Sunday, March 27, 2011

Masyarakat tanpa Peradaban


Sebuah peradaban yang perlahan hancur, demikian kutipan Kompas (27/3/2011), edisi minggu ini menyitir kondisi pusat dokumentasi sastra yang merentang dari Jakarta hingga Bali yang perlahan-lahan menuju kehancuran. Masih segar dalam ingatan kondisi pusat dokumentasi sastra (PDS) HB Jassin masih tertatih akibat kekurangan dana perawatan dari pemerintah. Kondisi ini menjalar kekebarapa daerah di Indonesia, ibarat puncak gunung es, kondisi ini hanya sebagian kecil dari banyak pusat dokumentasi yang tak terurus.

Media nasional itu menyinggung kondisi tak terurus merentang dari Makassar, Kendari, Yogyakarta hingga Bali, tidak berbeda jauh dari kondisi pusat dokumentasi HB Jassin, perpusatkan yang menyimpan banyak karya sastra perlahan-lahan menuju kehancuran akibat minimnya dana perawatan.

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang memiliki peradaban. Dan peradaban lahir salah satunya melalui karya sastra. Peradaban tumbuh melalui seni dan sastra, lihat China, India, Jepang dan bangsa Eropa lainnya adalah bangsa yang menghargai sastra. Melapuknya semangat menjaga karya sastra akan melahirkan masyarakat tanpa sastra, masyarakat tanpa peradaban. (Semoga saja tak terjadi demikian).

Sungguh, ironis melihat kenyataan yang ada ketika perpustakaan yang menyimpan karya sastra tak ternilai harganya menuju kehancuran. Kehidupan masyarakat tanpa sastra ibarat masyarakat yang tak jelas asal-usulnya.

Jika Pusat Dokumentasi HB Jassin saja tidak terurus, bagaimana dengan kondisi pusat dokumentasi yang tersebar di daerah lain ?. lantas, jika hancur, kita akan mencari referensi sastra dimana lagi ? haruskah kita terbang ke Belanda yang banyak memindahkan dan rela menyimpan karya sastra Nusantara, ataukah ke Malaysia mencari referensi ? apa kata Malaysia ?

Pengumpulan #koinsastra melalui jejaring sosial mungkin bisa menjadi salah satu cara menyelamatkan dokumentasi sejarah sastra dari kehancuran. Sebuah gerakan meminjam istilah Muhidin M Dahlan, “Gerakan Niratha” agaknya bisa digiatkan di daerah lain untuk menyelamatkan peradaban.

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4
Share:

Saturday, March 26, 2011

Tua nanti...

pertanyaan hari ini, masihkah ada kesempatan kedua kali untuk menemanimu di taman bunga ? saat muda dulu, mengenang masa muda, aku ingin mengajakmu suata nanti jika lewat muda. aku harap ada kesempatan untuk berjalan di sisi taman sambil memandang angsa yang beradu mesra.

aku ingin mengajakmu nanti ketika kita hidup di usia tua. berkeliling di sisi taman. sambil mengharap angsa itu masih ada, atau tergantikan dengan angsa yang lain, juga bunga segar menguncup di pot-pot tanah liat.

aku menunggumu di usia tua, kita mengenang romansa semasa muda. aku harap kita berjalan saat bersama di tua nanti.
Share:

Friday, March 25, 2011

Delusi

Saya telah yakin tetang sejarah, kebenaran akhirnya relatif, sejarah yang dulu dianggap lurus kini tak lagi bisa diyakini secara haqqul yakiin. Yakin seyakin-yakinnya. Sejarah adalah produk pengarang kata Foucault suatu ketika. Sejarah adalah narasi yang dibangun oleh pengarang, oleh penutur yang memiliki kuasa pengetahuan.

Keyakininan hari ini tak memberi garansi akan sebuah kebenaran. Tapi apakah keyakinan yang salah benar-benar salah, seperti yang orang tua saya bilang “tangan kanan adalah paling baik dari tangan kiri” lantas buat apa ada tangan kiri ? jangan-jangan tangan kiri lebih baik dari tangan kanan. Ah, masa bodoh. Semua adalah kebaikan yang didalamnya mengandung keburukan. Berkelindan dalam diri manusia.
Share:

Tuesday, March 22, 2011

Apa yang perempuan harapkan ?


Benarkah ? perempuan dapat bahagia dengan hanya mengharapkan 3 dari sekian banyak pilihan bagi mereka. Sikatnya, perempuan sebagai mahluk rasional memiliki kriteria dalam menjalani kehidupan.

Terlalu sederhana memahami perempuan. Tapi tidak pula sesederhana mengetahui keinginan mereka. Hasrat perempuan menjadi sebuah kontruksi (boleh dikata) baku dalam termilogi sederhana ini. Ada point penting tentang apa yang diinginkan perempuan. Pengetahuan dini saya dapatkan ketika menyempatkan hadir pada kuliah (sit in) dalam kelas Gender. Bisa diketahui kelas gender adalah kelas yang didominasi perempuan-95 persen di kelas itu. Karena kelas sit in (kasarnya peserta gelap) yang saya lakukan hanya mendengar dan mencatat, selebihnya tidak.

Melihat disekeliling saya dominasi perempuan dalam ruang seperti lecture teater, disisi kiri dan kanan saya perempuan ayu nan ramah. Tambah bergairah ikut kelas Gender. Kelas gender adalah kelas untuk semua, saya heran mengapa peserta laki-laki tidak ikut kuliah itu. Padahal gender bukan dikotomikan perempuan secara gen, tapi lebih pada kontruksi sosial budaya. Terlebih akses pendidikan gender. Laki-laki pun bisa belajar. Namun itu bukan persoalan penting bagi saya, karena itu bergantung pada sikap diri atas pilihan-pilihan.

Saya menghitung dalam kelas itu, peseta laki-laki hanya 3, bisa dihitung jari. Peserta laki-laki lainnya hanya duduk manis tak banyak bicara, mungkin inilah yang disebut laki-laki disarang penyamun. Laki-laki diantara puluhan perempuan. Maka suara laki-laki tak berarti dikelas itu.

Tak selang lama, sambil menganalisis konstruksi gender, dari media hingga teks, dosen itu tiba-tiba menghentikan klik pada slide yang bertuliskan. Love, Money, Happy Marriage. Kata-kata kunci itu menurutnya kebutuhan perempuan. Sambil mengutip dari jurnal, dosen itu menguatkan bahwa di cintai, memiliki uang dan perkawinan bahagia paling diinginkan perempuan. Pikiran saya langsung tertuju pada film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts saat itu.

Seakan-akan bahwa LOVE (mencintai dan dicintai) adalah kebutuhan perempuan. Money (uang) sebagai basis materi sangat penting untuk eksistensi perempuan. Kebutuhan yang (hampir) tak terbatas menjadi alasan mengapa perempuan membutuhkan banyak uang. Jadi ingat teman saya berkata “no money no honey” ada uang abang sayang, ada uang abang kutendang”. Tentunya itu hanya candaan tanpa menyudutkan kaumnya.

Happy Marriage, pernikahan yang bahagia adalah bagian yang didambakan perempuan, walau realitas kadang tidak sejalan. Kasus perceraian dan banya kasus KDRT memberi kesan bahwa perempuan tak memiliki berada dalam bayang-bayang keretakan keluarga. Saya pernah membaca BASIS Vol.52 tahun 2003 yang menganalisis Keluarga : Bahtera yang sudah karam ?. tidak mudah memang menjawab tentang bagaimana menjaga perkawinan hingga kakek nenek, tapi perempuan, siapapun itu tak ingin perkawinan karam.

Saya ingin menambahkan bahwa ketika term LOVE, MONEY, HAPPY MARRIAGE, ada satu yang penting yaitu TRAVELLING IN THE WORLD. Perempuan pasti tak ingin melewatkan perjalanan ke Eropa, Benua Pengharapan Amerika, dan Eksotika Timur Tengah…
Share:

Saturday, March 19, 2011

Istana Pasir


kembali mengingat Istana pasir di tepian pantai. Bermodal sekop plastik, kebokan sabun wings dan kerang-kerang. Kita merajutnya, merangkai dan membangunnya bersama. Istana pasir itu berdiri kokoh, setiap sisi dikelilingi empat menara pengintai dan parit pelindung mengeliling satu istana.


Kau seolah-olah hidup seperti Alice in Wonderland. Di negeri Underland itu semua yang hadir hanya fantasi. Dan kaupun larut dalam fantasi dari istana pasir yang kau rajut itu Nayla.

Istana itu terlihat terlihat kokoh tapi sebenarnya rapuh, hempasan ombak dengan sekali hantaman meruntuhkan rumah pasir itu. Kau akan ingat itu Nayla ketika dengan nada kecewa kau melemaskan tubuh dan mengeluarkan sumpah serapah. Tentu kau kecewa!, dengan susah payah, berpeluh kau rajut istana pasirmu. Merangkai satu demi satu hingga berbentuk seperti istana kerajaan abad-17 di Eropa. Diorama istana pasir aku menyebutnya.

Kegembiraan hanya sesaat, ketika tak menyadari ada kesedihan yang ikut menemani hidup kita. Terlalu naif untuk kau mengharap kepastian. Penderitaan dan kebahagiaan adalah entitas yang hidup pada umat manusia. Untuk saat ini kau tak berniat untuk sedih. Begitu juga aku, tapi ketahuilah kesedihan datang memang tanpa permisi. Karna itu kau harus siap. Seperti istana pasir itu. Gelombang tak perlu meminta ijin untuk merebos masuk ke benteng kemudian mengempaskan istana pasirmu menjadi puing-puing.

Tapi di setiap pantai, juga di pantai bersih sekalipun, orang harus memilih. Demikian ungkapan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir.

Ruang untuk membangun istana pasir itu terlalu dekat dengan bibir pantai, ombak yang menderu-deru seperti pesawat tempur yang siap menghujam sasaran. Istana pasir yang (terlihat) kokoh namun (sebenarnya) rapuh tak mampu menahan gelombang sedshyat itu Nayla. Kau akan tahu jika berada di sisi Samudera Hindia. Ombaknya sungguh deras dan gemuruhnya memekakan telinga.

Kau harus memilih ruang dan waktu yang tepat untuk membangun istana pasir.

Untuk saat ini kita harus merapat pada Filsafat Kant, ruang dan waktu ada sebelum kita ada.tanpa manusia ada, ruang dan waktu tetap ada. Meskipun kita merapat pada Kant, tak ayal jika melupakan Hegel dalam konsepnya, Tesis-Antitesis-Sintesis. Hegel mengungkapkan “auffheben” (mengangkat) seperti dikutip Paul Budi Kleden.

Saatnya kau mengangkat puing-puing itu, merajutnya, menganyamnya, merangkainya menjadi satu kembali.

Saya mengutipkan untukmu Paul Budi Kleden, dengan mengutip Hegel, maka suatu kesalahan besar jika individu mementingkan kebahagiaan, yang penting adalah membangun tatanan sosial (sosial order) bukan kebaikan dan kebahagiaan individu.

Kau dan aku akan merajut kembali puing-puing itu yang berserakan itu menjadi istana pasir.

Jogja, 190311

Share:

Wednesday, March 16, 2011

Loro Jongrang dan Bandung Bondowos


Orang biasa menyebutnya Candi Sewu (sewu dalam bahasa Jawa : seribu) tapi sekarang lebih banyak disebut Prambanan. Di kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Di tempat ini bercerita Bandung Bondowoso ksatria penakluk kerajaan Baka. Cerita dimulai dengan penaklukkan kerajaan Baka namun tak berlanjut pada penaklukkan hati Loro Jongrang, putri cantik sang raja.

Orang-orang percaya candi 1000-Prambanan itu dibangun hanya satu malam. Tapi sejarah itu tidak lurus. Terkadang sejarah menjadi teks yang dikonstruksi pengarang, penutur dan pelaku sejarah.

Ketika guide Prambanan mencoba meluruskan dengan sedikit “rasional” bahwa candi Hindu itu di bangun dengan durasi 200 tahun, berbeda dengan mitos yang berkembang, di bangun hanya satu malam dengan jumlah ribuan bala tentara gaib kerajaan Pengging.

(Revitalisasi 1 candi yang rusak akibat hantaman gempa membutuhka 4-5 tahun. Candi pun tak lekas untuk digunakan).

Kata “1000” seperti membilang “yang tak terhingga” kata Goenawan Mohamad. Seperti “1000 janji”, “1000 kata-kata” dan “1000 bintang”. Melukiskan yang tak terhingga dengan bahasa khiasan.

Kita tak harus meninggalkan sejarah, untuk kisah ini, kita harus mengikuti alur, tapi kita belajar perjuangan tentang cinta, keberanian, pengorbanan sekaligus kesiasiaan. Loro Jongrang dan Bandung Bondowoso adalah cerita lahirnya Prambanan. Ia tak mengenal batas ruang, sayang waktu tak bersahabat hingga pertanda kokok ayam, bunyi lesung mengahiri perjuangan cinta Bandung Bondowoso, berakhir pula penaklukkan hati Loro Jongrang itu. Sebuah kisah romantis sekaligus dramatis. Dan di Prambanan akan tersaji lanskap cerita itu.

Menarik kata kunci dari Goenawan Mohamad, “dalam kemengangan mengandung kekalahan”. Seperti kemenangan Bandung Bondowoso atas raja Baka, namun kalah dihadapan syarat sang putri raja Baka, Loro Jongrang. Membangun “1000 Candi" dengan “1 malam”. Adakah yang sia-sia dari kisah ini ? untuk menjawabnya kita harus melihatnya di Prambanan.

Jogja, 16 Maret 2011

Share:

Monday, March 14, 2011

Waktu


Waktu seperti halnya F.Budi Hardiman menjabarkan sebagai arus yang tidak bisa diulang. Waktu pun terus berjalan, tapi ada masa silam, hari ini dan masa depan. Yang nyata adalah waktu kini. Sekejap yang terlewati adalah kenangan, dan waktu berikutnya adalah misteri.

Selanjutnya Budi Hardiman menyusuri rentang waktu sebagai penghayatan atas kehidupan. Kerugian bisa saja menghinggapi manusia. Karena dalam hidup mengandung pilihan dimana dalam pilihan itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi. Manusia rasional memiliki otonomi dalam pilihan itu.

Waktu memang tak memiliki nilai tawar dan tak bisa di tawar-tawar, waktu terus berjalan searah jam dengan hitungan menit, jam, bulan dan tahun. Semua akan terlewati dalam kehidupan ini. Mengisi waktu dengan kreatifitas salah satu ciri diri manusia modern. Rasionalisasi membuatnya terjadi. Jika konsep liberitarian dimasukkan disini, maka waktu adalah musuh terbesar dalam diri manusia. Siapa yang menyia-nyiakan waktu maka akan tergilas dengan manusia-manusia rasional lainnya. Semua memiliki peluang sama. Konsep ini memungkinkan persaingan dengan diri manusia lainnya. kontestasi atas manusia lainnya menjadi keharusan hidup. yang lemah akan tergusur dalam roda hidup manusia rasional.

Ada pepatah Arab bahwa , “Waktu itu laksana pedang, jika tidak kamu yang memotongnya, maka dia akan memenggalmu”. Waktu seolah-olah menjadi lonceng dan menjadi petanda dalam kehidupan. Memang, manusia seakan tak sanggup membilang berapa waktu yang digunakan untuk kegiatan bermanfaat, dan kegiatan yang tidak bermanfaat. Kompleksitas kehidupan memang telah meluruhkan dentang bandul di jam dinding. Pesona dunia yang penuh citra memberi pengaruh atas kesadaran dan ke-lupa-an manusia mengingat waktu, meminjam istilah Einstein, time is relative. Waktu adalah kerelatifan dalam manusia rasional.

Waktu yang memudar, seperti halnya cara mendefenisikannya. Hidup ini singkat maka waktupun menjadi sangat berarti untuk disiasiakan.

Share:

Friday, March 11, 2011

Perempuan tua di antara Tsunami

Seorang wanita renta menepi di jalan
Saat badai berkaki tiga inchi menghuyung bergelombang dan menggulung-gulung
Berlomba menerobos gedung-gedung,
Pelabuhan dan rumah-rumah

Mobil sepertin daun-daun yang diombang ambing lautan
Ayunan mengarah kematian
Sejak itu hidup pun singkat terasa
Perempuan tua itu dengan takzim berdoa pada dewa kehidupan
Singkat saja, untuk merasa dekat pada tuhannya

jogja, 120311
Share:

Thursday, March 10, 2011

Duka yang abadi

Malam ini Jumat, 10 Maret 2011 telinga kiri berdengung kencang. Entah saya percaya mitos atau tidak. Dengungan telinga kiri, bagi orang di kampung saya hal itu bisa menjadi petanda bencana atau musibah. Tapi bagaimana peristiwa itu datang pada saat yang bersamaan. Antara dengungan telinga kiri dan berita duka yang berangkai. Di kampung jauh, di Jeneponto, Anto' (nenek saya) Karaeng Naba meninggal, belum kering air mata datang lagi kakak ipar saya di Kendari kecelakaan. Betapa dunia seakan-akan runtuh. Kakipun tak sanggup lagi menahan tubuh, lunglai. Rebah dan tak memiliki daya untuk bangkit lagi tubuh ini.

Sebenarnya saya ingin meratap, tapi itu tak mungkin, selain saya laki-laki, juga dalam kepercayaan saya yang Islam (pesan Rasulullah Muhammad saw) dilarang untuk meratapi kematian seseorang. Betapa sulitnya malam ini. Saya tak hanya mampu untuk meratap tapi tak mampu juga untuk membaca lagi seperti kebiasaan tiap malam. Membaca beberapa helai buku.

Kematian, duka dan bencana adalah bagian hidup manusia yang tidak terpisahkan. Di balik kebahagiaan juga tersimpan duka, dalam kehidupan ada kematian yang setiap saat manusia mengalaminya. Kehidupan adalah misteri begitu juga kematian itu.

Malam ini, hujan perlahan-lahan menemani duka saya. Remuk redam kedasar duka yang paling dalam. saya tak mampu bagemana harus mengeluarkan air mata ini. Menahannya untuk pecah pun tak sanggup malah membuat hati sesak. Tapi bagaimana pun saya harus kuat (dan itulah laki-laki) pantang untuk mengeluarkan air mata.

Duka yang abadi. Terlalu cepat untuk merasa ber-duka, terlalu awal menyimpulkan untuk larut dalam kedukaan ini. Saya pernah membaca buku Membongkar Derita (teodice) karya Paul Budi Kleden, yang menurutnya penderitaan harus direfleksikan dengan berfikir. Refleksi ini ibarat penyadaran hakikat manusia dalam penyusuran titian kayu, sebuah jembatan darurat. Begitu menurutnya.

Saya harus merasionalkan ke-duka-an ini walau sulit. Namun pasti menemukan jalan daru titian kayu dan jembatan darurat itu untuk keluar dari masa suram.

Tak mampu melepasnya
Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa
masih memilikinya

Rasa kehilangan
hanya akan ada
Jika kau pernah
merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira
kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya
dengan sepenuh jiwa

Rasa kehilangan
hanya akan ada
Jika kau pernah
merasa memilikinya. Letto, memiliki kehilangan

Share: