Tuesday, August 24, 2010

Mudik Tak Sekedar Tradisi…


Setiap menjelang hari raya keagamaan selalu menyajikan cerita tentang ritual sosial yang dilakukan sejak beratus-ratus tahun oleh masyarakat Indonesia. Ritual sosial ini biasa disebut dengan mudik. Sebagai bentuk ritual sosial, mudik telah menjadi identitas dan agenda tahunan yang tidak terelakkan setiap menjelang hari raya.  Gerak kembali ke asal ini merupakan potret dialektika sosial yang sudah berlangsung berabad-abad silam. Entitas ini tidak hanya sebatas tradisi, namun ada makna lain yang menarik untuk dicermati. Mengapa masyarakat tetap rela bersusah-susah diri menjalankan tradisi ini hingga tak mengenal lagi rasa lelah, berdesak-desakan, tidak peduli krisis ekonomi bahkan resiko kemacetan sekalipun? Bisa jadi ini pertanda bahwa mudik tidak hanya cukup dikatakan sekedar tradisi biasa, namun ada spirit religiutas yang mendorong setiap orang untuk melakukannya.  Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah berkata, timbulnya upacara mudik berguna untuk mengenang asal-usul dan tujuan hidup, dan mudik yang paling efektif adalah seusai Ramadhan, selain bersilaturahim pada saat Lebaran, adalah waktu yang tepat apabila untuk mengenang sejenak asal-usul sosial budaya dikampung bersama keluarga. Hasil jajak pendapat tentang perayaan hari lebaran dan hari-hari raya lainnya menguatkan hal ini, hasil jajak pendapat itu menunjukkan, kampung memiliki nilai persentasi 57,5 persen (kompas, 19/12/2009).
Share:

lelaki yang mengagumi dari jauh

Lelaki itu merasa mencintai tapi tak dicintai. Digantung harap. semua cerita itu pernah ia alami.

laki-laki datang padaku sore ini,bercerita tentang sosok perempuan yang selalu dipujanya. Lelaki itu sangat memuja perempuan yang disebutnya the moon kadang juga disebutnya the little girl.Wajahnya adalah rembulan malam, keteduhan matanya adalah cahaya. Seperti bocahyang ranum. Memandangnya tak pernah bosan. Perempuan itu yang telah mengalihkan hari harinya. Mengalihkan dunia laki-laki itu. the moon itu kini melebihi dari dunia laki-laki itu.

Namun kini ia tertinggal jauh dalam harapan. Kegamangangan nampak pada rona wajah laki-laki itu. Seketika Ia menyerahkan hanphonenya, aku tak tahu maksudnya. Namun ia memberi isyarat untuk membaca pesan dari pesan singkat perempuan yang disebutnya the moon itu untuk kubaca.

"Kakakku yang sangat kukagumi...aku sadar waktu kemarin kau meneleponku. sejak itu aku bisa tahu bahwa kiranya lebih baik sebagai sahabat. Sulit memang menerima kenyataan ini karena banyak faktor perbedaan. Jujur aku banyak belajar banyak tentang kamu...belajar melupakan perasaanmu padaku. Karena sangat tidak mungkin...
 
Salam sahabat..."

Share: