Sunday, June 26, 2011

Memulung cerita...


Nani, Amie, Wahyu : Batuan andesit (candi) ini tidak simetris, tidak hanya batuan kubus saja ?



Gusti - Denny : karena andesit memiliki pori-pori yang mampu menyerap air. Batuan itu tidak simetris biar saling mengokohkan karena dalam perbedaan bentuk itulah candi itu kokoh, mampu bertahan dari alam dan waktu...

Aku (dimana ?): memulung cerita di Candi Ijo itu menjadi sebuah kenangan, merajutnya, menyimpannya dalam sebuah foto. mereduksi perbedaan kita sore itu. iya, kita tidak selalu berbeda setiap saat, tapi ada saatnya kita bersama, seperti ini, dibawah langit biru di Candi Ijo itu [...]

Candi Ijo, Yogyakarata Mei 2011
Share:

Saturday, June 25, 2011

Kisah perempuan pembawa coklat...

“wanita harus membayar utang kehidupan ini bukan dengan apa yang ia kerjakan, tetapi apa yang ia derita. Ia harus merayapi hidup dalam penderitaannya karena hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya” (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI : 2007).
Dengan mengutip filsuf Schopenhauer, Sindhunata mencoba melukiskan kisah perempuan di Kramat Tunggak, Jakarta. Saya mencoba menghubungkan kisah perempuan dengan dunia yang berbeda, kisah yang berbeda dan persoalan yang berbeda pula. kisah perempuan yang lain itu terjadi rumah makan di Raminten.

Tentu kita bisa saja tidak bersepakat kata-kata pesimis Schopenhauer diatas itu. Apalagi ditengah wacana emansipasi perempuan saat ini. serasah tidak menarik.

Tapi ada yang menarik sepotong kata dari kalimat Schopenhauer itu.”...hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya”. ada peristiwa yang mengharukan sekaligus menggugah di suatu malam di rumah makan Raminten Yogyakarta. Saya tidak sendiria malam itu, bersama teman-teman asrama.

***
Naluri ke-ibu-an mungkin menghendakinya demikian. Ia menyusuri malam-malam sambil menjajakan coklat yang dibuat dengan tangannya sendiri. Tak ada yang lain, perempuan itu berusaha dan tak mengenal waktu untuk kesembuhan putrinya yang terbarin sakit.

Dengan nada yang datar dan sopan, perempuan itu menyodorkan coklat buatan tangannya pada kami. “nuwun mas, saya menawarkan coklat untuk pengobatan anak saya yang sakit”. Coklat dengan kemasan cantik dengan rasa almon dan mete memang menarik hati. Tap harga yang kurang sreg membuat kami saling memandang. Bukan harga murah untuk kalangan mahasiswa. Tapi ada kata-kata pamungkas yang membuat kami empati, larut dalam dunia yang ia rasakan.

“untuk berobat anak saya, ia sekarang di rumah sakit, kena lupus mas”.
Kesedihan nampak di raut wajahnya tapi berusaha tegar. Hanya itu yang ia mampu. Ia mencurahkan hati dan tenaga untuk anaknya. Pukul 12.00 malam, Raminten tak menandakan sepi, padahal malam dinginnnya malam itu menusuk-nusuk tulang. Kidung Jawa masih mengalun dalam keramain tempat itu, remang cahaya lampu-lampu mengikuti nuansa kidung itu, mengikuti kisah perempuan itu : sepi

Perempuan itu berkeliling dan berpindah, dari meja ke meja. Ada yang hirau juga ada yang tak hirau. Ada yang menampakkan wajah kusam ketika dihampiri, seperti memberi isyarat mengganggu selera makannya. Dunia memang kadang paradoks. Ketika menyadari manusia dalam ketidakberdayaan, ada juga yang tak iba. Tak ada yang salah dari wajah-wajah itu. toh setiap manusia tidak selalu menjadi dermawan dalam setiap waktu. Termasuk kami. Yang kami lakukan hanya sekedar rasa kemanusiaan. Tidak lebih.

Seakan perempuan itu merasakan sepi dimalamnya. Sepi mengiris hatinya. Mengingatkan anaknya terbaring sakit dan tak mampu akan biaya. Negara pun alpa ketika dibutuhkan. Ia menyadari negara tak ada ketika ia membutuhkan. Maka ia menggunakan akal sehat dan tenaganya untuk bisa memberi harapan pada putrinya : kesembuhan.

***

Sesampai di kost, tak menunggu lama untuk membuka google dan membuka seperti apa penyakit lupus itu. sederhana, dengan keyword "lupus", akhirnya muncul 894.000 entry. Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi cheap prescription drugs without prescription penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh (http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-lupus/#ixzz1PkHxg0wE).

Cerita ini adalah sebuah pengalaman hidup tentang arti perjuangan ibu yang menginginkan anaknya sehat dan bermain riang dihalaman rumah. Dengan segala cara, menjajakan coklat hasil buatan tangan ditengah malam buta dan dingin yang menusuk-nusuk tulang.

Pada akhirnya, coklat berisi almon dan mete itu akan melanglang ditengah malam yang menggigit meminta belas kasihan dari derita yang dihadapi. Terbaring, tak berdaya. Ironisnya, dengan itu ia membimbing dirinya di malam buta hanya sekedar untuk kesembuhan anaknya. Inilah mungkin yang disebut naluri, naluri perempuan sekaligu ibu.

Yogya, 250611



Share:

Tuesday, June 21, 2011

Tiga ranting



tiga ranting
perlahan,
melepas dedaunan dengan rela : tak kuasa lagi menahannya disana

Ranting dan sebait puisi hujan bulan juni

: untuk non

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. ya, Ranting itu, dengan kesabarannya mencintaimu. Walaupun kau tak menyadari. Ia mencintaimu diam-diam. Tak pernah berfikir untuk berkata

Ranting itu yang dalam suka dan tawamu menemani. tak bosan menjagamu. Walau kau tak menyadarinya. Setia apa adanya. Tak pernah berniat berpaling

Ia jua yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Dibiarkan perasannya tertahan tak terungkap. Walau kau menyadarinya. ia rela menahan waktu. Menunggu senja beringsut perlahan-lahan. Menjemputnya

Ranting itulah yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Tak ada yang lain. Memujamu tak henti-hentinya. Ia masih disitu diranting itu

Ranting (dan) kita

ini tentang kita
Saat mengenang masamasa silam di jalan itu.
Bertukar tawa, air mata, dan kesiasiaan

Masih tentang kita
Saat menuliskan sebait cerita di kertas berwarna dan menggangtungnya dirantingranting pohon itu. tak habis-habis kata untuk di eja. Tak lekang pula waktu menunggu hinggai kertas-kertas itu memudar dan lapuk. Diurai waktu

Dan ini akhir dari kita
Ketika harapan sebatas utopia, tak berwujud seperti cerita dalam kertas itu : menghilang dan tenggelam

cerita kita ada diranting itu.
Yogya, 210611


Share:

Friday, June 17, 2011

Muhammad, Engkaulah Kedamaian

Saya baru saja membaca Sirah Nabawiyah, sejarah lengkap Nabi Muhammad Saw. Karangan Abul Hasan’Ali al-Hasani an-Nadwi, Mardiyah Press yYang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Betapa saya menjadi manusia merugi jika saya tidak mengenal Sirah Nabawiyah sang pencerah alam. (rahmatan lilalamin) saya tidak tidak tahu mengapa saya harus mengambil buku ini, padahal tujuan saya sebelumnya adalah meminjam buku-buku kuliah. Tapi aneh adalah mata saya menuntun ke buku itu, Sirah Nabawiyah itu.

Betapa saya harus merenung, membaca sosok yang diagungkan di umat Muslim. Sosok manusia komplit yang pernah dilahirkan di bumi (terlepas Muhammad Saw seorang rasul dan nabi). Sirah nabawiah adalah perjalanan lengkap nabi dari nubuat hingga akhir hayatnya. Saya hanya mengambil beberapa poin penting dari sejarah hidupnya.

Kelahiran nabi pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah (570)bertepatan dengan bulan april. Nabi Muhammad wafat senin 12 rabi’ul awal tahun 11 Hijriah.

Kelahiran Nabi besar ini diikuti dengan matahari terbit, saat jazirah arab bersuka cita menyambut nabi pembaharu di tanah arab. saat meniggal di ikuti dengan tenggelamnya matahari. Saya menangkap bahwa alam mengikuti seremoni kehidupan rasulullah ini. Alam saat itu berduka dengan tenggelamnya matahari. Seolah-olah matahari muncul dan tenggelam mengikuti alur hidup nabi Muhammad.

Saya mengutip wasiat terakhir yang tentu menjadi pegangan bagi umat muslim. Memelihara shalat, berzakat dan berbuat baik pada hamba sahaya. (hal : 494) Nilai-nilai humanis beliua tidak diragukan lagi. Betapa tidak, saat menjelang ajalnya masih berwasiat pada Aisyah ra, beberapa keping dirham untuk diinfakkan. “wahai Aisyah, apa yang akan kau perbuat dengan emas ?

Saya belum usai membaca Sirah Nabawiyah, tapi saya akan melanjutkan serat itu bersama muncul dan tenggelamnya matahari...


Share:

Khotbah kebudayaan Mahfud MD

Rektor UII

Khotbah Kebudayaan oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud MD

Penyerahan buku yang diterbitkan PSI UII


saya beruntung hari ini mendapat undangan edisi terbatas menghadiri khotbah kebudayaan Prof.Dr.Mahfud MD, Ketua mahkamah konstitusi itu. tidak hanya mendapat bingkisan begitu banyak buku. namun pidato ilmiah Mahfud sangat menggugah.

khotbah kebudayaan peringatan 1 Dasawarsa Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu mengangkat tema "mendaras Islam yang rahmatan lilalamin : memahami kemajemukan agama dan budaya dalam bingkai keindonesiaan".

saya melupakan satu kesempatan menulis pidato Mahfud dengan begitu sarat pesan religius dan humanis. point penting saja yang sempat terekam dalam benak.

...Pluralisme musti diterima dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.mengapa ? karena, pertama. manusia diturunkan berasal dari satu sumber(adam-hawa) kemudian seiring perjalanan hidup, manusia kemudian berpencar-pencar,kita harus menerima itu sebagai suatu sunnatullah. kedua, melihat pluralisme harus mencari persmaan bukan dengan melihat perbedaan. sebabnya melihat persamaan akan melahirkan kerukunan. ketiga. toleran. setiap agama memiliki sikap hidup untuk toleran dengan agama lain. prinsip beragama ini penting dalam merajut perdamaian...

saya bersyukur kembali bertemu dengan orang-orang besar. setiap waktu bertemu dan mengekstraksi pengetahuan dan pengalaman saya selama di Yogya.

tidak lupa, kudapan, tumpengan tak lupa dicicip. dan keberkahan hari itu juga bungkusan buku yang jumlahnya tidak sedikit : 6 eksemplar melengkapi khobtbah kebudayaan itu.

*selamat untuk milad Pusat Studi Islam (PSI) UII. matur nuwun mas Imam Samroni tuk undangan dadakan dan bundelan bukunya.

yogya, jumat 170611

Share:

Wednesday, June 15, 2011

Untunglah, masih ada tawa


Ditengah orang-orang yang malas tertawa, bocah peminta itu mencoba tertawa. Di perempatan lampu merah itu sambil menenteng kaleng derma. Selaksa tawa pun memecah bersama teman sebayanya seraya mata menatap awas di kerumunan kendaraan yang berlalu-lalang. Ada yang hadir ditengah realitasnya yang galau. Ironis skaligus tragis. Mencoba tertawa dalam galaunya hidup dan serba susah. Ia mungkin berfikir, hidup sudah susah jika diri ikut susah maka dunia yang datarlah yang hadir. Tak memiliki warna.

Hati siapa yang tidak bergetar menyaksikan realitas bocah peminta itu ? tidak terkecuali saya. Saya pun larut dalam dunia yang ia ciptakan. Bahagia dalam dunia yang ironis nan penuh tragedi ini. Saya mengambil pelajaran waktu itu, bahwa dengan kepapaan tidak berarti tak ada lagi tawa. Karena tertawa memberi rangsangan hormon endorfin memompa tubuh untuk bahagia. Ia menyadari, yang ia miliki adalah adalah kaleng derma dan segurat tawa menemani perjalanan panasnya siang dan dinginnya malam. Sebuah paradoks.

Kisah ini membuat saya mengingat lagi Sindhunata dengan ilmu nggelthek-nya (2004). Tertawa menyimpan banyak rahasia dalam hidup. Sindhunata memberi nafas pada kisah bocah peminta itu, ketika manusia tertawa, itulah saat dimana “surga sedang menyentuh hati”.

Saya berasumsi, hari-hari yang ia lalu bisa jadi berat, penuh beban, tak seperti anak sebayanya yang kaya, membosankan dan monoton. Namun ia memiliki perasaan untuk selalu bahagia : perasaanya untuk tertawa dan menertawakan realitas. Ia hidup dalam dunia humor yang diciptakannya. Sepertinya tertawa lagi menjadi obat murajab itu, bocah kecil itu menawarkan warna baru dengan menertawai realitasnya.

Tertawa membuat manusia menjadi bijak. Tapi kisah anak itu membawa pemahaman bahwa bijak diperoleh dari kisah-kisah empirik manusia. Perjalanan sosio-religiositaslah manusia mampu menempuh tangga kebijaksanaan.

Ditengah pelitnya orang memberi tawa atau paling tidak memberi kesempatan diri tertawa dengan orang lain. Alih-alih memberi waktu tertawa saya terkadang memberi nuansa ‘kecut’ dan bermuka masam. Tertawa tak nampak sejauh yang saya bisa. Untung bocah kecil itu tak sama dengan saya selalu menampakkan wajah masam.

Tertawa memberi tempat pada surga menyentuh lubuk hati. Kedamaian terhampar, lapang dan lepas beban. Tertawa membawa pergi stres yang membelenggu dan persoalan dunia yang tak habis diurai. Dengan tertawa saripati hidup dapat dirasa sebut Sindhunata. Kita tahu, mati adalah kata final dan pasti. Tapi tawa tak mengenal kata final dan akhir. Tawa adalah hiburan ‘gratis’ pada diri sendiri.

Akhirnya kita mengutip kembali Sindhunata - ngglethek-nya :

nggelthek adalah akhir dari segalanya. tertawa, karena, eh ngglethek, apa yang kita raih, ternyata harus kita tinggalkan, karenanya kita disadarkan.bahwa mengalami kepauasan, kita justru harus rela kehilangan segala kepuasan yang kita cita-citakan. tertawa, karena, eh ngglethek, kita jutru merasa memiliki semuanya, ketika kita mengalami bahwa kita tidak mempunyai semuanya...

Kita ber-airmata, ber-nostalgia sambil tawa menghiasinya...

Yogya, 160611


Share:

Thursday, June 9, 2011

Allende


Jika kemajuan adalah kapitalisme, maka Kuba adalah sebuah masa lalu. Ia seakan menjadi sebuah pulau ganjil. Dalam tudung sosialisme yang kuno, terpisah secara ekonomi yang global, gigih, ganas. Catatan Pinggir Goenawan Mohamad di tahun 1999 itu mengingatkan saya buku yang lalu dan lain-berkisah dari pulau kurus di Amerika Latin-Chili. Arif Budiman, Jalan Demokratis Menuju Sosialisme (pengalaman Chili di bawah Allende) membuka dengan mengantar pidato Salvador Allende :

“Sekarang rakyat telah berhasil merebut kekuasaan atas nasib mereka sendiri untuk berderap maju menuju sosialisme melalui jalan demokratis”

Pidato yang berapi-api dihadapan rakyat Chili itu seakan membuka jalan Chili (Via Chilena) menuju sosialisme. Disini, Sosialisme baru saja diretas di negara kecil bagian amerika latin itu. Allende yang Marxis itu berusaha merubah masyarakat Chile menuju sosialisme. Tapi Sosialisme juga bukanlah kata baku, tidak langgeng dan tetap. Setelah tiga tahun. Via Chilena Allende harus berakhir dalam kudeta berdarah.

Allende yang porak poranda di tahun 1973. Kelompok militer melakukan kudeta berdarah. Skaligus merenggut sang presiden Marxis itu. mimpi sang presiden Marxis pun pupus.

Toh, sosialisme bukan jalan baru Chili, ideologi ini telah lahir lama, bermula dari mimpi-mimpi Marx untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas. Mimpi Marx inipun menyebar seperti candu. Sosialisme adalah sebuah cita-cita skaligus mimpi. Mengembara denga semangat kebersamaan.
Jalan sosialisme Chili bukan tanpa alasan, perekonomian bergantung pada negara kapitalisme Amerika. Lahan-lahan sebagian besar dikuasai kaum borjuasi. Kondisi inilah yang tidak disukai Allende. Alende pun bermimpi dan mendambakan masyarakat Chili yang demokratis.

Tak penting sosialisme atau kapitalisme, jika mau meminjam istilah Deng Shio Ping, mantan pemimpin visioner China itu, ia berkata
“tak peduli kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus”
Demokrasi kata Goenawan Mohamad adalah sebuah sistem yang siap utuk kecewa. Karena demokrasi yang kita puja adalah sistem sebuah sejarah, sedang dengan ratu adil berada di luar sejarah. Sebuah yang tak terjangkau.

China dianggap tidak demokratis, ia berjalan dengan caranya namun berkembang menjadi kekuatan yang besar di abad 21. Solialisme belumlah mati hingga hari ini, paling tidak semangat Allende hadir di beberapa kehipan benua yang ganjil itu.

Share:

Monday, June 6, 2011

Candi Ijo (Matahari tenggelam di wajahmu)

Sejarah panjang di abad-9 masih bertahan dari alam dan waktu. meninggi dan menyepi di bukit Ijo. paling tinggi diantara Candi.

Menjelang sore matahari menampar wajahmu di bukit itu. terpaku dan menyepi. Tumpukan batu Andesit yang mengokohkan membentuk undakan-undakan. Batuan andesit yang berbeda-beda (tak hanya kubus, namun asimetris) itu yang mengokohkanmu...Masih tersisa hangat matahari sore, ia merabai batuan Andesit. Dinding-dinding yang melindungi Arca dan Lingga, Dewa Siwa dan Dewi Uma. Desir angin menembus jala-jala ventilasi. dingin, beku, pekat [...]


Menuju bangunan Candi perwara di teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu. (http://www.yogyes.com/)

Candi Ijo. Kesunyiannya mengandung tanya. terdapat Lingga (simbol laki-laki apakah juga ada Yoni (misteri perempuan) ? tak tahu. Bebatunya terlihat keemasan diterpa matahari sore. hangat. hijau rerumputan membawa aroma flora. desau angin sore tak habis-habis dihela, pekat dan abadi [...]


Perwara. Pendukung candi utama. ada Arca dan Prasasti : Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa, ada peristiwa yang di ramalkan mencoba mengetahui dunia yang datang kemudian, peristiwa yang dirasa manusia. entah, peristiwa apa yang dirapalkan. masih misteri sampai detik ini [...]


Arah. mendaki diatas permukaan laut berjarak 410 m. Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata tak sekedar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya (http://www.yogyes.com/)


------
Teks : Dikutip yogyes.com & Patta Hindi Azis
Lokasi : Candi Ijo Yogyakarta
Foto : Patta Hindi Azis
Share:

Thursday, June 2, 2011

Teks


Verba volen, yang terucap akan hilang. Teks adalah jembatan sejarah dulu dan kini. entitas yang mampu mengarungi samudra waktu. Teks digunakan merajut bahasa lisan dalam. olehnya itu, teks mampu menembus ruang dan waktu.

Kapan teks itu punya arti ? menurut Kris Budiman, pakar semiotika UGM. Teks akan berarti ketika dihadapkan pada pembaca. Kelahiran pembaca akan diikuti dengan kematian pengarang. Roland Bartes lah yang mengungkapkan kematian pengarang. Saya sempat bertanya di kelas itu tentang proses kematian pengarang, jawabnya singkat, tak cukup waktu karena pertanyaan itu filosfis. Kematian pengarang punya sejarah panjang.

Kris Budiman hanya menyingkatnya dengan beberapa tahap awal dari kematian pengarang itu, menurutnya kematian di dasari pada Nietszche tentang kematian tuhan, kemudian Foucault, kematian manusia dan berakhir pada Bartes kematian pengarang. Saya sebenarnya belum puas akan jawaban itu.

Saya tidak mempersoalkan kematian pengarang, yang saya persoalkan sekarang adalah teks sebagai sistem tanda memiliki struktur. Teks diartikan secara otonom dia tidak terikat oleh bentuk diluar dari dirinya, dari pengarang atau pembaca.

"Sebuah teks merupakan produk dari suatu konvensi masyarakat (interpreted community), jika tidak, maka tidak ada komunikasi. Ada sistem tanda yang sengaja dirancang, seperti sistem tanda rambu lalu lintas, fashion, dll oleh “orang” yang mempunyai kekuasaan (power)."
Kris Budiman melanjutkan lagi bahwa teks adalah...

"...Meaningfull action considered as a text
To what extent meaningfull action exhibits characteristic of text?
What is a text?

1. A text represents the fixation of meaninf in which the “said” (noema) assumes greater importance than the act of speaking.
2. The author’s intention and the meaning of the text cease to coincide; the text’s cateer escapes the finite horizon lived by the author.
3. A text surpasses the istensive references; frees the meaning of discourse from the dialogical situation.
4. A text can achieve an universal range of its addresses; a state of distanciation..."

Banyak lagi pengetahuan, saya pun tak ragu berkata bahwa realitas adalah teks...

Yogya, Kelas Semiotika (Pak Kris Budiman) 250511

Share:

Wednesday, June 1, 2011

Sayap-sayap tanpa kita*


Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Seru kai nonge, nebu ola kobe one, ie nonge, ola baje wole..a..a..a..


(IE - flores island folksong : Dwiki Darmawan feat Dira Sugandhi)

Sepotong lirik lagu tradisional flores (flores island folksong) itu mengalun indah lewat Dira Sugandhi. dengan suara khasnya diiringi piano Dwiki Darmawan mampu menyihir tamu di acara peluncuran buku Anggito Abimanyu. Saya menyesal tak bisa hadir dalam peluncuran buku itu, namun oleh-oleh compact disc kumpulan lagu Anggito, Dwiki Darmawan dan Dira Sugandhi menjadi penawar penyesalan itu.

Saya terbawa harmoni lagu IE itu, saya kemudian bertanya pada teman yang berasal dari Flores-Nusa Tenggara Timur. Saya hanya mendapatkan sedikit informasi tentang lagu tradisonal flores itu. tapi cukup membuat saya tahu bahwa IE adalah tradisi orang flores dalam memanggil burung-burung. Semacam panggilan sahabat untuk kawanan burung...

Lagu IE hadir sebagai penanda kerinduan akan sayap-sayap yang merapat, sebab burung-burung di flores menjadi langka. Saya pun teringat tulisan Alan Weisman dalam bukunya the world without us (dunia tanpa kita). Pada bagian ‘sayap-sayap tanpa kita’ Weisman secara alegoris pada kenyataan bahwa burung-burung menjelang kepunahan di belahan bumi akibat perubahan iklim dan aktifitas manusia.

“Dalam dunia tanpa manusia, apa yang akan tersisa untuk burung-burung ? apa yang akan tersisa dari burung-burung ? di antara lebih dari 10.000 spesias yang telah hidup bersama-sama dengan kita, dari kolibri dengan berat kurang dari uang logam paling murah hingga burung moa tak bersayap yang memiliki berat 270 kilogram, sekitar 130 telah menghilang.”

Menghilangnya beberapa spesies burung bukanlah tanpa sebab, konversi hutan menjadi tambang, gedung-gedung dan pembabatan liar membuat tidak ada tempat lagi yang nyaman buat sayap mereka untuk hinggap di dahan.

Walaupun burung-burung menghabiskan sebagian besar waktu di udara dengan sayap-sayap anggunnya tentu mereka butuh hinggap dan berteduh. Saya tidak tahu apakah masih ada tempat aman bagi mereka ?. Di sangkar mungkin masih bisa bahagia, tapi mereka lebih bahagia dengan habitat aslinya : alam bebas.

*Judul Asli dari bagian buku Alan Weisman, The World Without Us, (Gramedia, 2009)




Share: