Monday, January 31, 2011

Merayakan Kebebasan



selama seminggu bersemedi dan membaca teori-teori yang membosankan, berlembar-lembar makalah sudah habis terlahap hari ini. akhirnya menemukan juga kebebasan setelah seminggu mengunci diri, sekarang waktunya merayakan kebebasan dari seorang pencari ilmu. menonton film, keliling-keliling Jogja menjadi ajang pelampiasan (kalo bisa dibilang balas dendam...hehehe).

orang bebas adalah orang yang terbebas dari segala hambatan, dan bagaimana melepaskan beban. maka disitulah menemukan arti dari kebebasan. orang bebas adalah orang merdeka. kebebasan memerlukan keleluasaan menentukan pilihan-pilihan maka saya pun menjadi orang bebas. pilihan ada ditangan saya...:)

selamat tinggal semester 1, saya bebas sekarang (tak lupa sujud syukur tentunya)....
Share:

Saturday, January 22, 2011

Euforia Highlight Kompasiana


saya bersyukur jejaring sosial besar kompasiana masih menyepatkan diri saya nangkring di HL (walau sekali) dan Higlight (dua kali)...betapa senang hati ini....jadi semangat untuk menulis (walau bukan itu alasan utama)...yang saya akan lakukan adalah hanya menulis. itu saja, selebihnya tidak....


Share:

Thursday, January 20, 2011

Nayla : masih tempat yang sama


Nayla, kita masih ditempat yang sama

Hey apa kabar gadis kecil ?

Mungkin aku terlalu tua mengenang wajahmu. Sampai-sampai roman dan aroma tubuhmu serasa hambar sekarang. Tapi aku selalu berharap dapat menemuimu suatu saat dengan lollypop dan kembang gula kesukaanmu.

Kita masih di tempat yang sama Nayla. Ruang kita sama : Satu Bumi

Tapi perasaan kita yang berbeda, kau masih kanak-kanak untuk merasakan rindu, sedangkan aku sudah tua (merasa tua) dan lelah untuk berkata “aku sangat merindukanmu”.

Jarak dan waktu meluruhkan kebersaamaan kita

Memang, Kita harus bertanya lagi pada Einstein tentang relatifasnya, waktu tidak berjalan linear aku pikir tapi waktu.

Aku disini masih pagi, matahari belum cukup waktu mengucapkan selamat pagi. Disana kamu sudah terlelap dengan wangi malam.

Aku ingin menemuimu malam ini, (harapanku) menemuimu untuk mengecup ubun-ubunmu yang selalu berbando merah jambu.

Kau suka memperhatikan jenggot tipisku, selalu juga sibuk memperhatikan kerah bajuku. Tapi itu hanya dengan ucapan saja :

“om tampan” walau aku tau caramu, (saya tahu karena kamu ingin ice krim kan ?). (anak kecil terkadang jujur tapi disisi lain juga bisa tak sesuai kata hati. Tergantung mood)

Nayla, entah sebesar apa kamu sekarang ?

Tak pernah lagi memberi kabar, apakah engkau tak mengaggap lagi sebuah kebersamaan ? atau waktu yang meluruhkanmu ? menihilkanmu pada diriku ?

Kau harus ingat Nayla,

Kita masih ditempat yang sama : Satu Bumi, beda kerinduan.


Jogja, 210111

Share:

pada tempat yang sama


masih seperti sebelum-sebelumnya, menyelesaikan tugas sebagai hamba, sebagai mahasiswa s2, dan sebagai manusia yang prihatin pada realitas.

saya akhirnya menyadari, bahwa apa yang saya cari disini, di Jogja adalah pembelajaran kedua yang membuat saya banyak belajar kesederhanaan dan kesehajaan, berbeda sebelumnya ketika saya di rumah di kendari, atau di Makassar, betapa hidup itu penuh kelebihan (paling tidak) semua serba berlebih.

tidak akan menyangka akan seperti ini, di tempat yang sama dengan batin saya yang selalu 'prihatin' terhadap realitas sosial, paling tidak sensifitas saya sebagai mahasiswa dan manusia yang (katanya) beragama harus di uji dalam kesadaran religius atau apapun namanya.

pada tempat ini bergumul dengan orang-orang yang sederhana, entah itu hanya kebetulan, gaya hidup atau karena filosofi hidup Jawa (khususnya Jogja) memberi warna berbeda bahwa memang layak disebut ia Istimewa, entahlah...

paling tidak sisi keprihatinan memang dibutuhkan pada diri saya yang selalu mau nampak lebih sebelumnya...

latihan keprihatinan hari ini cukup sampai disini, akan berlanjut dalam keprihatinan berikutnya

Jogja, 210111
Share:

Wednesday, January 19, 2011

Terhanyut Nestapa



saya tidak tahu mengapa malam ini terlihat cerah namun mendung menghiasi perasaan. saya terhanyut dalam kesepian seperti ini. ada yang tidak saya mengerti ketika perasaan kadang datang dengan tiba-tiba. perlahan mengalir kedalam lambung dan akhirnya asam lambung menyebar keseluruh badan. malam ini psikis saya sedang jatuh.

terhanyut pada suasan yang tidak kumengerti. masalahnya pun tidak kumengerti. aneh. mungkin saja beban psikis atau saya sudah dalam taraf depresi ? ah tidak. saya tidak mau begitu dan memang tidak pernah terjadi seperti itu. tapi akhir-akhir ini beban kuliah memang menumpuk.

tidak sanggup lagi jari menekan tuts, tak bisa lagi kompromi dengan buku, tak bisa melakukan apa-apa....tak ada lagi

mungkin sudah saatnya istirah sejenak dari kehidupan...
Share:

Saturday, January 8, 2011

Antara Barbie, Upin, Bobo


Gadis kecil itu meraih majalah bersampul boneka pirang, bermata hijau, bergaun sedikit feminim. Persis, di deretan itu (Majalah Barbie) terdapat Upin & Ipin dan beberapa majalah anak-anak.

“Bunda, aku milih barbie aja, boleh nggak ?,” pinta gadis kecil kepada ibunya.

“Boleh sayang”

“ Upin & ipin nggak mau ?” ibunya mencoba meyakinkannya.

Perempuan kecil itu hanya menggeleng tidak!.

Beda dengan anak kecil dulu yang suka membaca Bobo, si kelinci biru teman bermain dan membaca. Namun sekarang, telah berbeda jauh. Anak-anak lebih suka membaca dengan citra populer (Barbie dan Upin & Ipin sebagai contoh).

Imajinasi anak kceil sudah di konstruksi oleh barbie. Citra-citra produk global semisal Barbie menjadi menarik sekarang, dimana Barbie menjadi teman bermain anak-anak yang merepresentasikan kehidupan modern, dan kelimpahruahan harta.

Barbie seolah menjadi fakta kehidupan dan anak kecil itupun ingin (meniru) seperti halnya kehidupan Barbie, dan akhirnya larut dalam dunia hiperealitas Barbie. Kontruksi dan rekonstruksi atas realitas yang akhirnya menjadi hiperialitas. Dan akhirnya citra Barbie laku dipasar. Anak kecil itu sebagai contoh, tidak hanya dia yang mengkonsumsi Barbie tapi ratusan anak bahkan ribuan anak kecil di Indonesia “terhegemoni” dengan Barbie.

Imajinasi orang desa pun beda, yang ada hanya adalah Upin & Ipin. 2 bocah gundul ini menggemaskan dan sarat dengan nuansa kesehajaan dengan muatan pendidikan. toh, Upin dan Upin masih mampu berlari kencang bersaing dengan Berbie.

Kemana si kelinci kecil ?

Dalam jejeran rak buku itu memang hanya terselip majalah Barbie, Upin & Ipin dan beberapa majalah anak-anak. Tapi mengapa Bobo yang begitu diminati dan terlaris (dulu), kini tak bersanding dengan majalah anak-anak lainnya ?. Timbul perasaan heran dan mencari tahu mengapa hilang dari peredaran atau majalah yang pernah pepuler ini sedang di-ninabobo-kan? Penasaran pun bertambah, akhrinya mengelilingi rak buku yang berisi majalah anak-anak, tapi bobo, si kelinci biru tak bertengger di sudut rak. Tak satupun.

Saya pun mengakhiri pencarian itu dan berharap bisa menemukannya di toko loakan (akhirnya saya menemukan edisi tahun 2006, itupun di toko buku bekas).

Bobo, Si kelinci tak lagi mampu berlari kencang, sekencang Barbie dan Upin & Ipin. Tak gesit lagi menentang arus global dan akhirnya kalah. Ibarat kontestan lomba, pemenangnya adalah Barbie dan Upin. Si kelinci hanya penggembira. Tak salah jika Bobo hanya bisa didapatkan di toko buku bekas bukan toko buku di mal dan tempat belanja lainnya.

Share: