Saturday, April 23, 2011

Penyair dan Sajadah


Ramadhan di awal bulain ini menyapamu cepat
kopiah baru saja dirapikan
saat kau baru terjaga dari tidur malam
terbuai menatap sajadah menjulur di ranum wajahmu, bersahaja, penuh takzim.
terkadang kau istirah
sejenak melemaskan ototmu yang kaku
dari larut duniawi. kau
memaksa meringkuk lama menukik dan khusyu
seakan-akan jazadmu membatu.

Rasanya kau lebih menyukai sajak dan sajadah. kau
berlinang air dari ceruk matamu yang nanar
sampai bulir keringat mengkristal membasahi lantai surau. kau
mengajak aku larut menyentuh taman firdaus, sebelum rohku menyentuhnya disana. bermain-main di telaga
bersama bidadari-bidadari pagi
membasuh kotoran-kotoran debu pekat duniawi
dan kau,
melantunkan wirid dan puisi suciNya
hantu-hantu tak lagi punya daya
memikat hatimu tuk berpaling dari sajak dan sajadahmu
begitu pula aku
Share:

Katak dan dunia baru


Tidak sama dengan katak yang barus menyelam beberapa jengkal kolam kemudian mengatakan kolamnya sangat dalam. padahal masih ada samudra yang lebih dalam. Keterbatasan indra dalam menyerap dan menerima pengetahuan baru menjadi alasan si katak itu pongah. Ia tidak tahu bahwa ada dunia besar yang tak pernah ia liat sebelumnya. Keterpenjaraan dari lingkungan sekitarnya lupa akan dunia yang sama sekali baru baginya. Ia terjebak dalam labirin pengetahuan. Dangkal tak punya makna.

Dunia itu tak datar dan selebar daun kelor, tapi jika katak itu menyusurinya, tak terbilang misteri yang ia dapat. Matanya tak terbuka lebar, sehingga ia masih terpenjara, “katak dalam tempurung”.

Katak itu harus membuka dunia. Cara pandangnya musti luas untuk bisa membuat kesadarannya menjadi nyata. Tak terjebak dalam kesadaran palsu. Tak semua katak yang berfikir selalu dalam tempurung. Ada juga katak yang mencari dunia baru, yang sama sekali baru buatnya. Ia tak mau merasa mapan, merasa di zona nyaman yang akhirnya menina-bobokkannya.

Saya harus belajar dari peristiwa ini...

Share:

Friday, April 22, 2011

Angsa yang kesepian


Dari jauh ia bermain. Sesekali memintas air setelah kepalanya menyelam beberapa detik. Tak lama. Hewan itu tak nampak bergairah. Mungkin ia ditinggal sendiri atau memang mau sendiri ? tak tahu. Bahasa tubuhnya menandakan ia mau menyepi. Bermain-main dalam kolam yang dangkal itu. sejenak membuatnya merasa bebas.

Ia mengayuh kaki-kakinya yang lunglai, dan bermain dan melintas diantara sisi kolam itu. Saya memperhatikan perlahan gerak-gerik angsa kesepian itu. Saya pun membayangkan film yang diperankan Natalie Portman, The Black Swan. Sungguh, dalam film itu menegasikan sebuah pertarungan batin untuk merasa bebas. Rapuh. Sulit memang tapi akhirnya ia merasa sempurna.

Saya pun menganggap angsa kesepian itu seperti film Black Swan, walau dalam wadah yang berbeda, bermain-main dengan imaji yang abstrak. Angsa yang sepi ini agak lain, dia asyik bermain dalam kolam yang dangkal, berkeliling dengan gerak melingkar (mungkin mencoba mengukur luas dari kolam itu). Betapa luasnya dan betapa sendirinya dia dalam kolam itu. Ia sepi, tapi dalam kesepian ia menemukan kebebasan.

Dari kisah yang lain, ketika angsa terbang membentuk huruf “V”. Saya membayangkan ketika ia dan sekawan angsa membentuk formasi. Tapi, hari itu memang tak nampak sekawanan angsa yang lain untuk mengajaknya terbang melintas. Ia mungkin tak berniat untuk terbang karena retak kepak sayapnya tak mampu lagi melawan gravitasi. Sekali mencoba bermanuver, saat itu juga jatuh dalam ketakberdayaan. Menukik kebawah. Akhirnya ia sadar diri, sayap-sayapnya tak mampu melintas alam dan dunia yang baru. Ia hanya menikmati sepi dalam kolam dangkal itu. Ia ingin sesaat menyendiri di kolam itu. Tapi sampai kapan ?. mungkin Arwana bisa memberi jawaban,

Arwana, Angsa putih,

Melangkah jauh kembara hati
Sepiku rasakan sendiri
Dipadang tandus tak kunjung henti
Kerontang jiwaku merintih

Telaga bening dan angsa putih
Sendiri disitu bermain
Izinkan aku ada disitu

Beriring denganmu bermain denganmu
Bersatu denganmu angsa putihku
Janganlah jauh, kubawa kamu, kujaga kamu
Bening ditelaga

Reff :

Damai biarlah bersamamu
Biarlah bersamaku abadi oh.. oh.. oh..
Aku ingin slalu disitu ingin slalu denganmu
Bersama manis angsa putihku

Wow... uh.. wow.. uh.. wow..
Damai biarlah bersamamu
Biarlah bersamaku abadi oh.. oh.. oh..
Aku ingin slalu disitu ingin slalu denganmu
Bersama...
Janganlah jauh angsa putihku
Kubawa kamu kujaga kamu

Jogja, 220411

Share:

Thursday, April 21, 2011

Maaf

Mungkin karena maaf tak mengenal kata cukup, tak juga mengenal kata berhenti. maka maaf selalu menghiasi hari-hari manusia. Sejak dalam doa yang takzim terdapat selipan kata “maaf” ditambah embel “mohon”. Setiap orang salah selalu berkata “maaf” atau “maafkan saya”. Halnya runtinitas religius, maka maaf tak pernah habis tuk di hela. tak ada kata lagi selain kata itu. Maaf memiliki keterbatasan, Inilah mungkin keterbatasan sebuah kata (bahasa). Sehingga maaf tak bisa tergantikan lagi. Tak ada kata yang lain mengungkapkan rasa bersalah (guilty).

Manusia tak mampu menampung semua kebaikan dalam satu tubuh. Karena itu mustahil. Tak ayal berharap semua kebaikan di daku pada manusia yang daif seperti saya dan manusia lainnya. Jadi “maaf” dan “salah” adalah term yang saling menggantikan dalam diri manusia. Menarik membaca budayawan Radhar Panca Dahana tentang Saya Mohon Ampun. Ia membuka kesadaran pada manusia yang lemah ini bahwa mohon ampun adalah bahasa paling rendah yang biasa dipakai oleh hamba sahaya. Dia ada benarnya, bahwa kata “mohon” adalah kasta paling rendah dalam bahasa ungkapan bersalah dan meminta ampunan, seperti seorang hamba meminta maaf pada raja. Tak lepas dari kata itu “saya memohon ampun”. Saya pun memakai term dan embel-embel itu untuk mengungkapkan rasa bersalah pada setiap yang pernah saling menyakiti hati.

Ada yang bilang meminta maaf lebih gampang daripada memberi maaf. Tapi saya punya bahasa lain, meminta dan memberi tak semudah itu. Gampang-gampang susah. Ajahn Brahmavanso yang Bikhu juga pengarang dari Cerita Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya membunyikan bahwa ego adalah salah satu masalah dari cinta dan welas asih. Ego adalah musuh terbesar manusia untuk meminta dan memberi maaf. Hanya hati yang seluas samudera yang bisa melakukannya. Susah tapi tidak sesulit melakukannya.

Nietsche nampaknya penting untuk dikutip disini. :

...Jika ada sahabat yang menyalahimu, maka katakanlah : “ aku memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada diriku, tapi bagaimana mungkin aku bisa memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada diri kamu sendiri...???!!!”. demikianlah, semua cinta besar berkata ; sebab ia melampaui maaf dan belas kasihan...(Nietzsche – Sabda Zarathustra).

Penting berdamai dengan orang lain (meminta maaf) tapi juga penting berdamai dengan diri sendiri. Saya hanya manusia lemah yang tak mampu berdamai dengan diri saya sendiri, yang mudah merasa, cepat emosi dan marah yang meledak-ledak. Saya mencoba berdamai dan meminta dan berkata “mohon maaf pada diri saya dan dirimu” katakan, saya memaafkanmu sebelum kau meminta maaf. Jika ada kata lebih dari maaf, tentu sudah saya lakukan jauh-jauh hari.

Guilty, 21 April 2011


Share:

Friday, April 15, 2011

Menuju Masyarakat Konsumsi

Dalam ekonomi kapitalistik, produksi selalu selalu mencari konsumen sebagai pasar. (kompas, akal sehat dalam dunia konsumsi, Jumat/15/04/2011). Celakanya, masyarakat Indonesia yang sebagian besar keranjingan belanja (shopaholic) menjadi pasar empuk dari produk-produk global. Kondisi ini mengingatkan kita pada pemikir ekonomi klasik, fase dimana masyarakat berada dalam masyarakat konsumsi tinggi.

Kondisi ini perlahan-lahan bergerak dari logika produksi ke logika konsumsi. Baudrillard( 2009) tentang masyarakat konsumsi menjelaskan bahwa pengetahuan dasar tentang kebutuhan berhubungan erat dengan pengetahuan dasar tentang kemapanan dalam mistik persamaan. Tesisnya menandakan semua sama dalam nilai tanda. Tidak yang miskin maupun orang kaya. Seperti halnya barang-barang yang di pajang di mal dengan merek terkenal, semua orang bisa membeli-tak mengenal miskin maupun kaya (sulit membedakan orang2 yang ke mal-tak mengenal lagi latar belakang sosial ekonomi).

Mengkonsumsi “kehampaan” dalam kehidupan

Tesis dari prefesor George Ritzer dengan karya akademik The Globalitation of Nothing, yang telah diterjemahkan-Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi juga menarik dicertmati. Profesor Ritzer memberikan deskripsi yang provokatif, mengkonsumsi kehampaan di era globalisasi atau globalisasi ketiadaan, bahwa gerak masyarakat pada zaman ini menuju pada pada kehampaan. Dalam Defenisi kehampaan menurut Ritzer :


“...menunjuk pada sebuah bentuk sosial; yang umumnya disusun, di kontrol secara terpusat, dan termasuk tanpa isi substantif yang berbeda. Defenisi ini membawa serta didalamnnya tidak ada keputusan tentang yang diinginkan atau tidak diinginkan dari bentuk sosial seperti itu atau tentang kelaziman yang makin meningkat...” (Ritzer, 2006 : hal. 3)

Menarik lagi defenisi yang pernah diekemukakan para filsuf pendahulu, Martin Heiddegger, Jean Paul Sartre, yang sudah lama memberikan pemahaman tentang kehampaan (mewakii tempat-bukan tempat, benda-bukan benda dan seterusnya). Tesis Ritzer memberi gambaran bagaimana kehampaan dalam produksi dan konsumsi dalam masyarakat konsumer menjadi tak memiliki makna. Konsumsi yang berlebihan yang berujung pada prlilaku konsumtif.

Share:

Thursday, April 14, 2011

Tao (dalam) Islam

Tao sebagai konsep confusian dihubungkan dalam konsep Islam sebagai ajaran etika hidup dan juga ajaran Ke-Tuhan-an. Konsep tao yang lahir (551 SM – 479 SM) masuk kedalam Islam yang diintrodusir pemikir Jepang Sachiko Murata, the tao of islam (2004). Dalam karyanya yang masyur itu memberikan konsep sifat ke-tuhan-an yang diambil dari asmaul husna, sifat-sifat tuhan. Murata membagi makna kesatuan tuhan dalam dualitas sifatNya. tuhan maskulin, dan tuhan feminin, tuhan maskulin dilambangkan dengan ke-agung-an (jalal), dan feminin dilambangkan ke-indah-an (jamal).
Share:

Wednesday, April 13, 2011

Anonim

Desau angin menamparnya

Dari tempat tertinggi mengalir kedasar, melepas aura hijau daun dari hutan-hutan menuju lautan.

Ia mencoba hadir

Namun,

Rasa sepi tak memberinya ruang bernafas.

Lalu ia menuju padang rerumputan

aku harus bertanya pada rerumputan ” . ia mencoba berinteraksi pada benda yang tampak gagu itu.

*

Hendak kemana ia ?

Jika rasa sunyi adalah penjara.

Alam pun menepi,

mungkin sudah waktunya berpisah pada tawa yang membuatku bahagia

**

Sebenarnya ia hibrid : tak memiliki asal pasti

Campuran darah dan daging yang membuatnya : liyanother, orang sunyi, diluar, terpinggirkan dan tak dicintai.

Namun ia merdeka

Share:

Monday, April 11, 2011

Sekeranjang Bahagia


Pulang membawa sekeranjang bahagia. Menjemputnya di depan pintu dengan senyum simpul. Kebahagiaan adalah esensi manusia rasional. Tapi kebahagiaan yang hendak kita cari apa ? itulah yang ingin saya katakan, meminjam bahasa dalam film The Pursuit of Happiness (2006), “...that maybe happiness is something that we can only pursue and we can actually never have it no matter what...”, kebahagiaan adalah berlari, bagaimanapun caranya. Tak heran jika mengejar kebahagiaan dengan menyebut “episode”, Crish Gardner (Will Smith) selalu menyebut itu. “Naik bus”, “Berlari” dan sampai pada titik akhir “Bahagia”.

Kebahagiaan adalah episode kehidupan, proses perjuangan tanpa mengenal kata “lelah”. Mengejar bukanlah arti berlari yang sesugguhnya, mengejar adalah usaha mencapai “bahagia”. Kebahagiaan adalah absurditas yang kita coba daku, semakin mengejar arti bahagia itu maka semakin menjauh (Kebahagiaan hakiki yang dimaksud). Entahlah, karena letak kebahagiaan itu di hati bagiku. Orang makan dengan apa yang tersedia di hadapannya bisa juga di kata bahagia.
Demikian juga dengan orang bahagia ketika apa yang dia inginkan dapat di beli. Kebahagiaan tak mengenal kata banyak, namun memiliki arti cukup, tidak lebih tidak pula kurang.

Konon, orang Denmark adalah orang-orang yang paling bahagia di dunia, resepnya hanya satu, merasa bahagia apa yang ia miliki. Tentu tak mudah melakukan itu. Tapi itulah konstruksi bahagia orang Denmark. Semua orang terlihat bahagia. Lain lagi dengan orang Jogja (jawa), merasa bahagia dengan berkumpul, mangan ora’ mangan sing penting ngumpul. makan tidak makan yang penting kumpul.

Banyak defenisi, ungkapan dan cara merayakan kebahagiaan. Jika harus memilih, saya memilih kebahagiaan dengan menghargai hidup. Karena kebahagiaan adalah di beri kesempatan hidup. Bagemana dengan anda ?
Share:

Thursday, April 7, 2011

Surat Bergambar Hello Kitty


Hello Kitty, surat itu bergambar kucing kecil, berpita merah itu akan melewati lautan dan daratan untuk menyampaikan pesan. Padahal dunia sangatlah datar sekarang, ketika teknologi memudahkan untuk berkirim kabar. Aku mengirimnkan dari tempat yang jauh meski kita telah saling melupa. Paling tidak tak sempat mengingat lagi sekarang. Hati beku sebeku malam. Tapi percayalah, surat ini pertanda sebagai tanda-tanda kerinduan lewat yang tergambar Hello Kitty, hewan kesayanganmu. Kucing jepang itu. Surat ini sebagai ucapan kabar yang lapang tentang warna kehidupan. Paling tidak membaca sebuah teks dalam ruang persegi bernama surat ini. Harus kau ingat Nayla, tulisanku tak secantik dan sebagus tulisan seperti saat menulis indah di sekolah dulu. Kau harus membaca tiap huruf, titik, koma dan tanda sambung dengan hati (hati).

Saat surat ini ada di tanganmu, lepaskan semua memori dan emosi negatif yang hinggap dalam pikiranmu. Karna kau tak akan menangkap makna jika kau punya pretensi. Anggaplah ini surat yang tak kau kenal sebelumnya, inilah surat pertama, dan akan berlanjut menjadi kepingan-kepingan catatan yang kelak kau simpan menjadi arsip di kotak kayu yang kubuatkan dulu.


Dear,

Nayla Nafeesah...

Awal dari surat ini aku mengutipkan sebaitsajak yang hadir dalam pikiranku saat menulis surat ini. Saat ini musim hujan, sebentar lagi memasuki musim kemarau, itu bertanda bahwa akan ada pesta musim panen. Tapi aku tak larut dalam pesta itu. Sungguh, melewatkan pesta itu adalah kerugian tapi aku tak bisa lepas menulis pesan ini untukmu. Ini lebih penting Nayla. Aku ingin curhat dalam surat ini, ditanganmu kutitipkan pesan dunia menjadi ironis. Aku baru saja membaca buku Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional. Aku sampai pada sebuah kesimpulan bahwa :

Pada Manusia rasional selalu berusaha untuk menyingkirkan kekuatan di luar diri manusia, dan menganggap sesuatu di luar manusia sebagai takhayul. Antropoentris cara pikirnya, tuhan hanya sebagai konsepsi kita saja, Manusia modern adalah manusia yang takut akan transenden, segala sesuatu dianggap imanen (dalam dirinya). aku menyebutnya paradoks hidup manusia modern. disisi lain dia bisa menjadi manusia periang disaat keramaian, tapi disisi lain, dia juga merasa sepi di keramaian (lonely on the crowed).

Saat aku menulis surat ini sore baru saja menyapa, di luar sana, cuaca mencapai titik didih tiga puluh derajat, panas sepanas api. Langit cerah. Pohon-pohon meranggas tanda mengurangi penguapan. Helai demi helai daun-daun berjatuhan, seremoni lahir di sore itu saat surat kutulis tangan sambil memandang dedaunan itu. Ranting-ranting pohon sepi di tinggal daun-daun. Terseret angin yang membawanya pergi. Dan pada saat-saat moment perpisahan yang menjelang sore menjelang matahari beringsut itu aku menulis surat sambil membayangkan aku hadir dihadapanmu becerita panjang lebar dengan membawa permen lolly-pop kesukaanmu, Aku harap bertemu pada musim-musim seperti ini. Sederhana dan bijaksana.

surat menjadi jembatan kerinduan itu. Sehelai kertas bergambar hello kitty ini telah melanglang jauh, melewati waktu dan daratan. Beribu kilometer telah ditempuh hanya untun menyampaikan kerindun dalam bentuk teks. Curhat tentang hidup, perasaan yang beku, kesedihan skaligus kebahagiaan. Mungkin akhirnya absurd. Tapi sedari awal aku mengharap tak ada iterupsi apalagi menegeluh. Surat ini akan berlanjut di hari-hari berikutnya Nayla. Sebelum aku lupa aku memberimu tugas, dan kuharap kau membalas suratku. Nayla, apa artinya berada (mu) ?... aku menunggu jawabanmu segera....


Sore Menyapa di Jogja, 070411



salam
Share:

Hidup di Zaman Kekerasan


Masyarakat kita sekarang hidup di zaman kekerasan. memandang realitas, kekerasan menggejala dimana-mana, menguras energi yang mewujud pada kekerasan fisik, juga psikologis. Saban hari di media (cetak dan elektronik) kini banyak bermuatan berita kekerasan. Di keluarga terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan antar pendukung pilkada, kekerasan antar mahasiswa, kekerasan antar suporter bola, kekerasan antar keyakinan, kekerasan antar kampung sampai kekerasan yang melibatkan negara.

Gandhi mengingatkan kekerasan adalah tanda akhir dari peradaban manusia. Namun anehnya sebagian kita suka dengan kekerasan. Kekerasan sering terjadi namun sedikit nada untuk membuka ruang diskursus (jika boleh di kata tidak ada) yang hadir di warung kopi, sekolah, hingga kampus. Padahal kekerasan menjadi arena yang selalu hadir disetiap ruang.

Kekerasan walaupun hidup dengan manusia namun untuk mengartikan kekerasan meninggalkan banyak pertanyaan sehingga menjawabnya pun sulit. term ini tumbuh dan berkembang di masyarakat baik desa maupun kota, baik berskala kecil maupun besar. Tak dapat terhitung lagi berapa kerugian materi dan non-materi akibat kekerasan. Memori kolektif belum hilang ketika kekerasan terjadi di kampus, sebagai misal. Kerugian tak bisa dibilang sedikit.

Untuk hal ini kekerasan lahir ketika show of force (penunjukkan kekuatan). Kekerasan selalu menunjukkan kekuatan (massa, senjata). Adalah Hannah Arendt yang memasuki arena kekerasan sebagai subjek utama. Filsuf Amerika kelahiran Jerman ini memberi pemahaman bahwa kekerasan itu tidak pernah bisa legitim namun kadang dibenarkan, kekerasan yang dibenarkan jika, pertama, kekerasan sebagai respon ketidakadilan, kedua, kekerasan dibenarkan jika memungkinkan membuka ruang politik.

Kekerasan terjadi menurutnya karena manusia kehilangan rasionalitasnya (irrasional). Sederhanya, manusia melakukan kekerasan jika kehilangan cara berfikir jernih yang mengakibatkan manusia kehilanghan kendali dan akhirnya emosional. Beragam bentuk kekerasan dalam masyarakat, mulai teror, konflik komunal, diskriminasi, bahkan kekerasan penguasan (pemerintah) pada rakyatnya. Walau kekerasan abad ini tidak lebih besar dari zaman penjajahan di Indonesia beberapa abad silam (Belanda dan Jepang), kemudian berlanjut hingga orde baru, namun kekerasan seolah-olah menjadi jalan keluar masyarakat yang katanya ramah, santun dan berbudaya.

Krisis Solidaritas

Boleh dikata, krisis solidaritas terjadi karena globalisasi. Paradoks yang dibawanya menghilangkan sisi manusia memandang dunia yang lain. Ruang-ruang sosial menjadi sempit dan melahirkan segregasi yang berbasis etnisitas, dan identitas kelompok. Cara pandang “insider” dan “ousider” selalu hadir dalam sentimen berdasarkan identitas.

Pesona globalisasi telah diikuti dengan nilai-nilai yang memudar. Paling tidak nilai humanisme terganti menjadi dehumanisasi. Globalisasi disatu sisi memang dirayakan, namun disisi lain harus ditangisi, paling tidak pemaknaan atas relasi-relasi sosial yang merenggang. Hal ini bukan tanpa sebab karena globalisasi telah memasuki ruang-ruang yang jauh di masyarakat yang dulunya dianggap “terlarang” semisal seni, budaya, norma dan cara hidup masyarakat.

Bersangkut dengan globalisasi itu, beberapa hal mengapa kekerasan terjadi, pertama, perkembangan manusia ditandai dengan sikap dilema dalam hidup. Mengutip pemikir Edwar Said, dalam tesisnya Orientalisme (2010), menyinggung bahwa perkembangan manusia tengah dilanda oleh kegagalan dan frustasi. Dewasa ini dalam konteks ber-masyarakat terjadi ketidakpastian dalam kondisi sosial, ketimpangan ekonomi serta pereduksian pemaknaan agama, identitas yang akhirnya memicu kekerasan.

Kedua, jika negara dan perangkat-perangkatnya gagal melindungi rakyat. Lemahnya negara juga diikuti dengan menguatnya gerakan-gerakan radikal yang akhirnya menimbulkan kekerasan. Kondisi ini telah membuka kesadaran sekaligus respon atas globalisasi. Kondisi ini disebut meminjam istilah Sindhunata, dilema globalisasi.

Ada orang yang mengatakan prilaku kekerasan dekat dengan kebodohan (sebagai catatan, kebodohan tidak diidentikkan dengan rendahnya pendidikan), karena kekerasan terjadi ketika manusia kehilangan kecerdasannya. Walau istilah itu terkesan sarkastik, hal ini bisa menjadi konfimasi betulkah kita tidak cerdas sehingga mau saja melakukan kekerasan ?.

Share:

Monday, April 4, 2011

Friday, April 1, 2011

Tubuh Filsafat


Tubuh manusia mengandung unsur-unsur filsafat. dari bagian itu, sturuktur dibagi mulai dari kepala, perut hingga agian bawah manusia. tubuh filsafat dibagi menjadi 3 yang terdiri dari kepala yang diwakili oleh filsuf modern kelahiran 31 Maret 1596 - 11 Februari 1650. Rene Descartes, dengan diktum Cogito Ergo Sum, i think therefore i am, aku berfikir maka aku ada. Manusia sebagai subjek menggunakan rasio dalam melihat realitas. Dan tidak salah jika di kepala adalah unsur sentral ditempatkan pada pamikir pencerahan yang satu ini.

bagian kedua, ranah bagian tengah, pemenuhan akan kebutuhan hidup makan dan lain-lain kita tempatkan pada perut sebagai penyangga berfikir. Logika tanpa logistik juga hambar, begitu senior selalu berkata. Siapa yang pantas untuk ditempatkan disini ? tak lain dan tak bukan Filsuf Karl Marx, lahir di Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – meninggal di London, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun. Menurutnya struktur menentukan suprastruktur. Sederhanyanya orang bisa berdoa jika basis dasar sudah terpenuhi. Marx pernah bilang jika perut kenyang maka dunia akan damai.

Bagian ketiga adalah dibawah pusar, terletak dipangkal paha. Istilah kesehatan menyebutnya alat/organ vital. Disini kita tempatkan salah satu filsuf dan tokoh psikoanalisis, Freud. 6 May 1856-23 September 1939. Beberapa teori yang terkenal adalah. oral, anal, dan phallic.

Share: