita mas Ngatimin itu hanyalah sebagian kecil dari cerita pahit dari janji-janji. karena banyaknya janji yang ditebar, tidak heran jika ada lagu milik Broery Marantika, tinggi gunung seribu janji. janji hanyalah janji. janji tinggal janji.

jancimu taroe, dalam frase bugis dilukiskan jika janji tidak ditepati. janji tinggallah janji.

"Bukan janji namanya jika ditepati."
itulah adigium yang sering dimunculkan. janji itu bernama jika tidak dibuktikan. seribu janji melukiskan sesuatu yang jamak, (saya pun tidak luput dengan suka men-janji). termasuk janji manis dari seseorang. seribu janji seperti membilang yang banyak, tak terhingga, seperti seribu bintang, seribu kata-kata. tak terhingga.

***

menjanji dan dijanji adalah sebait pemanis kata untuk menyenangkan hati. orang paling senang dengan janji. yang memiriskan ketika terbuai dengan janji akhirnya larut dengan janji-janji.

perasaan ini kemudian bisa memunculkan bahwa ternyata janji itu bisa memuat kepalsuan. menjadi semata-mata "pil penenang" dalam ketakpastian kehidupan manusia. bagemana dengan orang yang suka menjanji ? entahlah. tapi disini dalam pemahaman bodoh saya dapat melihat bahwa ada keinginan untuk menepati. tapi keterbatasan waktu, dana dan ruang meluruhkan janji itu dan akhirnya menguap.

ada perasaan bersalah bersanding dengan perasaan tidak enak hati. disini orang mengalami dilema. agama dan nilai-nilai kejujuran seakan-akan ditempatkan pada tempat yang jauh sambil mengharap mendekatkan diri dari tempat itu : karena tuhan maha pengasih dan penyayang. manusia sadar bahwa janji adalah utang, dan utang menjadi dosa jika tak terbayar. dan dosa tempatnya di NERAKA. cerita itu seakan-akan sekedar menakut-nakuti. maka percuma ceramah agama, beribadah tiap waktu dan bermuka lugu dan religius. entahlah!.

tentu permasalahan menepati janji tidak semudah dibayangkan, sejauh pemenuhan materi dan degradasi masyarakat jujur (dishonest society) masih belum terpecahkan. seakan-akan kejujuran adalah sebagai "hantu" yang kadang kala di musnahkan namun dalam waktu yang lain dibutuhkan kehadirannya.

imbasnya adalah, terpaksa diperhadapkan pada kemunafikan yang kemudian menuntun seseorang untuk bersandiwara dalam hidup.

mungkin Goffman dalam panggung belakang dan panggung depannya dalam Dramaturgi bisa dikutip disini. manusia dalam mewarnai realitas sosialnya ibarat me-lakon-kan peran dalam sebuah panggung sandiwara.

lidah memang tak bertulang

tak terbatas kata-kata

tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

lagu Broery Marantika ini mungkin bisa menjadi penawar dari janji-janji itu.


Lampung menuju Jogja, 080711
Share: