Tuesday, October 10, 2017

Bertandang Ke Hutan Kota UNHAS

Hari masih pagi ketika saya bersama keluarga inti (Saya, istri dan anak) menghabiskan waktu di kampus almamater, Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar Sulawesi Selatan. Sebagai alumni, kami satu suara mengajak anak melihat tempat kami menimba ilmu. Tidak saja untuk beromantika tetapi melihat perubahan dan inovasi di kampus itu. Saya alumni Sosiologi FISIP, istri saya di Fakultas Pertanian. Kami merasa tidak afdhol rasanya jika tak menyempatkan waktu berkeliling kampus. Tempat kami menempa kualitas diri.

**
Ada yang baru. Sebuah hutan (pendidikan). Dulu, dulu sekali kampus itu juga ditumbuhi pepohonan. Namun sayangnya tidak tertata. Sekarang sudah jauh berbeda. Jauh sekali. Penataan sangat nampak di kiri kanan kampus. Unhas nampaknya telah berlari kencang mengejar ketertinggalan dari kampus-kampus pulau Jawa. Tidak hanya sibuk dengan pembangunan fisik dan pengajaran namun estetika kampus juga ikut ditingkatkan. 

Saya takjub dengan salah satu elemen kampus itu: taman kota atau hutan kota yang berada di dalam kampus tertata dengan indah. Maklum, di tengah maraknya konversi lahan/hutan, pimpinan kampus ini memikirkan bagaimana menghadirkan keteduhan dan ketenangan diantara bisingnya kendaraan kota dan acuhnya warga kotanya Makassar. Saya percaya, ini adalah salah satu kampus terindah di Indonesia.   

Hutan ini, secara langsung atau tidak, telah menjadi tempat ‘terapi’ bagi warga kota Makassar yang penat dengan tumpukan tugas pekerjaan dan lingkungan kota yang serba organis dan penuh penuh polusi. 

Membaca media cetak lokal, Fajar menyoal tentang masyarakat kota yang dihantui dengan depresi. tidak tanggung-tanggung koran itu menempatkan isu tersebut sebagai headline tiga hari berturut-turut. Saya membaca opini seorang dokter muda di koran itu, bahwa tingkat depresi di Sulawesi Selatan sangat tinggi dengan mengutip hasil riset tahun 2012 bahwa sebanyak 533.721 Orang di Sulawesi Selatan mengalami depresi. 

Ini menandakan bahwa depresi membutuhkan jalan keluar. Berbelanja di mall bukanlah salah satu cara menenangkan diri (bagi yang punya uang mungkin iya, tapi bagaimana yang tidak memiliki?), 

Hematnya adalah berkunjung ke alam terbuka (hutan, danau dan gunung). Selain dapat menghirup udara segar pengunjung tak perlu membayar alias gratis. Toh, kita tetap bisa ber-swafoto.

Saya percaya, menghabiskan waktu di alam bisa menjadi obat terbaik menghilangkan stres yang ujungnya menjadi depresi. 

Dan salah satu spot terbaik menghilangkan stres itu adalah hutan kota Unhas.

Terbukti, saban hari, dari remaja hingga orang tua. Tak lelah menghabiskan waktu di hutan kota itu. Ada yang ber-swafoto, ada juga yang berkemompok melakukan senam sore. Unhas sebagai oase. Menghadirkan keteduhan dan kesejukan di antara gedung-gedung tinggi. Pimpinan Unhas menyadari itu sebagai bagian dari tri dharma. Pimpinannya juga cerdas memikirkan strategi pemasaran, Unhas membangun citra bahwa dengan berubah menjadi BLU tidak lantas fasilitas dinomor-tiga-kan, kualitas pendidikan seiring sejalan dengan peningkatan fasilitas pendukung. 

UNHAS berusaha mengatakan, BLU adalah jalan untuk berubah menjadi kampus berkualitas, berwawasan lingkungan dan terdepan dalam pelayanan pendidikan.

Segala elemen dipermak sedemikian rupa menghadirkan UNHAS BARU dan mengikis opini negatif tentang BLU yang serba mahal. Taman Kota/hutan kota sebagai ornamen kampus adalah cara meningkatkan citra positif kampus itu. dan tidak ada yang salah, kampus-kampus terkenal di pulau Jawa melakukan hal yang sama. Pendidikan adalah bisnis yang prospektif.

**
Akhirnya, berlama-lama di hutan kota Unhas membuat kami lupa menjejali tempat-tempat ‘bersejarah’ ketika kami masih aktif kuliah dulu. Saya ingat, sebagai napak tilas saya selalu berawal dari RAMSIS, FISIP, FKI BEM FISIP, HMI FISIP, Kemasos (Himpunan mahasiswa Sosiologi) EBS Unhas, Lapangan Bola, dan Pintu II (sekarang tidak seru, tidak ada kedai baca dan kedai Sarabba’). Sedangkan istri saya, memulainya di Telkomas, Pertanian, lalu…(selebihnya tidak tahu karena kami memang tidak pernah sebelumnya bertemu di kampus, konon katanya kembang Fakultas Pertanian. konon).

Kami bertemu setelah menjadi alumni. Ya, nasib adalah kesunyian masing-masing kata Chairil Anwar. Nasib pula yang membawa kami bernostalgia di kampus rindang ini. 


Anak Kami Zahra Sedang Memberi Pakan Rusa Totol di Penangkaran Unhas

Jalan Setapak Hutan Kota Unhas (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Hutan Kota Spot Bagus Untuk Pengambilan Gambar

Jalan Setapak Hutan Kota Unhas (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Swafoto di Hutan Kota Unhas (


Share:

Wednesday, August 23, 2017

Mengabdi Sampai Jauh

Menjadi Dosen memang dituntut pengabdian. Selain mengajar, tugas tambahan seorang pengajar di kampus adalah meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Ketiga tugas akademik itu diberi nama Tri Dharma.

**
Salah satu kebaikan itu saya emban sekarang ini. Melakukan pengabdian kepada masyarakat. Saya diamanahkan sebagai Dosen pendamping lapangan mahasiswa KKN di kampus (di kampus saya, Unismuh Kendari menyebutnya Kuliah Kerja Amaliah, KKA). 

Setelah beberapa hari pembekalan, akhirnya rombongan Kuliah Kerja diberangkatkan ke Kabupaten Kolaka Timur. Arahnya menuju kabupaten yang baru beberapa tahun mekar. 

Saya menumpang kendaraan milik kolega di kampus. Sesampai di lokasi kami memutuskan untuk berpisah sesuai dengan lokasi penempatan masing-masing. Kami dibagi beberapa lokasi/desa yang tersebar di di Kabupaten Kolaka Timur. Saya kemudian mengumpulkan anak-anak mahasiswa bimbingan saya menuju lokasi selepas diterima oleh pejabat setempat.

Hari semakin sore, mobil yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Mobil pick-up bermerek Suzuki dengan ban yang sudah diganti jenis radial, jenis ban yang cocok untuk arena off-road. Kami pun bergegas menuju lokasi penempatan di salah satu rumah Pak Dusun. Wunggoloko nama desanya. Tempat itu berada di Kecamatan Ladongi dimana sumber daya alam seperti beras, sayur-mayur dan juga rempah-rempah tumbuh melimpah. Desa yang kami tuju itu berjarak 9 km dari ibukota kecamatan. Dengan jalan seperti kubangan. Bisa dibayangkan semenarik apa perjalanan kami. 

Dan memang perjalanan memang menarik. kiri kanan hanya hamparan sawah. Irigasi yang tak pernah kering dan burung-burung sawah yang tak henti melintas di atas sawah petani. 

Saya ingin berbicara panjang tapi urung. Cukup foto-foto dari HP mahasiswa bimbingan saya mewakili. Kepada mereka saya berucap terimakasih banyak atas semangat dan foto-fotonya:







Share:

Friday, July 14, 2017

Pesan

Kira-kira apa yang dirasakan ketika si-pengirim berkali-kali mengirim pesan namun tak sampai pada si-penerima? Marah, gundah, penasaran hingga benci dengan segala turunannya akan terjadi?

Si-pengirim mengirim pesan namun hanya numpang lewat. Dia hanya menunggu penuh harap kiranya ada balasan. Namun tak pernah ada notifikasi read atau centang apalagi dibaca seksama.

Berkali-kali pesan yang disampaikan lewat SMS atau Surat dan e-mail dan media lainnya tapi tak berbalas. 

Rachel Platten dalam lagunya 1000 ships menggambarkan menunggu balasan pesan seperti ini:
...So keep your eyes set on the horizon
On the line where blue meets blue
And I would let that silver lining
Where I know it'd find you soon

Lagunya ceria,menandakan sang biduan mencoba meyakinkan diri dan berjiwa besar bahwa Pesannya akan sampai sekalipun ribuan pesan terkirim. Ini hanya persoalan waktu.

Tentang pesan. Orang selalu mengandalkan sebagai media bertukar informasi melalui media online atau offline ketika wajah dan wajah tidak bertemu.

Google translator mengartikan pesan sebagai a verbal, written, or recorded communication sent to or left for a recipient who cannot be contacted directly. Sebuah ujaran, tulisan, atau rekaman komunikasi dikirim atau disimpan kepada si penerima yang tidak dilakukan secara langsung. Kamus online Dictionary.com menambahkannya dengan kata signal. a communication passed or sent by speech, in writing, by signals, etc.

Singkatnya, pesan itu termediasi, ada media sebagai pengatar. Entah, surat, suara dan ujaran yang terekam (pesan suara).

Rachel mengirim pesan bertubi-tubi:
Because I have sailed a 1000 ships to you
But my messages don't seem to make it through.
Itulah mengapa pesan selalu tersimpan, terekam, tercatat dalam surat dan rekaman. 

Mungkin ada yang pernah mengalami, Pesan yang terkirim tidak pernah dibalas atau malah tidak terbaca.Seperti Saya ketika mengirim email kepada Professor Universitas di luar negeri namun tidak penah ada balasan. ingin rasanya berkata: sakitnya tuh di sini (sambil menunjuk tembok :D). Ini soal waktu saja bukan?
Share:

Tuesday, June 27, 2017

Lebaran; Kenangan, Kisah dan Kue Nastar

Setiap penganan yang tersaji di meja saat lebaran tidak lepas dari cerita dan kenangan. Sebagian orang merindukan ketupat atau burasa’ (sejenis makanan tradisional dari campuran beras dan santan), opor ayam dan gulai. Lainnya mengidamkan kue kering yang renyah dan teh panas buatan tangan. Yang terakhir ini selalu menemukan bentuk pasnya: kue lebaran plus teh panas.

Tak heran jika banyak orang melakukan mudik. Orang ingin bernostalgia, mengingat masa kanak-kanak juga mengingat cerita yang lewat; mengaji di surau, bermain di tanah lapang, berlari di pematang sawah dan menceburkan diri ke sungai di kala terik hingga matahari beringsut. Menjelang magrib, tertata beragam kue tradisional menghiasi meja sebagai pengantar berbuka yang manis. Setelah itu, ikan bakar dan nasi panas plus sayur beningnya bercampur dalam kunyah renyah di mulut. Selang beberapa menit, perut sudah membuncit, dan biasanya lupa untuk tarawih.

Sepenggal kisah ini yang sulit untuk dilupakan orang, maka mudik adalah salah satu cara untuk mengulang kisah itu. 

***



Bagi saya, lebaran yang saya paling tunggu-tunggu adalah kue. Iya kue. Kue basah dan kering. Saya memang penggila kue. Sejak kecil. Ketika lebaran, kue kering yang menjadi idola saya ketika kecil adalah kue putu kering, kue campuran dari kacang hijau yang ditumbuk halus dan dicampur gula putih halus kemudian di bentuk di cetakan kayu. Bentuknya memanjang. Maklum di kampong saya, orang-orang desa hanya mengenal itu. Kue berbahan mentega masih langka waktu itu.

Tahun berlalu. Saya pun besar dan menikah. Kebiasaan makan kue kering tetap tidak berubah, namun jenis kue berubah. Dari kue putu menjadi kue nastar. Kue terakhir yang disebut ini memang mengundang selera. Dibuat dari campuran mentega, terigu, gula, dibentuk bulat dan diisi dengan selai nanas, dan diatas kue ditaburi parutan keju. Bisa dicurigai bahwa ada sentuhan modern atau kalo tidak mau disebut bahwa kue itu bukan asli produk masyarakat Indonesia. 

Kue ini memang menyihir saya. Setiap lebaran, kue permintaan saya hanya satu: Nastar. 

Saya penasaran, saya kemudian menguliknya di google dan menemukan nukilan penjelasan dari salah satu blog cookbakeeatlove.com. Ia mengatakan bahwa:
The origin or history of "nastar" turned out to be quite unique. "Nastar" is taken from a foreign language "nastaart" which means (pineapple cake). In English known as pineapple tarts, or pineapple nastar roll. The Sundanese (people in Bandung-Indonesia) call it "Jeung malignant tarigu" which means pineapple and wheat. In Indonesia Nastar considered as favorite treat during Lebaran (Eid celebration) and Christmas. Nastar cookies has long been an item in which must be presented at the Chinese New Year (Lunar / Chinese New Year). The main reason is because the Hokkien language, means "ong lai" (which means golden pear), also has the meaning of "prosperity to come here", fortune, and luck. In addition, gold color and a sweet and soft pineapple filling symbolized abundant. Moreover, the more filling you have so the more abundant affluent you will get.
Kesimpulannya, bahwa kue Nastar, adalah akulturasi budaya, China, Barat dan Asia yang disajikan pada saat-saat hari libur dan acara besar keagamaan. Orang Bule membuatnya di hari natal atau libur, orang Tioghoa membuatnya saat Tahun Baru Cina. Dan orang Muslim seperti Indonesia membuatnya di kala Idul Fitri Datang.

Laman Wikipedia menyebut, Nastar termasuk dalam jenis pastry. Jenis kue yang saya tidak tahu apa maksudnya (saya harus menyanyakan istri saya, ipar atau teman saya yang chef pastry, Teh Ocha). Kue ini banyak di jumpai di Asia, Australia, Eropa dan Daratan China. 

Ini berarti perjalanan kue nastar membutuhkan waktu lama yang kemudian bercampur dalam budaya asli. Di Indonesia, Nastar menjadi langganan kue idul fitri. Sebuah perpaduan asin-manis seperti dalam bahasa iklan rasanya nano-nano. Asin dari parutan keju. Rasa manis dan sedikit asam berasal dari sari nanas. Kue ini melintasi ruang dan waktu juga ras dan budaya. 

Percampuran makanan di Indonesia memperlihatkan Indonesia itu beragam. Melebihi sekat asli dan tidak asli, pribumi dan non-pribumi (Majalah Historia 2017). Keragaman itu datang dengan jalan kolonialisme atau jalur perdagangan di zaman lampau. 

Seperti Nastar, dia hasil dari keragaman asal budaya. Mungkin, itulah mengapa rasanya pun beragam. 

Selamat berlebaran, selamat menikmati kue Nastar ☺☺.
Share:

Friday, June 23, 2017

Proposal kepada Allah

Ramadhan telah usai dan kepada Allah saya meminta dengan harap pertemukan hamba dengan ramadan-Mu tahun depan tanpa kekurangan sedikitpun keluarga hamba. Saya ingin berdoa seperti RasulMu Muhammad SAW berdoa di akhir ramadan:

“Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya & bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga aku dapat kembali bertemu dgn Ramadhan mendatang dalam keadaan penuh harapan & kesejahteraan.”




Share: