Monday, May 30, 2011

Merapi hari ini

Sukarno di Museum Gunung Api Yogyakarta

Pengunjung mengamati gambar-gambar aktifitas merapi

perkakas rumah tangga yang sempat tersimpan di Museum

Merapi tidak bisa dilepaskan dari Mitos, masyarakat Yogya, ato yang bermukim di lereng merapi, merapi tempat bersemayamnya Nyai Gedung Melati. garis imajiner yang membentang dari Merapi hingga pantai selatan ditengahnya adalah pusat kehidupan (keraton Yogyakarta)

Share:

Sunday, May 29, 2011

Romansa


Eliade kecil terkejut dengan pendar cahaya menembus gorden hijau di kamar yang jarang dipakainya. Cahaya itu menembus celah-celah kaca, semburat zamrud emas, memesona, dan menggetarkan. Dengan terperanjat dan terpesona, Eliade kecil merasa dibawa dalam dunia yang trasenden dan berbeda. Pengalaman religius itu dilukiskan Eliade sebagai “nostalgia”. Nostalgia membuatnya larut dalam dunia magis.

Tentu Mircea Eliade, orang Rumania juga mistikus dan filsuf itu telah merindukan ruang kesempurnaan dari dunia yang lain. Yang mengantarnya kemudian ber-ziarah ke timur jauh-India, belajar yoga dari seorang guru spritual Surendranath Dasgupta. Disanalah dia menemukan pengalaman spritual yang tidak pernah dirasakan sebelumnya di kamar itu.

Kisah ini dilukiskan sempurna Daniel L. Pals dalam bukunya Seven Theories of Religion (1996). Buku itu tak hanya membahas kisah Eliade, tapi kisah E.B Taylor, Geertz hingga Marx tentang agama tak luput disigi. Tapi tak ayal membahasnya disini, karena bukan ruang yang cocok dalam ruang seperti ini.

Yang menarik dari kisah itu adalah Mircea Eliade yang merasakan nostalgia berjumpa dengan dunia yang baru. Ruang yang membuatnya larut dalam ekstase. Merasakan seperti ‘surga’ di dunia. Tapi benarkah dunia baru itu tempat 'nostalgia’ ?.

Agaknya kutipan Goenawan Mohammad bisa menjadi renungan,

“Kita tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti”. Tulis Goenawan Mohamad suatu ketika.
Saya terbawa oleh nuansa panjang sore itu. sebuah waktu yang tenang, bersahabat dan matahari perlahan memudar menemui malam. Waktu-waktu peralihan dari sore ke malam membuat saya selalu merasa damai. Entah, tapi itulah yang saya rasakan. Saya menyebutnya ‘romansa’. Romansa sore itu yang tak bisa saya lupakan, dan saya rasakan itu selama di Yogya.

Terkadang saya terbawa dengan masa-masa kecil ; mengaji di surau dari sore hingga isya. Berlama-lama di surau/langgar membuat saya merasa damai. Tapi entah sekarang kebiasaan-kebiasaan kecil itu memudar. Waktu yang meluruhkan kebiasaan saya sholat, mengaji dan menghafal ayat-ayat pendek.

Romansa inipun selalu hadir ketika sore. Dan saya masih beruntung dapat mengingat romansa yang religius itu. mencoba dekat lagi dalam kesucian diri ketika kecil dulu. Kekanakan dan patuh pada ajaran agama tapi tak mencoba untuk bertanya mengapa mengaji. solat dan puasa pada orang tua ?. Mendekatkan diri pada surga yang jauh. Saya tahu karena Tuhan itu maha penyayang dan pengasih.

Spritual perlahan-lahan dibangkitkan. Melalui romansa yang lewat ketika sore. Peralihan. Saya mencoba dekat dengan Tuhan, walau dalam ketidak mengertian tentang wujudNya. Sekedar meyakininya : damai dan penuh ketakjuban.

Perjalanan spritual Aliade, menyusuri timur jauh-India membuat saya tahu bahwa ‘nostalgia’ didapat melalui ziarah. Dan sore itu seakan telah ber-ziarah spritual di tempat yang jauh yang disebut Eliade waktu yang sakral.

Sore yang sakral, Jogja 290511
Share:

Monday, May 23, 2011

Mural Sang Penyair


Tulisan dalam mural dibawah jembatan stasiun Tugu itu masih segar dalam ingatan, bergambar sastrawan besar angkatan 45-an. Bertuliskan (kira-kira) seperti ini “mampus kau di makan zaman”. Saya menganggap mural itu bukan sebagai hujatan pada sang penyair besar itu, justru sebaliknya, tulisan itu bisa jadi menggugah pembacanya atau mengenang diri dan puisinya.

Saya kira, tidak sendiri menjadi penikmat dan pembaca puisinya. Puisinya yang sering dikutip-kutip itu harus mati muda, meninggal di usia 26 tahun, sama halnya Soe Hok Gie yang mati muda (kebahagiaan yang mati muda). Padahal kita tahu, dalam puisinya AKU, ia ingin hidup seribu tahun tahun lagi. Jasadnya boleh “mampus” bersama tanah, tapi semangat dan puisinya adalah abadi.

Pahlawan. Saya menyebutnya pahlawan, karena tidak semua pahlawan harus mengangkat bedil dan bambu runcing. Ia melawan dengan kata-kata. Melawan penjajah dengan kata-kata bukanlah hal mudah. Tapi Chairil lain, ia mewacana dalam bentuk kata-kata dan akhirnya membangun kesadaran untuk merdeka. Seperti puisinya : Kerawang-Bekasi,

...Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Mengenangnya menjadi isyarat. Sejarah tak bisa kita lupakan kata Soekarno. Mural itu mencoba mengingatkan dengan kata-kata menghujam. Semiotika sebagai kajian relasi tanda memberi isyarat kehadiran mural dibawah jembatan stasiun tugu itu, menandai dan menggantikan kehadiran sosok penyair besar itu. setiap tanda memiliki karakteristik, begitu juga tanda (mural) di bawah jembatan itu.

Zaman memberi suatu peralihan-peralihan pada puisi, semangat dan gambar sang penyair. Ketika sulit mendapatkan catatan hidup sang penyair lewat buku dan tanda-tanda lain, mural-lah yang menggantikan kehadirannya. Penyair besar itu, Chairil Anwar.
Derai Derai Cemara (Chairil Anwar - 1949)*

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
*(diktutip, http://chairil-anwar.blogspot.com/)

Jogja, 230511

Share:

Friday, May 20, 2011

Tubuh Sosial*


"tubuh adalah penjara/makam jiwa - Plato"
"tubuh manusia dapat dianggap sebuah mesin - Descartes"
"Tubuh adalah saya...saya adalah tubuh - Sartre"
kehadiran wacana tubuh itu menjelma di buku Antony Sinnot, Tubuh Sosial; Simbolisme, Diri dan Masyarakat. Tentu wacana tubuh tak hanya dibahas Synnott saja, teoritis feminis tak ketinggalan mengambil bagian dalam wacana ini, juga Michel Faucault dalam wacana kekuasaan yang menyinggung kekuasaaan atas tubuh.

Buku Synnott yang berlapis-lapis merentang 476 halaman itu memahamkan kita bahwa tubuh bukan hanya fenomena biologis, ia juga diciptakan masyarakat yang sangat rumit. Yang mengatakan tubuh menjadi bagian dari atribut sosial dan identitas. soal kecantikan, ketidakmenarikan, tinggi badan, berat badan menjadi simbol dalam hidup.

tubuh tak hanya sekedar seonggok daging, dia memiliki muatan-muatan simbolis dan kultural-bibir, mata, hati, dan lainnya, memberi kesan tak hanya sekedar melengkapi struktru tubuh gtapi dibalik itu bermain dalam ide dan citra-citra.

eksplorasi atas tubuh ini bergeser di segala zaman. cara manusia memberlakukan tubuh (nya) tak mempengaruhi cara berfikir dan menjalani hidup dan kematian. saya teringat lagi Film The Black Swan yang diperankan Natalie Portman, bagemana ia memperlakukan tubuhnya seperti bukan dirinya.

tubuh merupakan mozaik yang rumit kata Foucault. tubuh tak sekedar metafora, tapi juga representasi kekuasaan. fenomena tubuh sosial bukan pengaruh konsensus, melainkan perwujudan kekuasaan. kerumitan ini pun membuat tak mengerti bentuk ideal yang diinginkan tapi merasa tak cukup. serasa ada yang kurang, begitu seterusnya dan akhirnya mengarah pada eksploitasi tubuh.

Bagi pembaca buku ini, akan menemukan lapisan di tubuh yang dekat dan slalu direpresentasikan dalam ruang, baik privat maupun publik : Wajah. wajah Bagi Sinnot adalah ruang privat dan publik. seperti merias wajah. wajah disatu sisi privat tapi disisi lain menjadi publik. tak heran jika orang berlama-lama depan cermin hanya untuk merias secantik dan setampan mungkin. dengan meminjam bahasa Aristoteles dalam risalahnya Phsiognomics, wajah menjadi cerminan mental seseorang :

"wajah, jika terlihat tembem menunjukkan kemalasan, seperti anak sapi; jika kurus kering berarti menujukkan kerajinan, dan jika tulang pipinya menonjol menunjukkan kepengecutan, analogi dengan keledai dan rusa. wajah yang kecil menunjukkan jiwa yang kerdil, seperti kucing dan kera; wajah yang besar tidak bersemangat hidup, seperti keledai dan sapi. maka dari itu wajah jangan besar atau kecil: ukuran sedang yang baik." (Synnott, hal 126).

Catatan : * tubuh sosial adalah judul asli dari Buku Anthony Synnott
Share:

Tuesday, May 17, 2011

Candi yang sepi

Di atas bukit sepi, ada yang hadir dari ketinggian : Candi Ratu Boko. Tak jauh dari Prambanan, berjarak kurang lebih 3 km. Dari tempat tertinggi tersaji imaji dari situs peninggalan zaman dinasti Sailendra itu.

Saat matahari belum tepat meninggi di atas kepala, saya dan sahabat kampus tiba di Ratu Boko. Ada ketakjuban memandang alam Jawa yang mendukung berdirinya candi itu. Ratu Boko menyepi diatas bukit tersudut diantara rimbunan pohon beringin dan hijau rerumputan.

Kita harus mendaki untuk menempuhnya, mendaki mencapai gerbang dan reruntuhan batu ditempuh sekitar 1 km. Tiap teras/gerbang dipisahkan dengan dinding ato candi. Dari cerita, beragam artefak ditemukan dari peninggalan Hindu dan Budha : Durga, Lingga, Yoni dan beberapa prasasti. Namun saya tak menemukan artefak-artefak hari itu. Mungkin saja dimuseumkan. Masih ada misteri yang terkubur hingga hari ini, tapi saya tak tahu misteri apa yang menyelimuti Ratu Boko hingga hari ini. serasa tak cukup menemukannya dari museum atau buku sejarah dan tuturan orang.

Tak seperti candi lain, dengan relief dan stupa. Tak ada yang nampak bahwa candi itu menjadi tempat persembahyangan atau menampakkan sisi religius dan nuansa magis seperti Prambanan atau Borobudur. Sifatnya lebih pada tempat peristirahatan, atau benteng raja. Terbukti dengan adanya reruntuan gua laki-laki (male cave) dan gua perempuan (female cave). Nampak jua disekeliling, terhampar susunan batu menyerupai benteng, dan permandian tujuh warna bisa menjadi alasan itu. selebinya hamparan batu-batu besar dibiarkan seperti adanya, tak tersusun rapi. Pasca gempa, kondisi candi mengalami pergeseran atau runtuh.

Syahdan, seorang sahabat melukiskan candi seperti ini.

Candi bisa menjadi gambaran sebagai salah pusat (core) keruangan pada waktu silam, atau tepat lagi ke-sakral-an, namun tidak terlepas dari selera penguasa...namun selalu menempati ruang sosial yang ideal, dan sangat memperhatikan keseimbangan alam, coba lihat beberapa candi di jawa tengah yang berada seperti di puncak, pinggiran pantai...yang pasti ada sebuah keseimbangan dengan alam.
Tak kenal maka tak sayang. Ratu Boko diartikan sebagai Raja Bangau yang dihubungkan dengan legenda Loro Jonggrang (prambanan). Ratu Boko adalah ayah dari Loro Jongrang. Candi yang menyepi di bukit di Kecamatan Bokohardjo, Yogyakarta itu menjadi perpaduan antara Hindu dan Buddha. Perpaduan warna alam nan harmonis.

Masyarakat di sekitar candi telah bermukim ratusan tahun setelah candi itu ditemukan peneliti Belanda. Bentangan alam menjadi pesona dari candi itu, di bawah bukit terhampar luas sawah yang menghidupi penduduk. sedang disisi bukit, biasa dijadikan summer camp beberapa siswa lintas negara. Ada juga yang menghabiskan waktu untuk menemukan kedamaian. sejenak menyaksikan sunset di sisi candi.

Di kesepiannya, Ratu Boko menghadirkan kesunyian. Justru dalam kesunyiannyalah ia menyimpan kedamaian diatas bukit itu. Dari alur ini, seperti inikah kisah seluruhnya ? saya tak tahu pasti. karena di dalam kesunyian terkadang menyimpan banyak misteri.

Saya masih berharap menemukan cerita lama dari reruntuhan batu candi itu...

Jogja, 170511

Share:

Sunday, May 15, 2011

(ke) Pasar Kembang


Malam itu mulai dingin, singgah sebentar menyeruput teh di angkringan dekat stasiun Tugu sedikit melegakan badan. Tak selang berapa lama lepas magrib, saya dan teman kuliah menyusuri pasar kembang yang luasnya sekitar dua hektar, mungkin lebih luas sedikit dari perkiraan. Seperti pemukiman lainnya, masyarakat membaur, anak kecil berlarian bermain petak-umpet, ada pedagang kaki lima menjajakan makanan.

Tapi lansekap yang hadir itu adalah sebuah paradoks. Ada dunia lain yang hadir di pemukiman itu : pelacuran. Dikeremangan itu, gang-gang yang dijejali perempuan berpakain seksi menatap dengan harap. Ada yang mencoba menggoda, “mas tawar berapa ?”, sambil mencubit mesra dan....

Di gang kecil, dengan bedak tebal, gincu merah, pakaian u can see, perempuan-perempuan ayu itu mengerlingkan mata dengan cara menggoda. Berbaris mereka mencari pelanggan, mencari hidung belang yang haus dengan gairah. Teman sayapun mencoba menggoda, “gimana daeng, mau nggak ?” saya membalasnya “kita susuri jalan saja”...Bagi perempuan-perempuan malam itu, tak ada penghasilan juga tak ada pengharapan dalam hidup. sekali "mencicipi" tarif paling murah Rp50.000.

Kedatangan saya bukan untuk “mencicipi”. Saya hanya datang untuk melihat realitas di pasar kembang : dunia pelacuran. (maaf saya sedikit sok religius)...

Dalam temaran disepanjang lokalisasi itu, saya teringat tulisan Goenawan Mohamad, catatan pinggir-Pelacur. Goenawan melukiskan pelacur bernama Nur memecah batu di siang hari, malamnya menjajakan diri di atas gunung Bolo. Mungkin itu yang terjadi pada perempuan-perempuan ayu itu. ada pekerjaan tambahan untuk bertahan hidup.

Sebuah buku yang dikarang Than Dam Truong - Sex, Money and Morality. Melukiskan pelacuran di Thailand sebagai bagian dari industri. Pelacuran berkaitan dengan ekonomi politik. Dalam dunia pelacuran, terkait relasi kuasa dan seks. Ada baiknya menoleh sejenak sejarah seksualitas dalam karya Foucault, berbunyi paling tidak seperti ini, relasi antara kekuasaan dan seks bukan salah satu represi, jauh dari hal itu. (Entah jauh dari hal itu apa menurutnya), tapi menurut saya, Foucault berkata, itu berkaitan dengan ekonomi kesenangan (prokreasi) bukan norma-norma. Seks berkaitan dengan kebutuhan.

Jika diperhadapkan pada moral, maka yang menjadi korban adalah pelacur. Tataran normatif memang seperti itu tapi bagemana dengan nasib mereka ? bukankah mereka adalah objek dari kekuasaan ? mereka juga punya hak mendaku punya moral. Mereka punya alat produksi untuk bertahan hidup.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.
Terkadang kita membenci dosa, tapi kita menyukai orang yang suka melakukan dosa. Entah, siapa yang disebut pendosa disini : pelacur, hidung belang ataukah orang-orang yang selalu melihat sebelah mata para pelacur ?...entahlah

dari sini haruskah pelacur dikatakan nista ? saya harus hati-hati untuk memberi jawaban. Setidaknya dia punya alat produksi untuk bertahan hidup.

hujan pun mengakhiri perjalan menyusuri pasar kembang....

Jogja, 050511
Share:

Saturday, May 14, 2011

Cyber culture, dari face to face ke space to space


Mimpi Bill Gates yang menginginkan interaksi hanya dalam layar datar terjawab sudah. Ruang semakin menyempit dan datar. Interkasi face to face mulai bergeser ke ruang space to space. Sejak dipakai untuk keperluan militer (perang dan spionase) dunia teknologi informasi hingga saat ini tak berhenti berinovasi. Komersialisasi teknologi informasi dari komputer dekstop, notebook hingga komputer pintar dengan layar sentuh merengkuh kehidupan manusia. Dulu Bill Gates hanya membayangkan orang berinteraksi dalam tabung liquid. Tak selang berapa lama. Mimpi itu diwujudkannya dengan apa yang disebut internet.

Pertanyaan kemudian, apakah interaksi face to face akan beralih menjadi space to space ? jawabnya bisa ya bisa tidak. Asumsi pertama, ruang semakin menyempit dengan adanya jejaring sosial. Kicaun twitter, updetan status setiap menit sambung menyambung. Ruang offline hidup begitu rupa diruang online. Jadilah curhat, gosip dan diskursus yang biasa dilakukan di ruang offline kini bosa dilakukan diruang online. Dunia tak lagi selebar daun kelor. Sekarang malah lebih kecil lagi. Dunia yang datar. ruang bisa disempitkan dalam layar beberapa inch.

Ada beberapa peristiwa yang saya alami, ketika diruang offline (face to face) saya kaku bercakap kepada senior, dosen, mahasiswa saya, namun cair diruang online. Jika kita memakai analisis cultural studies maka hal ini bisa dikatakan representasi dari yang bukan diri (saya) sepenuhnya. Hibriditas identitas mengada di ruang maya. Di Dunia virtual, individu merasa lapang tanpa hambatan. Semisal emosi yang terwakilkan dengan simbol-simbol (walau belum tentu seseorang benar-benar tersenyum).

Asumsi kedua, ruang face to face tak akan digantikan dengan ruang virtual itu. Interaksi diruang “sebenarnya” lebih terlihat emosi. Ruang virtual hanyalah tool (alat) untuk berinteraksi. Ada ruang-ruang yang tidak bisa digantikan ruang cyber semisal emosi, hasrat dan sentuhan fisik. Bolehlah orang menggunakan simbol namun tetap tak bisa menggantikan ruang yang tanpa mediasi.

Ruang virtual (cyber culture) adalah media baru, orang bisa saja tidak serius tapi tidak untuk diremehkan perannnya.

Share:

Friday, May 13, 2011

Kemana Ibu Budi ?

" ini ibu budi, ini bapak budi...ayah pergi ke kantor, ibu pergi ke pasar."
Setiap melihat anak sekolah dasar dengan seragam putih merah. Setiap itu juga saya dibawa dalam arus waktu yang lalu dengan buku teks dan ibu guru saya. Caranya mengeja, membaca - ibu guru selalu mendiktekan distingsi peran ibu dan ayah dalam keluarga harmonis Budi. Yang di ceritakan dalam keluara Budi adalah peran seorang perempuan (ibu) yang dikonstruksi dalam ruang domestik, dapur, sumur dan kasur. Sedang ruang laki-laki (ayah) di publik-membaca koran, atau ke kantor.

Itu adalah waktu yang silam, waktu yang lalu, dimana wacana itu lahir saat sekolah dasar dulu. Sekarang wacana itu tak pernah ada lagi, ingin sebenarnya bertanya pada anak berseragam putih merah itu, sekedar bertanya apakah Budi masi mewacana di papan tulis atau di buku teks ?. Tentang Ibu Budi yang ke pasar itu ?. Tapi entah mengapa, setiap mencoba bertanya setiap itu pula pertanyaan itu tertahan. Mungkin jika bertanya, tak ada lagi Ibu budi itu. Perempuan itu. Terhapus dalam ingatan. Karena kita slalu mudah untuk melupa.

Tentang waktu dan Ibu atau perempuan itu, teringat kata Sukarno dengan Sarinah-nya. Dengarlah dia berkata

"...sesudah saya berpindah kediaman dari Jakarta ke Yogyakarta, maka di Yogya itu tiap-tiap dua pekan sekali mengadakan “kursus wanita”...dalam kursus-kursus itu ada pokoknya,-akan mengerti apa sebab saya anggap soal wanita itu soal yang amat penting. Soal wanita adalah soal masyarakat.”
Jika perempuan atau wanita dan atau yang selalu disebut-sebut the second sex menurut Simone de Beauvoir. Perempuan dilupakan dalam panggung gemerlap kaum laki-laki.

Dari kisah ini perempuan dilahirkan sebagai entitas yang hidup melalui tulisan tangan Sukarno, Sarinah ditahun 1947-an itu. Saya kagum betapa Sukarno yang sibuk mengurus bangsa namun tak luput menghargai perempuan dan menuliskan perjuangan perempuan dalam sebuah buku.

Betapa perjuangan perempuan tak bisa dimatikan begitu saja dengan kata “ibu pergi ke pasar” tiap hari seperti itu. Soal-soal perempuan hampir selalu dilupakan dalam ingatan, peran, kesabaran dan pengorbanan.

Saya harus belajar menghargai perempuan, ibu, wanita dan the second sex itu. Karena perempuan adalah sebutir mutiara kata Sukarno...


kemana Ibu Budi ????

Jogja, 130511
Share:

Monday, May 9, 2011

Bapak dan ibu

Kita bisa saja tidak bersepakat dengan Kleden yang menyebutkan, lelaki tanpa anak tidak akan disebut sebagai bapak, demikian juga perempuan, tidak akan disebut ibu jika tak memiliki anak. Seperti misalnya, bapakny si anu, si fulan. Ibunya si anu, si fulan yang menyebutkan ada anak diantara penyebutan itu. Eksistensi si anak hadir menyerta dengan kata “bapaknya”atau "ibunya".

Penyebutan bapak dan ibu dalam keluarga lahir ketika status dan peran melekat dalam perkawinan. Bisa juga karena keterbatasan bahasa, semisal, ketika seseorang dipanggil “bapak” tapi belum menikah. Bisa dikata bahwa penghormatan dan menghaluskan ucapan.

Musti bersiap-siap menjadi bapak, ibu bahkan disebut om...ehehehe


Share:

Friday, May 6, 2011

Kiriman Pelangi

Di ujung horizon, lintas warna-warni melengkung membentuk setengah lingkar. saya membayangkan larut dalam sketsa goresan tangan dari sahabat saya itu. sederhana tapi penuh makna.

saya membayangkan konsep awal pembuatan sketsa buatan tangannya. dimulai dari ide, kemudian diabtraksikan dan diakhirinya menjadi sketsa. atau dikonkritkan dahulu tanpa ada ide memilih konsep pelangi ? tak mungkin, sesuatu harus dimulai dari ide. dan saya anggap begitu saja. ia memilih ide pelangi pelangi terlebih dahulu.

saya akan melukiskan konsep awal dari sketsa itu perlahan-lahan.

ia merajut dengan tangan sendiri, memilih dasar biru memanjang seperti laut biru tanpa tepi. entah apa ia memilih warna biru ? (biru kadang diasosiasikan dengan kedamaian.), tapi pemilihan warna yang ia gunakan penuh dengan hati. mengapa ? karena pelangi akan terlihat cantik jika dilatari dengan langit biru. dan ia telah menyemai, menyulam dan merajut warna kedamaian itu. ia mungkin berfikir karena pelangi itu indah akibat perpaduan warna, merah, kuning, hijau, dan jingga. keragaman warnalah membuat pelangi itu memukau.

setelah hujan akan muncul pelangi, kata yang tak bisa saya lupakan dalam buku Marpaung, Setengah isi setengah kosong. dibalik kesusahan setelahnya menyimpan kebahagiaan. mungkinkah ia menghibur atau mencoba memberi tawa, dan atau memberikan bahu untuk bersandar sejenak dari lelah ?

sketsa itu dibuat dengan hati (hati). mencoba meyakinkan diri bahwa tidak ada celah sama skali. sesempurna mungkin. paling tidak dari sudut estetika bisa bilang cantik. dari sketsa itu, dibuatnya tali pengikat tempat menggantung. mungkin ia berifikir bahwa kemanapun saya pergi bawalah sketsa itu sebagai gantungan.

sketsa itu belum habis untuk ditafsir, karena sudut pandang semiotika memberi saya ruang untuk menafsirkan sketsa buatan tangannya itu. saya tak bertanya lagi pada dirinya tentang ide pelangi. suatu saat saya akan menafsirkannya. walaupun tafsiran akan memiliki makna lain. tapi cukuplah kiriman pelangi itu jadi tanda-tanda...

Share:

Thursday, May 5, 2011

Kuliner dan Identitas

Francis Fukuyama pernah berkata dalam bukunya The Great Distruption, De gustibus non est dispuntandem-tidak ada perhitungan untuk selera. begitu juga dengan makanan. Beragam jenis menggoda selera. tak habis-habis panganan untuk di rasa. begitu banyak pilihan.

saya tentu tak melupakan kuliner asal saya lahir, Makassar, kulinernya tak kalah enak menggoyang lidah. juga makanan tempat tinggal saya di Kendari tak habis untuk di eja dengan kata-kata selain "maknyussss"...

kuliner tak harus mahal, yang penting soal rasa. sedikit berbeda dengan fukuyama yang mencontohkan makanan China, Meksiko, Itali, Amerika dan makanan oriental lainnya. soal selera tak mengenal kata mahal dan ini yang hadir di kuliner nusantara, seperti di jogja tak mengenal kata mahal (murah) dan menggoda selera.

soal selera atau pun rasa tak bisa direduksi untuk selera banyak orang begitu saja. karena rasa tergantung lidah inidividu. ada juga yang tak bisa merasakan manis, ada yang tak suka pedas, dan asin-tak mungkin di reduksi begitu saja...

Kuliner adalah identitas, tak bisa direduksi yang lain. kuliner adalah media beromantisme asal kita dan mengenang masa-masa asal. betapa banyak orang modern merindukan jajanan kampung, ibaratnya mencari identitas, asal usul diri lewat kuliner. saya merasakan itu, ketika di Jogja, saya tak jemu-jemu mencari coto, pisang ijo, pallu basa, dan kuliner lainnya. makanan itu membuat saya bernostalgia dengan asal usul saya.

makanan adalah identitas kita....


Share:

Tuesday, May 3, 2011

Pacaran

Sesaat sebelum masuk kelas, saya di tawan oleh sebuah pertanyaan dari teman, "kok kamu gak nyari pacar di Jogja mas" ? saya hanya senyum saja. dan membalasnya dengan datar “belum nemu mba”. Jawabanku singkat tapi tak jelas.

Sebenarnya jika mau memberi penjelasan, bisa saja, bahwa saya sudah punya tambatan hati di kampung ato mengutip dari note Robby Muhammad-pacaran itu tak rasional. Berusaha memperlihatkan sesuatu yang bukan diri kita. kadang membohongi diri kita, dan pasangan kita. dan akhirnya bertingkah seolah-olah sempurna (padahal palsu). Paradoks pacaran katanya dalam pandangan Robby Muhamad. Namun itu tidak penting buat saya menjelaskan se-detil itu dan bisa saja teman itu menyela lagi dengan nada sinis akhirnya debat kusir. Seperti membuang energi hanya untuk menjelaskan yang remeh-temeh itu. Hufft...

Tapi jika di Jogja dan kota besar di Jawa tak mendapatkan pacar alangkah ruginya jadi mahasiswa bujangan. Apalagi perempuan “ayu” bertebaran di sekitar kampus. Beberapa teman dengan mudahnya gonta-ganti pacar, dengan mudahnya menggandeng perempuan. Dalam hati (nafsu) saya, sebenarnya ingin tapi raga dan nalar tak mampu menjembatani. Akhirnya saya pun hidup dalam kebimbangan antara mencari pacar di Jogja ato sabar sebelum akhirnya ketemu. Karena jodoh buat saya adalah sebuah pertemuan. Entah disengaja ato tidak.

Saya pun membaca kembali tulisan Robby Muhammad di blognya yang menyitir “paradoks pacaran”. Menurutnya, Pacaran bisa menjadi kutukan...Semakin banyak bekas pacar, semakin banyak kemungkinan membanding-bandingkan. Jika akhirnya menikah, bagaimana membicarakan bekas pacar dengan pasangan? Padahal bekas pacar itu punya andil membentuk diri seseorang sekarang setelah menikah. Menyakiti dan disakiti tak bisa hilang begitu saja karena itu bagian dari pengalaman pribadi. Bekas pacar adalah termasuk pengalaman penting, tapi terpaksa ditekan dari memori. Semakin banyak bekas pacar, semakin banyak yang harus ditekan... Tuturnya.

Saya mengamini saja, walau tak menelan mentah-mentah, karena butuh rasionalisasi. Itu penting buat saya yang terombang-ambing antara pacaran ato tidak di seberang pulau (Jogja). Saya pun mengambil argumentasi tanpa pacaran pun orang bisa langgeng, dan contoh kasus dari orang tua saya yang memiliki anak 8 padahal tak mengenal kata pacaran. Itu dulu...konteks sekarang apakah sama ?...

Namun antitesis lahir dari anak muda sebaya saya (merasa muda) bahwa, dengan pacaran kita bisa mengenal lebih dalam sebelum menikah, apakah ini benar atau pembenaran ? pertanyaan ini berlaku juga bagi saya yang selalu menolak perjodohan padahal perempuan yang di jodohkan itu tak kalah “ayu” dengan perempuan di Jogja. Jawaban sederhana yang kembali saya kutip dari Mas Robby, orang-orang dulu tidak banyak referensi tentang pasangan, sehingga sedikit kemungkinan untuk membanding-bandingkan. Good point menurut saya.

Entah apa yang ada dibenak sahabat saya yang gonta-ganti pacar, adakah ia mau mengenal tipikal pasangan, ataukah ingin membanding-bandingkan pasangannya ? (padahal orang tidak suka dibanding-bandingkan, karena orang punya ke-unik-an masing-masing). Entahlah.

Pelajaran menarik dari pertanyaan teman, sekaligus menelusuri note Robby Muhammad yang juga ilmuan muda itu jangan terlalu banyak pacar dan melakukan perbandingan. Ibarat menyusuri hutan, semakin banyak kita mencari semakin tak menemukan apa yang kita cari. Karena hutan belantara yang sifatnya penuh misteri. Semakin tidak menemukan apa yang kita cari.
Share:

Mr. Judge dan Ms. Prejudice


Akhir ini saya mengalami hari-hari yang sulit. saya dianggap Mr. Judge oleh yang saya anggap orang itu 'asing'. perkataan saya dianggap sebagai penghakiman akhirnya disebut Mr.Judge, padahal teks sangatlah mungkin terbatas dalam memahami, apalagi dengan sepenggal saja. teks juga memiliki kekurangan.

saya pun tak membiarkan diri dianggap seperti itu, pe-label-an adalah sesuatu yang saya hindari, Mr. Judge adalah term yang disematkan kediri saya itu. dan itu sangat negatif buat saya. asumsi sederhananya, pelabelan adalah memberi 'cap' kepada seseorang dan bisa menjadi citra diri. dan lucunya, si Ms.Prejudice, si-prasangka (sebuah kata yang tepat disematkan untuk perempuan) itu. dengan melihat saya dengan cara pandang sinis dan 'kacamata kuda'. Yang hanya melihat cara saya menyampaikan lewat tulisan ato sms-an. oh tuhan, memandang hidup terlalu sederhana akhirnya bawaannya hanya prasangka, dan prasangka adalah naifitas adalah banal buat saya.

Perempuan itu mungkin mengiginkan semua seperti maunya, dalam realitas yang ia bangun sesuai konstruksi pikirannya. dan ketika bertemu dengan saya yang mengambil jalan lain kontra, melawan arus yang ia mau. maka saya pun disebutnya Mr.Judge. ia berpikir saya terlalu mencampuri urusan pribadi dan menelisik terlalu dalam kehidupan pribadi, padahal ia tak tau, saya (mencoba) membongkar 'kesadaran mitis' dirinya. dan usaha saya anggap itu berhasil. saya membayangkan betapa dia larut dalam kesadaran, tapi hanya kesadaran palsu. saya tendensius ? mungkin saja. tapi itu bukan arti diri saya yang sebenarnya.

teks, dan lisan tak melihatkan kepribadian diri, tergantung dari siapa yang dihadapi, karena seseorang bisa saja menggunakan konsep dramaturgi, pentas depan dan pentas belakang. hidup adalah sandiwara.

saya anggap Ms. Prejudice itu menggunakan tangan besi, tak mau ada interupsi. dia hanya memandang saya satu sisi, one dimensionally jika bisa memakai istilah Herbert Marcuse, padahal manusia dan juga saya adalah manusia yang multi makna. kita adalah manusia paradoks yang tidak punya satu sisi, tapi bersisi banyak. banalitas kadang terjadi jika sepintas mengenal orang. tapi itu bukan kesalahan, saya hanya menganggap angin lalu dan itu bisa menjadi pelajaran saya juga.

Damai hati...

*Gambar : Google.com
Share: